
Happy reading...
Tiga hari telah berlalu, saat ini Tina, Raka dan juga kedua orang tuanya akan pulang ke Indonesia. Mereka juga sudah cukup mengenal keluarga dari Tuan Chayan, apalagi Tina diterima baik di sana. Ditambah, Tuan Chayan juga sangat menyayangi Cahaya.
"Apakah nanti Papa boleh ke indonesia, bertemu dengan Cahaya lagi?" tanya Tuan Chayan saat mengantar Raka dan keluarganya ke Bandara.
"Tentu saja, Pah. Kami pasti menantikan kehadiran Papa. Iya 'kan sayang?" tanya Raka kepada Tina, dan wanita itu langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan kepada Tuan Chayan, mereka pun masuk ke dalam Bandara, karena sebentar lagi pesawat juga akan lepas landing. Sejujurnya Tuan Chayan sangat senang dengan keberadaan Tina dan juga Cahaya di sana, namun dia juga tidak bisa memaksa mereka untuk menetap di Thailand.
.
.
Saat ini Ardi tengah berada di jalan untuk menuju proyek, di mana dia akan memantaunya. Akan tetapi, pria itu tidak sadar jika ada satu buah mobil yang tengah mengikuti dirinya.
Hingga pas di jalanan yang sepi, mobil itu terus memepet ke arah Ardi, membuat pria tampan tersebut merasa heran.
"Siapa mereka? Kenapa aku merasa mereka bukanlah orang yang baik?" gumam Ardi.
Dia terus melajukan mobilnya namun, mobil itu terus saja mengejarnya. Hingga satu orang keluar dari mobil dan mengarahkan pistolnya ke ban mobil milik Ardi, sehingga membuat kendaraan itu sedikit oleng, dan hal tersebut dimanfaatkan oleh mereka.
"Sial! Mereka berani menembak ban mobilku!" geram Ardi saat mulai tidak bisa mengendalikannya.
Kesempatan itu membuat dua orang pria yang berada di mobil satunya lagi tersenyum menyeringai, kemudian mereka menyenggol mobil Ardi sehingga membuat pria itu kesulitan untuk mengelak.
"Terus pepet diax sampai pria itu benar-benar mengalami kecelakaan!" titah pria yang satunya kepada temannya.
Mereka terus saja memepet mobil Ardi, dan pria itu terus mengelak. Apalagi Ardi tidak memiliki senjata, hingga tanpa sadar mobil dia pun menabrak pohon, sehingga membuat pria itu seketika tidak sadarkan diri karena benturan yang keras, sampai asap keluar dari kap mobil.
Melihat mobil Ardi sudah hancur setengah badan, dua orang pria itu pun keluar dari mobil, lalu yang satunya menelpon seseorang.
__ADS_1
"Halo bos, kami sudah mengerjakan tugas. Dia kecelakaan, dan mungkin keadaannya juga sudah parah." Setelah mengatakan itu, telepon pun terputus. Kemudian dua pria tersebut meninggalkan Ardi.
.
.
Saat ini Mentari sedang memasak makan siang, karena dia berencana untuk mengantarkannya ke kantor Ardi. Namun tiba-tiba saja foto dia, Luke dan juga Ardi jatuh, sehingga membuat Mentari terjingkat kaget.
"Astagfirullah! Ini kenapa fotonya jatuh ya? Padahal nggak ada angin, nggak ada gempa juga? Ya Allah, ada apa ini? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak?" ucap Mentari dengan nada yang lirih.
Dia pun membereskan foto tersebut. Namun tiba-tiba saja tangannya tertusuk oleh kaca yang pecah dari foto itu, membuat Mentari seketika kepikiran pada Ardi.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Luke terlebih dahulu untuk memastikan keadaan putranya, dan ternyata Nana mengatakan, jika Luke baik-baik saja. Itu membuat Mentari benar-benar sangat lega.
Setelah mengetahui keadaan putranya, Mentari pun menelpon Ardi. Namun dua kali panggilan tidak dijawab oleh pria itu, dan saat Mentari menelpon kembali, nomornya sudah tidak aktif. Itu membuat Mentari benar-benar sangat khawatir.
"Ya Allah Mas, kamu ke mana? Baru saja kita berbaikan, tapi kenapa sekarang kamu malah membuatku cemas seperti ini?" Mentari bermodolog pada dirinya sendiri, sambil mondar-mandir di dapur dengan perasaannya khawatir.
"Assalamualaikum," ucap mama Ranti saat masuk ke dalam rumah milik Ardi.
Namun tidak ada yang menjawabnya, wanita paruh baya tersebut pun masuk ke dalam rumah. Dan saat dia sampai di dapur, mama Ranti melihat Mentari sedang mondar-mandir dengan wajah yang terlihat cemas.
"Mentari," panggil mama Ranti.
Wanita itu terjingkat kaget saat mendengar panggilan mertuanya. Dia tidak tahu jika mama Ranti datang, kemudian Mentari langsung mencium tangan mama Ranti.
"Mama maaf, tadi Mentari tidak mendengar Mama datang," ucap Mentari.
"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu terlihat begitu cemas?" tanya mama Ranti dengan heran.
"Aku nggak tahu, Mah, perasaanku tiba-tiba saja tidak enak pada mas Ardi. Terus tadi di foto ini jatuh, padahal tidak ada angin ataupun gempa. Dan seketika aku benar-benar merasa khawatir dengan mas Ardi, Mah. Aku telepon, tapi nomornya sudah tidak aktif. Aku harus ke kantornya Mah, untuk memastikan keadaannya," jelas Mentari.
__ADS_1
Namun saat wanita itu akan pergi meninggalkan meja makan, tiba-tiba ponselnya berdering, tetapi nomor yang masuk tidak tertera.
"Siapa yang menelpon, Ardi?" tanya mama Ranti. Namun Mentari langsung menggelengkan kepalanya
"Bukan Mah! Nomornya tidak ada namanya," jawab Mentari, kemudian dia mengangkat telepon tersebut.
"Iya halo," ucap Mentari setelah telepon tersambung.
"Iya, saya sendiri. Ada apa ya?" tanya Mentari pada seseorang di seberang telepon.
"Apa! Kecelakaan? Iya, iya, saya akan ke sana sekarang," tuturnya dengan panik, setelah itu telepon pun terputus.
Tubuh wanita itu seketika merosot ke lantai, saat Mentari mendapatkan kabar yang begitu mengejutkan. Dan itu membuat mama Ranti merasa bingung, sebab dia tadi mendengar kata kecelakaan. Wanita itu juga tiba-tiba saja merasa perasaannya tidak enak.
"Ada apa, Nak? Siapa yang kecelakaan?" desak mama Ranti.
Mentari tidak bisa lagi menahan air matanya, kemudian dia memeluk tubuh mama Ranti. 'Mas Ardi, Mah, dia ... Tmtadi pihak rumah sakit telepon, jika mas Ardi kecelakaan, sekarang dia ada di sana," jawab Mentari dengan suara yang purau.
Mama Ranti yang mendengar itu twntu saja sangat syok. Dadanya berdetak dengan kencang, saat mendengar keadaan putranya. Tubuhnya seketika menjadi lemas, dia memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Kita ke sana sekarang! Mama ingin melihat keadaan Ardi," ucap mama Ranti dengan air mata yang sudah lolos membasahi pipi.
Kedua wanita itu pun pergi, tetapi tidak menyetir mobil sendiri. Mereka diantar oleh sopir dari keluarga Anjasmara, sebab mama Ranti tidak ingin Mentari menyetir dalam keadaan mental yang sedang jatuh.
Tentu saja rasa takut seketika menyeruak di dalam hati kedua wanita tersebut tentang keadaan Ardi, dan saat sampai di rumah sakit, ternyata Ardi masih berada di UGD.
"Mah, aku khawatir dengan keadaan mas Ardi. Gumana ya, Mah?" cemas Mentari sambil meremas kedua tangannya.
"Kamu yang sabar ya, sayang! Kita akan tunggu Dokter, semoga saja Ardi tidak kenapa-napa," jawab kama Ranti sambil mengusap bahu Mentari, menguatkan menantunya.
Tidak lupa, mama Ranti juga mengirim pesan kepada Bunga agar memberitahu papa Randy dan juga Bagas. Sebab dia tidak sanggup untuk mengatakannya kepada dua pria itu tentang keadaan Ardi.
__ADS_1
BERSAMBUNG......