Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Tolakan Mentari


__ADS_3

Happy reading.......


Tina masih terdiam, mengumpulkan kata-kata yang tepat agar Mentari mau untuk kembali kepada Ardi. Namun baru saja dia akan membuka mulut, tiba-tiba ponsel Bunga berdering.


''Sebentar ya, ada telepon dari mamah,'' ucap Bunga.


Kemudian wanita itu pun mengangkat telepon dari mertuanya, dan ternyata putranya yang bernama Juna sedang menangis.


Memang Bunga menamakan putranya dengan Muhammad Arjuna Anjasmara. Dia tidak ingin namanya terlalu mewah, karena menurut Bunga nama yang sederhana tetapi artinya sangat bermakna.


''Kenapa, Bunga?'' tanya Tina saat wanita itu memasukkan teleponnya ke dalam tas.


''Itu Tin, Arjuna nangis. Kalau begitu aku pulang duluan ya, mungkin dia nyariin aku,'' jawab Bunga sambil bersiap dan beranjak dari duduknya.


''Kamu nggak papa 'kan, aku tinggal?'' sambungnya lagi sambil menatap ke arah Tina.


''Nggak papa, udah kamu duluan aja, nanti aku nyusul. Makasih ya, udah nganterin aku ke sini,'' ujar Tina. Kemudian Bunga pergi dari sana.


Akan tetapi sebelum dia pergi, Bunga terlebih dahulu mencium pipi kanan dan kiri milik Mentari sambil membisikkan sesuatu di telinga wanita itu, yang membuat seketika Mentari merasa bingung.


''Berilah keputusan yang bijak, sebab di sini tiga hati yang dipertaruhkan,'' bisik Bunga di telinga kiri milik Mentari.

__ADS_1


Setelah kepergian Bunga, Mentari dan Tina sama-sama terdiam. Wanita itu juga masih memikirkan ucapan Bunga tadi, tentang apa yang dimaksud dengan kata hati hati yang tersakiti.


Tina berdehem dengan kecil, mencoba menetralisir degup jantungnya yang saat ini sedang berdebar keras. Karena walau bagaimanapun, itu adalah keputusan yang berat. Di mana seorang Istri merelakan suaminya untuk wanita lain, bahkan meminta wanita itu untuk bersama dengan Ardi.


''Mentari, entah aku harus memulai dari mana, tetapi satu hal yang harus kamu tahu! Rumah tanggaku bersama dengan mas Ardi, tidak semulus yang dibayangkan. Selama lima tahun ini, mas Ardi terus saja memikirkan kamu, bahkan di hatinya tidak pernah ada aku sedikitpun.'' Sejenak Tina menghentikan ucapannya.


Sementara itu, Mentari dibuat syok dengan pengakuan Tina. Dia tidak menyangka, bahkan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, di mana Ardi selama lima tahun masih memikirkan dia. Padahal mereka sudah lama berpisah, dan berbagai pertanyaan pun muncul di benaknya.


''Tunggu dulu! Maksudnya memikirkan bagaimana, Mbak?'' tanya Mentari dengan bingung.


Tina kemudian menjelaskan kepada Mentari, bagaimana selama lima tahun rumah tangga dia bersama dengan Ardi yang berjalan tidak sehat. Di mana pria itu tidak pernah menganggap dirinya, bahkan bersikap dingin dan cuek. Ditambah, Ardi selalu mencari Mentari selama lima tahun lamanya.


Tina juga mengatakan kepada Mentari, jika dia tidak pernah ada di hati Ardi, dan hanya Mentarilah yang mengisi hati pria itu, tidak pernah terganti oleh wanita manapun. Dan mentari yang mendengar itu tentu saja sangat kaget, bahkan satu tangannya menutup mulut dengan tatapan tak percaya.


Entah kenapa, ada rasa penasaran yang membuat dia ingin mengetahui tentang pernikahan Ardi dan Tina sampai terjadi. Jika memang dia masih ada di dalam hatinya Ardi, kenapa pria itu malah menikah dengan Tina, bukan dengan dirinya.


''Mas Ardi, menikahiku terpaksa. Karena wasiat dari Almarhum mas Riko, calon suamiku,'' ujar Tina.


Kemudian dia pun mengatakan kepada Mentari tentang wasiat calon suaminya, saat tertabrak oleh mobil karena menyelamatkan Ardi, dan Mentari tentu saja yang sangat syok mendengarnya. Dia tidak menyangka jika pernikahan mereka di dasari karena wasiat.


Saat Tina sudah menyelesaikan ceritanya, dia menggenggam tangan Mentari dan menatap wanita itu dengan dalam.

__ADS_1


''Mentari, aku mohon kembalilah bersama dengan mas Ardi! Hanya kamu kebahagiaannya. Di sini mungkin ada tiga hati yang terluka, aku, kamu dan dia. Namun, aku akan lebih terluka jika melihat mas Ardi terus saja tersiksa hidup bersamaku. Dia lebih bahagia bersama dengan dirimu, karena kamulah pujaan hatinya, belahan jiwanya,'' jelas Tina.


Mentari langsung menarik tangannya dari genggaman wanita itu sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Tina. Bagaimana mungkin bisa, seorang istri meminta wanita lain untuk bersama dengan suaminya? Itu benar-benar hal yang bodoh.


Bagaimana mungkin, seorang wanita mampu untuk melihat suaminya bersanding dengan wanita lain. Walaupun dengan dalih demi kebahagiaan sang suami, tapi Mentari bukanlah wanita yang jahat. Dia menolak keras permintaan Tina.


''Tidak Mbak! Saya tidak mau! Apa Mbak ini, sudah gila? Bagaimana mungkin bisa, Anda meminta wanita lain untuk bersanding dengan suami Anda? Sekuat-kuatnya hati perempuan, pasti sangat rapuh jua. Saya juga wanita Mbak, tahu bagaimana rasanya ketika orang yang kita cintai bersama dengan wanita lain, sangat hancur.'' Mentari menolak keras permintaan Tina.


''Iya aku tahu, aku memang sakit, aku hancur, tapi aku akan lebih hancur melihat mas Ardi terus saja terpukul dan memikirkan dirimu. Tidak pernah ada lagi senyuman di wajahnya, hanya ada kamu. Apa aku salah, jika memimpikan kebahagiaan untuk suamiku? Mungkin memang aku akan menderita, tapi setidaknya surgalah balasanku. Karena ikhlasnya seorang istri itu, balasannya adalah surga,'' jawab Tina sambil memejamkan matanya. Seketika air mata lolos membasahi pipi.


Sekuat-kuatnya dia meminta Mentari untuk bersanding dengan Ardi, nyatanya memang hatinya begitu rapuh, saat meminta wanita itu untuk menerima suaminya. Dia tidak menyangka, jika Mentari menolaknya dengan keras. Padahal Tina tahu, dulu mereka sangat mencintai, bahkan mungkin rasa itu sampai sekarang masih ada.


''Tidak Mbak! Maaf, saya tidak bisa. Saya bukanlah wanita pelakor, yang menghancurkan rumah tangga orang lain.'' tolak Mentari dengan tegas.


Setelah mengatakan itu, dia beranjak dari duduknya hendak pergi meninggalkan Tina, tapi wanita itu lagi-lagi menahan tangannya dengan linangan air mata yang sudah membasahi pipi dan tatapan yang sendu mengarah kepada Mentari.


''Please Mentari, waktuku tidak banyak. Aku hanya ingin, disisa hidupku melihat mas Ardi bahagia bersama dengan wanita yang dicintainya,'' ucap Tina dengan nada sendu.


Mentari terpaku mendengar ucapan Tina, kemudian dia menatap ke arah wanita itu.


''Apa maksud Mbak, dengan waktu tidak banyak?'' tanya Mentari dengan tatapan menelisik.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2