
Happy Reading.......
''Mbak.''
''Mentari.''
Tina dan juga Mentari terdiam, saat mereka Memanggil nama satu sama lain bersamaan. Setelah itu Mentari terkekeh bersama dengan Tina.
''Kamu duluan saja,'' ucap Tina.
''Tidak! Mbak duluan saja,'' jawab Mentari.
''Baiklah. Mentari, selamat ya untuk pernikahan kamu dan juga mas Ardi. Semoga kita bisa menjadi rekan dalam satu rumah tangga,'' ucap Tina sambil memegang tangan Mentari.
Mentari tidak menyangka, Tina benar-benar mempunyai hati yang begitu tulus. Kemudian dia memeluk tubuh wanita itu. Entah bagaimana jika Mentari berada di posisinya saat ini, berbagi suami, tetapi seperti tidak pernah dianggap oleh Ardi.
''Mbak tahu! Aku seperti seorang pelakor dan wanita yang begitu jahat, masuk ke dalam rumah tangga Mbak dan juga kak Ardi. Ingin sekali aku menolak permintaan Mbak, tapi---'''
''Tapi itu adalah permintaanku, karena aku tahu kamu wanita yang baik. Sekarang kita harus saling menerima satu sama lain,'' ujar Tina memotong ucapan Mentari.
Mereka pun mencurahkan isi hati satu sama lain, dan membuat kesepakatan agar tidak melukai hati satu dan yang lainnya. Namun walaupun begitu, tetap saja, ada hati yang terluka. Walaupun Tina sudah membentengi diri, Tetapi dia yakin, hatinya pun akan terasa sakit saat melihat kebersamaan Mentari dan juga Ardi, ditambah ada Luke di antara mereka.
Namun Tina mencoba untuk menerima takdir, dia akan menerima Mentari dan juga Luke di dalam hidupnya, karena itu adalah pilihannya.
.
.
__ADS_1
Malam ini semua sudah kumpul di meja makan, untuk makan malam. Ditambah, sekarang ada anggota keluarga baru, yaitu Mentari dan Luke, tapi suasana terasa begitu canggung antara Ardi, Tina dan juga Mentari. Sebab mereka baru saja memulai keluarga yang baru.
''Oh iya, Ardi, kamu jadi 'kan membeli rumah untuk Mentari dan Luke?'' tanya papa Randy.
''Iya Pah, aku sudah menyiapkannya, tapi satu minggu lagi baru bisa ditempati. Soalnya masih ada yang harus direnovasi,'' jawab Ardi.
''Baiklah, tapi sebelum itu, Mentari biarkan tinggal di sini dulu. Lagi pula, rumah kalian juga hanya beberapa jarak dari sini 'kan? Hanya terbentang skak lima rumah saja,'' jelas mama Ranti.
Memang mama Ranti meminta Ardi untuk membeli rumah di sekitaran situ. sebab dia tidak ingin jauh-jauh dengan Luke. Karena jika rumah mereka dekat, maka setiap hari Mama Ranti bisa bertemu dengan cucu kesayangannya.
Sementara itu, Bagas hanya diam saja. Dia tidak ingin komen apapun ..Sedari pagi bahkan dia tidak menyapa Ardi dan mengucapkan selamat kepada pengantin baru tersebut. Karena Bagas benar-benar sangat kecewa kepada Ardi dan juga keputusan Tina.
Menurut Bagas, Ardi dan Tina sama-sama egois dan keras kepala. Namun dibalik itu semua, Bagas tidak mengetahui tentang penyakit Tina. Entah jika dia mengetahuinya, mungkin akan lebih marah kepada Ardi.
Kepala Tina terasa begitu sakit, hingga tangannya meremas baju yang ada di bawah meja. Saat dia tengah makan, tiba-tiba satu tetes cairan merah menetes ke arah pahanya, dan itu membuatnya panik. Seketika dia mengambil tisu lalu mengelapnya.
Semua orang yang tengah makan malam, seketika menatap ke arah Tina. Sedangkan wanita itu menjadi gelagapan, karena tidak tahu harus menjawab apa. Dia juga kaget, sebab Bagas melihatnya saat mengelap darah yang ada di hidungnya.
Bagaimana ini, ya Allah? bingung Tina.
''Kenapa kamu diam? Kenapa hidung kamu berdarah, Tina? Jawab!'' tanya Bagas sekali lagi.
Tina menatap ke arah Bunga, memberi kode agar wanita itu membantu dirinya. Sedangkan mama Ranti menatap ke arahnya dengan bingung dan juga penasaran, begitupun Ardi dan juga yang lain.
''Sayang, hidung kamu berdarah kenapK? kamu sakit?'' tanya mama Ranti dengan wajah yang cemas.
''Ti-dak Mah! Ini aku me-mang akhir-akhir ini sering kecapean, dan Dokter memang menyarankanku untuk istirahat, tapi akunya bandel,'' bohong Tina dengan suara yang sedikit gugup
__ADS_1
''Beneran, kamu tidak lagi sakit 'kan?'' tanya papa Randy memastikan dan menatap Tina dengan tatapan menyelidik.
''Iya Pah, Tina baik-baik saja,'' jawab Tina sambil tersenyum.
''Syukurlah, jika ada apa-apa bicara kepada Mama dan Papa, jangan diam saja ya, Nak!'' ucap mama Ranti dengan lembut, kemudian Tina pun mengangguk.
Sementara itu, Bagas menatap Tina dengan tatapan yang dalam. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh adik iparnya tersebut. Sebab Bagas. bukanlah orang bodoh yang gampang untuk dikibuli Dia yakin, Tina tengah menyembunyikan sesuatu yang besar dari semua orang, kemudian tatapannya mengarah kepada Bunga.
Wanita itu gelagapan saat ditatap oleh suaminya. Dia mencoba mengalihkan pandangan ke arah Aurora, dan menawari lauk, karena melihat piring Aurora yang sudah habis. Padahal Bunga sangat yakin, saat ini Bagas pasti tengah mencurigai dirinya yang mengetahui sesuatu tentang Tina.
Selesai makan malam, semua orang saat ini tengah berada di kamar. Ardi juga akan melakukan kewajibannya sebagai seorang suami bersama dengan Mentari. Dan dia menjatah hari-harinya bersama kedua istri dengan adil. Senin sampai rabu dia bersama dengan Tina, kamis sampai minggu dia bersama dengan Mentari dan Luke.
Tina saat ini tengah duduk di tepi ranjang sambil meminum obatnya. Dia ingin tidur lebih cepat, karena kepalanya terasa begitu sakit.
Sementara di kamar sebelah, Mentari baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ranjang di mana Ardi tengah menunggu dirinya. Saat wanita itu sampai di sana, Ardi segera menarik tangan Mentari dan membawanya dalam dekapan.
''Bolehkah aku melakukannya, malam ini?'' tanya Ardi dengan tatapan yang sudah dikelilingi kabut gairah.
Mentari meneguk ludahnya dengan kasar, kemudian dia pun mengangguk. Karena walau bagaimanapun, itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Lalu Ardi mulai menyerang Mentari dengan kecupan dan ciumaan hangat yang membangkitkan gairaah wanita itu.
Sementara di kamar lain, Tina tidak bisa tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Kepalanya kian terasa sakit, padahal dia sudah meminum obat. Wanita itu pun duduk di tepi ranjang sambil meremas rambutnya.
''Ya Allah, kenapa sakit sekali? Biasanya setelah aku minum obat, rasa sakitnya akan berkurang, tapi ini malah semakin terasa? Kuatkan aku, ya Allah!'' ucap Tina dengan lirih.
Dia memutuskan besok akan ke Rumah Sakit untuk mengecek kondisinya. Sebab Tina sekarang sudah bertekad jika dia akan optimis sembuh. Selebihnya dia menyerahkan semuanya kepada Allah, apakah pemilik jiwa akan mencabut nyawanya atau malah menyembuhkan penyakitnya.
BERSAMBUNG......
__ADS_1
semangat Tina💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻Kasian sebenarnya, dia lagi kesakitan, sementara Ardi dan Mentari sedang meneguk indah surga dunia😥