
Happy reading....
Ardi terus mengikuti ke mana mobil itu pergi, dia tidak ingin kehilangan jejak Mentari untuk kedua kalinya. Karena pria itu benar-benar yakin jika wanita yang baru saja dia lihat adalah pujaan hatinya.
''Cepat Den! Jangan sampai kita kehilangan jejak taksi itu!'' titah Ardi dengan suara yang tidak sabar.
Deni mengangguk, kemudian Ardi meminta Deni untuk menyalip mobil tersebut. Akan tetapi sial. Lampu merah menghentikan mobil pria tersebut, hingga mereka kehilangan jejak. Ardi yang melihat itu pun segera memukul jok mobil dengan kesal.
''Agghh! Kita kehilangan jejak dia, Den!'' seru Ardi dengan nada yang geram, karena dia kehilangan jejak Mentari.
Deni hanya melihat Ardi dengan tatapan bingung dari pantulan cermin. Dia tidak tahu siapa sebenarnya yang dikejar oleh bosnya, karena Deni sama sekali tidak melihat keberadaan Mentari di dalam sana.
''Maaf Bos, sebenarnya siapa yang sedang kita cari? Kenapa kita mengikuti taksi tadi?'' tanya Deni yang penasaran kepada Ardi.
''Dia adalah seseorang yang selama ini aku cari, Den. Sudah lima tahun aku kehilangan jejaknya, dan tadi aku bertemu dan melihatnya. Maka kenapa aku memintamu untuk menghentikan mobil itu! Akan tetapi, takdir rupanya masih belum mengizinkan untuk aku bertemu dengan dia,'' jawab Ardi dengan suara yang lesu.
Setelah sekian lama dia tidak bertemu dengan Mentari, dan setelah lima tahun terus mencari akhirnya Ardi bertemu dengan wanita itu secara langsung, tapi sialnya Ardi malah kehilangan jejak taksi yang dinaiki Mentari. Kemudian Deni melajukan mobilnya menuju kantor.
Saat sampai di kantor, pria itu langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ardi, kemudian mereka masuk ke dalam dan menaiki lift. ''Den, aku mau kamu lacak mobil taksi tadi! Kamu ingatkan berapa plat nomor-nya?'' tanya Ardi namun Deni langsung menggelengkan kepalanya.
''Tidak, Pak. Saya tidak sempat untuk menghafalkan plat nomor-nya,'' jawab Deni dengan tatapan takut ke arah Ardi.
''Kamu kenapa bodoh sekali, sih?'' gerutu Ardi dengan kesal. Kemudian dia keluar dari lift setelah pintu terbuka, lalu masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Deni berjalan di belakang Ardi, karena ruangan dia dan bosnya bersebelahan.
'Yeeay, mana aku tahu kalau dia lagi ngejar orang yang selama ini dia cari? Lagian, nggak nyuruh juga buat ngapalin plat nomor-nya? Memang ya, kalau orang udah kepalang panik ya lupa segalanya.' batin Deni.
.
__ADS_1
.
Mentari Baru saja sampai di restoran, dia tersenyum ke arah karyawan yang menyapanya. Kemudian wanita itu masuk ke dalam ruangannya, untuk memeriksa berkas-berkas bulanan.
Sementara itu, Tina baru saja keluar dari rumah sakit sambil membawa sebuah amplop coklat di tangannya, kemudian dia masuk ke dalam mobil. Wajahnya terlihat begitu pucat dan lesu, lalu Tina segera mengoleskan lipstik di bibirnya agar tidak terlihat pucat.
''Kamu harus kuat, Tina. Kamu tidak boleh lemah di hadapan mas Ardi! Sekalipun kamu bersimpuh dan
bersujud, dia tidak akan pernah mencintai kamu. Jadi untuk apa dia tahu semuanya,'' ucap Tina dengan lirih pada dirinya sendiri.
Wanita itu lagi-lagi menitikan air mata, mengingat bagaimana pahitnya hidup yang dijalani bersama dengan Ardi. Kemudian dia menarik nafas beberapa kali, lalu membuangnya. Tina mencoba untuk menguatkan diri sendiri, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ardi.
''Jika memang semua takdir telah berjalan sesuai dengan apa yang ditentukan. Maka aku harus menjalaninya. Aku ingin bahagia, tapi kebahagiaanku bahkan tidak bisa ku gapai, sangat mustahil untuk mencapainya.''
Setelah merasa perasaannya lebih baik, Tina menghapus air matanya, kemudian dia memoles bedak agar tidak terlihat sembab. Lalu sebuah pesan masuk ke dalam ponsel wanita itu, dan ternyata itu dari Sherly, teman Tina.
''Hei, apa kabar? Ya ampun, yang baru aja pulang dari Thailand,'' ucap Tina sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Sherly, kemudian mereka duduk di kursi.
''Alhamdulillah, gue baik. Kabar lo gimana?'' tanya Sherly kembali.
''Alhamdulillah gue juga baik, kok. Ngomong-ngomong, mana cowok lo? Katanya mau dibawa ke Indonesia? Omdo lo.''
Omdo---Omong doang
Sherly yang mendengar itu hanya terkekeh, kemudian dia menatap ke arah Tina. ''Pacar gue baru besok ke sininya, soalnya masih ada kerjaan. Jadi harus diselesaikan dulu, nanti gue kenalin deh sama lo. Oh iya, gue juga udah pesan minuman sama makanan. Jadi lo nggak usah pesan lagi!''
Kemudian mereka pun mengobrol dan tak lama makanan dan minuman yang dipesan oleh Sherly pun datang. Sementara itu Tina menatap ke arah sekeliling restoran. Dia merasa aneh, karena baru melihat restoran itu. ''Mbak, apakah ini restorannya baru?'' tanya Tina pada pelayan yang sedang menaruh makanan di meja.
__ADS_1
''Iya Bu, kebetulan restoran ini baru satu bulan dibuka,''
jawab pelayan itu sambil tersenyum ke arah Tina dan juga Sherly. Setelah itu dia pergi meninggalkan meja, sementara Tina hanya menganggukan kepalanya saja.
**P**antas saja aku baru ke sini. batin Tina.
Saat mereka tengah makan, tiba-tiba tatapan Tina terhenti pada seorang wanita yang baru saja lewat tak jauh darinya, dan dia sedang berbicara dengan salah satu pelayan yang ada di restoran itu.
'Mentari!' batin Tina saat melihat Mentari yang berada di sana.
Dia terus menatap ke arah wanita itu tanpa berkedip sama sekali. Bahkan ucapan Sherly pun diabaikan olehnya. Tina menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia benar-benar merasa iri dengan penampilan Mentari yang sekarang, jauh sangat berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu.
**J**ika nanti mas Ardi bertemu dengannya, pasti dia akan langsung tergila-gila dengan Mentari. Apalagi sekarang wanita itu terlihat begitu cantik dan elegan, berbeda jauh dengan diriku yang sebentar lagi tidak akan melihat semuanya. Apakah aku bisa memiliki tempat di hatinya mas Ardi?
Sherly yang sejak tadi berbicara namun diabaikan oleh Tina, seketika menepuk tangan wanita itu yang berada di atas meja. ''Hei! Kamu sedang lihat apa sih? Aku dari tadi berbicara loh,'' ucap Sherly sambil menatap ke arah di mana Tina yang sedang menatap ke arah Mentari.
''Eh iya, sorry ... lo tadi ngomong apa? Aduh sorry ya, gue lagi nggak fokus,'' jawab Tina merasa tidak enak karena mengabaikan temannya.
''Lo lagi liatin, apa?'' tanya Sherly kembali.
''Itu, gue lagi lihat ...'' Tiba-tiba Tina menggantung ucapannya saat melihat jika di sana sudah tidak ada Mentari. ''Tidak ada! Tadi gue cuma lihat cowok ganteng aja,'' kelakar Tina. Dan Sherly hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja.
''Heh! Lo ini udah punya laki, masih aja ngelirik cowok lain? Emang laki lo kurang tampan kayak gimana? Heran gue sama lo?'' kekeh Sherly yang tidak tahu isi hati Tina saat ini.
Sedangkan wanita itu hanya tersenyum saja dan menatap ke arah Sherly. Dia tidak tahu, jika rumah tangganya bersama dengan Ardi tidak sehat. Bahkan mereka tidak mencintai satu sama lain. Mungkin saja memang mereka terlihat baik-baik saja di luar, tapi siapa yang tahu jika dalamnya sangatlah rapuh, bahkan tersiksa.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1