
Happy reading.......
Hari ini sesuai dengan janji Mentari kepada Yoga, Wanita itu akan menceritakan perihal masalahnya kepada pria yang sudah dianggap sebagai sahabat. Dan saat ini Mentari tengah duduk di salah satu kursi yang ada di restoran.
Tak lama seorang pria datang menghampirinya, dan dia adalah Yoga. Kemudian pria itu duduk di hadapan Mentari dengan perasaan tidak sabar, menanti cerita dari wanita yang berada di hadapannya.
''Luke ke mana? Kenapa tidak kelihatan?'' tanya Yoga sambil melirik ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan anak kecil itu.
''Sedang tidur di dalam, ditemani oleh baby-sitternya,'' jawab Mentari.
Tak lama minuman dan beberapa makanan ringan pun datang, lalu salah satu karyawan Mentari menaruhnya di atas meja. Entah kenapa, Ardi dapat melihat jika wanita cantik yang berada di hadapannya itu tengah menyimpan masalah yang besar.
Dia sadar, Mentari membutuhkannya saat sedang ada kesulitan saja, tapi bagi Yoga itu tidak masalah. Sebab cintanya kepada Mentari begitu tulus, hingga dia rela melakukan apapun, bahkan mungkin mengorbankan perasaannya.
''Ada apa, Mentari? Ceritakan kepadaku,'' ucap Yoga sambil mengusap bahu wanita yang berada di sampingnya tersebut.
''Aku bingung Kak, saat ini aku sedang dihadapi dengan pilihan yang berat. Namun keputusan juga sudah diambil, dan sebentar lagi aku akan menikah dengannya,'' ujar Mentari dengan nada yang lesu.
Mata Yoga membulat kaget saat mendengar ucapan Mentari. Senyum yang tadinya mengembang indah, langsung luntur begitu saja.
''Apa! Menikah? Kamu mau menikah dengan siapa?'' kaget Yoga.
Mentari kemudian menjelaskan saat dia ditugaskan ke Jakarta, dan bagaimana pertemuannya dengan Tina serta Ardi. Wanita itu juga menceritakan kepada Yoga tentang apa yang terjadi antara dia, Tina dan juga Ardi selama di Jakarta, dan tentang permintaan Tina yang memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Bagaikan gunung salju yang runtuh, perasaan Yoga kini sangat hancur. Dia tidak menyangka, jika wanita yang selama ini dicintainya akan menikah dengan pria lain. Padahal Yoga tengah mempersiapkan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Mentari.
__ADS_1
Namun siapa yang menyangka, jika janur kuning sebentar lagi akan melengkung, dan tidak ada harapan lagi bagi Yoga untuk mendapatkan Mentari. Apalagi dia tahu, lelaki yang akan menikah dengan wanita itu adalah pujaan hatinya dan juga cinta pertama Mentari.
''Menurut Kakak, aku harus bagaimana?'' tanya Mentari setelah selesai bercerita.
Yoga terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk wanita yang berada di sampingnya.
''Jika menurutku, tidak ada jalan lain, selain kamu menikah dengan Ardi. Sebab itu juga 'kan keinginan terakhir Tina. Aku rasa, kamu harus mengabulkannya. Lagi pula, kalian masih sangat saling mencintai, bukan?'' jawab Yoga.
Mentari menghela napasnya dengan kasar, saat mendengar jawaban dari pria yang berada di sampingnya. Apa yang dikatakan Yoga itu memang benar, jika dia harus menerima Ardi sebagai suaminya. Walaupun awalnya mereka menikah karena permintaan dari Tina.
Setelah berbicara dengan Yoga, Mentari kembali ke ruangannya. Sementara itu, Yoga pamit untuk pulang ke apartemen miliknya dengan hati yang hancur dan rapuh. Dia benar-benar telah kalah dan telah gagal Mendapatkan Mentari.
Saat pria itu sampai di apartemen, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang saat Mentari mengatakan tentang pernikahannya dengan Ardi, lalu seketika Yoga duduk kembali.
.
.
Tidak terasa, pernikahan Mentari dan juga Ardi besok akan berlangsung. Dan saat ini Mentari tengah berada di kamarnya Luke, sebab dia ingin berbicara dengan putranya.
''Luke,'' panggil Mentari saat melihat putranya sedang bersiap untuk tidur.
''Iya, Ma,'' jawab Luke.
''Mama mau bicara sama Luke, ini soal om Ardi,'' ujar Mentari.
__ADS_1
Memang selama beberapa hari ini, Ardi gencar mendekati Luke. Pria itu sering datang ke resto, bahkan membelikan banyak mainan untuk Luke. Itu adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah.
Sebab Ardi juga ingin menebus kesalahannya, karena selama Mentari hamil sampai melahirkan, bahkan sampai Luke tumbuh besar, dia tak ada di sisinya. Ardi ingin, waktu yang hilang di gantikan mulai dari sekarang.
''Om baik ya, Ma. Kenapa?'' tanya Luke.
Mentari mengusap kepala putranya, lalu mengecupnya dengan lembut. Ada rasa tak tega memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya pada anak yang masih kecil itu. Namun, Mentari tak mau menyembunyikannya. Sebab lama-lama Luke pun pasti akan tau juga.
''Sebenarnya ada hal yang ingin Mama bicarakan tentang om baik, dia ...'' ucapan Mentari terhenti saat baby-sitter di luar mengetuk pintu.
''Iya, masuk!'' titah Mentari.
''Maaf Buk, jika saya mengganggu, tapi bolehkah saya malam ini pulang ke rumah dulu? Sebab Ibu saya masuk ke Rumah Sakit, beliau tadi jatuh di kamar mandi,'' jelas baby-sitternya Luke yang bernama Nana.
''Innalillahi, ya sudah, Mbak Nana pulang saja! Nanti kembali lagi kalau keadaan Ibunya sudah membaik ya, Mbak,'' jawab Mentari.
''Nanti subuh saya akan langsung ke sini, Bu. Soalnya 'kan ibu ada acara pernikahan,'' ujar Nana merasa tak enak. Dan Mentari hanya menganggukkan kepalanya saja.
Setelah itu, Nana pun pamit untuk pulang. Kebetulan dia juga masih tinggal di kota Jakarta, hanya membutuhkan dua jam saja untuk pulang ke rumahnya. Sementara itu, Mentari melihat jika Luke sudah tertidur. Dia ingat dengan kata-kata Yoga, yang memintanya untuk tidak membicarakan perihal Ardi dulu kepada Luke. Sebab umur anaknya masih sangat kecil untuk memahami semua permasalahan Mentari, Ardi dan juga Tina.
''Sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh kak Yoga. Aku harus menunggu Luke besar dulu, baru mengungkapkan semuanya,'' gumam Mentari dengan lirih. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping Luke dan ikut memejamkan mata.
BERSAMBUNG......
maaf ya telat up, othornya lagi kurang enak badan🙏🏻Ini d usahakan up 1 bab lagi.
__ADS_1