Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
berbicara


__ADS_3

Happy Reading.....


Tina membalikan badanya menengok ke belakang, tapi seketika pandangannya terpaku saat melihat wanita yang kini berdiri beberapa langakah darinya.


Tentu saja Tina hafal betul wajah itu.


Wajah yang setiap hari menghantui pernikahannya. Wajah yang selama ini mengguncang hati suaminya, sampai tak bisa mencintai dirinya. Wanita yang selama ini mengisi seluruh hati dan jiwa Ardi.


''Mentari!'' kaget Tina dengan suara yg lirih.


Ya, wanita itu adalah Mentari. Dia juga bahkan hanya terdiam terpaku saat melihat Tina. Tidak di sangka olehnya, jika mereka akan bertemu. ''Mba Tina!'' kaget Mentari dengan nada yg rendah.


Lalu, Luke berlari ke arah Mentari. ''Mama, tadi Luke gak sengaja nabrak Tante itu, tapi Luke sudah minta maaf dan membantunya,'' adu Luke pada Mentari.


Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah putra tampannya itu. ''Iya sayang, gak apa-apa kok. Sekarang kita pulang yuk! Hari sudah semakin sore,'' ujar Mentari sambil menggenggam tangan Luke.


Akan tetapi, sebelum mereka pergi Mentari berjalan ke arah Tina. ''Maafkan anak saya ya Mb, kalau begitu kami permisi." Setelah mengatakan itu Mentari menggandeng tangan Luke dan pergi dari sana.


Tina yang masih kaget dengan pertemuannya bersama Mentari, kemuduan mengejar wanita itu dan memegang lengannya. Membuat kangkah Mentari terhenti.


''Tunggu Mentari!''


Wanita itu menoleh ke arah Tina, dadanya sudah berdebar kencang.. Bukan karena dia takut, tapi karena rasa sakit yang dulu dia rasakan kini hadir kembali menyesakan dada.

__ADS_1


Bayang-bayang saat Mentari mendengar tentang pernikahan Tina dan Ardi kembali berputar dalam pikirannya. Nyatanya sekuat apapun dia melupakan rasa itu, kejadian yang menyakitkan hatinya. Tetap saja, tidak bisa.


''Mentari. kita perlu bicara!'' pinta Tina dengan tatapan memohon pada Mentari.


Wanita itu terdiam sejenak, memikirkan apakah ia harus berbicara dengan Tina atau tidak.


''Please Mentari, kita harus bicara!'' pinta Tina dengan nada memohon.


Mentari yang melihat itu pun akhirnya menganggukan kepalanya. Kemudian mereka duduk di salah satu kursi yang ada di dekat time zone, tempat permainan anak-anak.


''Maaf Mba, ada apa ya? Saya harus segera pulang.'' Mentari mencoba menghindar dari Tina.


Bukan wanita itu tak mau mengobrol dengan Tina. Akan tetapi, dia sengaja menghindar demi perasaannya. Namun saat melihat wajah Tina yang memohon kepadanya membuat ia tak tega.


''Mentari, kamu apa kabar?'' tanya Tina memulai pembicaraan.


Tina terdiam sejenak, memikirkan kata apa yng akan dia ucapkan selanjutnya.


Sebenarnya dia tidak sanggup duduk bersama dengan Mentari seperti sekarang. Karena melihat wajah Mentari mengingatkannya akan luka dalam pernikahan dia bersama Ardi.


Tina tahu, wanita yang kini duduk di sampingnya mempunyai ruang yang luas di hati suaminya. Bahkan seluruh hati dan jiwa Ardi di milikinya. Sehingga tidak ada tempat walau secuil pun untuknya ada di hati pria itu.


''Mentari ...'' Sejenak Tina menghela napasnya. ''Kamu tahu, selama ini Ardi men---''

__ADS_1


''Mama, ayo pulang! Luke sudah cape,'' ucap Luke saat berada di sisi Mentari, sehingga membuat ucapan Tina terhenti.


''Iya sayang Momy, kita pulng yuk!'' ajak Mentari.


''Mba, sepertinya aku harus pulang.'' Mentari berkata dengan nada tak enak, tapi dia kasihan saat melihat wajah putranya yang kelelahan.


Tina menganggukan kepalanya, ''Iya Mentari, apa dia anakmu?'' tanya Tina dengan penasaran.


Mentari tersenyum, ''Iya Mba, dia anaku. Kalau begitu kami pamit dulu ya. Luke, salim sama Tantenya!'' titah Mentari pada putranya.


Anak kecil nan tampan itu mengangguk, lalu dia mencium tangan Tina dengan takzim. Sementara satu tangan wanita itu mengusap pipi Luke.


Dia benar-benar sangat mirip dengan mas Ardi. batin Tina sambil menatap Luke dengan tatapan sendu.


''Mentari, apa dia anak---''


''Maaf Mba, saya harus pulang sekarang. Assalamualaikum.'' Mentari memotong ucapan Tina.


Dia tidak mau jika wanita itu mengetahui identitas Luke. Sebab sudah pasti Tina akan sadar jika wajah Luke dengan Ardi sangat mirip. Dia pun menggendong Luke dan segera meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, Tina hanya menatap Mentari yang semakin menjauh. Dia menghela napas ya dengan kasar lalu duduk kembali di kursi. Satu tangannya meremas kepala yang terasa begitu sakit.


''Kenapa wajahnya begitu mirip dengan mas Ardi? Apa dia anaknya, mas Ardi? Tapi, bagaimana mungkin? Apakah mereka pernah melakukan one night?''

__ADS_1


Berbagai pertanyaan muncul di benak Tina saat ini. Kemudian dia berjalan untuk menuju parkiran, sebab haru sudah menjelang malam dan sebentar lagi Tina harus pergi ke tempat acara temannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2