Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Menangkap Peneror


__ADS_3

Happy reading.....


Selesai dari kampus, Kevin mengantarkan Aurora pulang. Sedangkan mobil gadis itu dibawa oleh orang suruhan Kevin.


Pria itu takut jika terjadi apa-apa dengan Aurora, karena dia masih kepikiran dengan pesan ancaman tersebut. Kevin juga sudah menelpon salah satu sahabatnya yang seorang detektif, untuk menyelidiki hal tersebut.


"Oh ya, sayang. Keluarga kamu ada waktu senggang nggak?" tanya Aurora saat mereka berada di dalam mobil.


"Memangnya kenapa?" tanya Kevin.


"Nggak papa sih, cuman mama itu mau, kamu sekeluarga datang untuk buka bersama. Makanya aku tanya ada waktu senggang atau enggak?" jelas Aurora.


"Aku nggak tahu sih. Coba nanti aku tanya mama papa dulu ya. Kalau mereka ada waktu senggang, nanti aku kabarin kamu," jawab Kevin sambil mengusap kepala Aurora.


Gadis itu mengangguk, hingga tidak terasa mobil pun sudah sampai di kediaman Anjasmara. Dan Kevin langsung pamit, karena ada kerjaan yang harus dia selesaikan.


.


.


Hari-hari telah berlalu, Kevin dan juga papa Bagas terus menyelidiki tentang ancaman tersebut, dan mereka sudah menemukan orangnya. Dan saat ini Kevin sedang berada di salah satu restoran untuk bertemu dengan sahabatnya yang seorang detektif, di mana dia meminta bantuan pria itu untuk menyelidiki tentang peneror tersebut.


"Ini data-data peneror itu," ucap Arif sahabat dari Kevin.


Pria itu membaca data-data tersebut, dan seketika tangannya terkepal kuat saat mengetahui siapa dalang yang selama ini meneror kekasihnya, yang ternyata adalah Vano.


"Jadi dia dalangnya. Benar-benar keterlaluan! Rupanya dia ingin bermain-main denganku! Oke, kita lihat aja, apa yang bakal aku lakuin sama dia!" geram Kevin sambil mengepalkan tangannya di atas meja.


"Jadi kamu juga menyelidiki semuanya?" tanya seorang pria yang berada di belakang Kevin


Pria itu menengok ke arah belakang, dan ternyata ada Bagas. Kevin merasa kaget, kemudian dia pun berdiri. "Om! Om di sini juga?" tanya Kevin dan Bagas langsung mengganggukan kepalanya.


"Jadi kamu juga mencari tahu tentang peneror itu? Dan sudah menemukannya?" tanya Bagas dan Kevin langsung menggangguk.


"Iya Om, saya sudah menemukan pelakunya," jawab Kevin sambil menunduk.

__ADS_1


Bagas yang mendengar itu pun menepuk pundak Kevin. "Aku percaya, bahwa putriku pasti akan aman berada di sisimu. Berikan pelajaran kepada Vano! Aku serahkan semuanya kepadamu!" titah Bagas pada kekasih putrinya.


Kevin sempat kaget karena Bagas mengetahui tentang pelaku sebenarnya. Namun, sekarang dia sadar, bahwa papah dari pacarnya itu bukanlah orang sembarangan.


"Siap Om," jawab Kevin. Setelah itu Bagas pamit dari sana, kaena harus ada pekerjaan yang dia selesaikan.


Arif melihat ke arah Kevin dengan penasaran. "Hei, pria tadi siapa?" tanya Arif.


"Oh, dia papanya Aurora, kekasihku," jelas Kevin.


.


.


Setelah mengetahui tentang peneror tersebut, saat ini Kevin memerintahkan anak buahnya untuk menculik Vano dan membawanya ke markas. Dan setelah dia menunaikan shalat tarawih, Kevin pun melajukan mobilnya menuju ke tempat di mana saat ini Vano tengah disekap.


Dia sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada pria itu, yang sudah berani mengusik kehidupan Aurora.


Sementara di salah satu rumah, Vano sedang diikat di sebuah kursi. Mulutnya juga dilakban, sehingga dia pun tidak bisa berteriak. Pria itu terus saja memberontak, tapi ikatan di dalam tubuhnya begitu sangat kuat.


'Ternyata dia yang melakukan ini kepadaku! Lihat saja, aku akan membalasnya!' batin Vano dengan dendam.


Kevin berjalan ke arah Vano, lalu mengambil kursi dan duduk di hadapan pria itu. Dia menatap Vano dengan tajam, begitupun dengan pria tersebut, membalas tatapan Kevin penuh dengan dendam.


"Kenapa kau meneror kekasihku? Apa kau tahu, siapa yang sedang kau teror itu?" tanya Kevin dengan aura dinginnya.


Vano ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya dilakban, sehingga dia pun hanya bergumam saja. Dan Kevin yang melihat itu pun segera melepaskan lakban yang ada di mulut Vano dengan kasar, sehingga membuat pria itu sedikit meringis menahan sakit.


"Dia itu nggak pantas buat lo! Dia itu hanya milik gue! Gue nggak akan pernah biarin lo bersama dengan Aurora! GlNggak ada yang boleh miliki dia, selain gue, paham!" bentak Vano.


Kevin yang mendengar itu pun tersenyum, kemudian dia mengitari tubuh Vano, lalu kembali duduk di hadapannya.


"Seharusnya kau itu bersyukur, bukan om Bagas langsung yang turun tangan, tetapi dia menyerahkan semuanya kepadaku. Seharusnya jika kau ingin meneror seseorang, lihat dulu lawanmu itu siapa. Tapi aku rasa, amarah itu sudah membutakan mata hatimu, sehingga kau lupa telah melawan seekor pemimpin dari berbagai singa!" jelas Kevin sambil mencondongkan wajahnya ke arah Vano.


Melihat itu Vano meludah ke arah Kevin, tepat mengenai wajahnya. Dan Kevin yang mendapatkan itu pun merasa geram. Dia mengusap ludah yang berada di wajahnya dengan kasar, kemudian menampar wajah Vano, sehingga membuat sudut bibir pria itu mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Seharusnya kau itu beruntung, aku masih memberikanmu hidup sampai sekarang. Twpi sepertinya kau memang tidak sayang dengan nyawamu." Kevin mulai mengeluarkan sebuah pisau cutter, dan Vano yang melihat itu merasa ketakutan. Dia takut jika nanti Kevin akan melukainya.


"Mau apa kau, hah!" bentak Vano.


"Kau bertanya mau apa? Tentu saja aku ingin memberikan pelajaran pada orang yang sudah berani bermain macam-macam di belakangku," jelas Kevin dengan seringai di wajahnya.


Kemudian dia mengarahkan pisau cutter itu ke wajah Vano, membuat keringat dingin mulai mengucur dari wajah pria tersebut. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana benda tajam itu mengiris kulitnya.


Kevin yang melihat ketakutan Vano pun seketika tertawa terbahak-bahak, tetapi di telinga Vano tawa Kevin begitu sangat menyeramkan.


"Lihatlah wajahmu! Kau begitu sangat ketakutan. Bahkan benda ini belum menyentuh kulitmu, tapi kau sudah sebegitu takutnya?" ledek Kevin.


"Berani kau menyakitiku! Kau akan tahu akibatnya!" bentak Vano.


"Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, kau masih angkuh? Masih bisa banyak bicara?" Kevin menggelengkan kepalanya sambil menatap Vano dengan tatapan meledek.


"Kita mulai dari mana dulu? Wajah, tangan, perut atau senjata pamungkas mu perlu ku tebas habis?" ancam Kevin sambil memutar-mutar pisau cutter itu di tangannya.


Vano yang mendengar itu pun merasa ketakutan, dia menggelengkan kepalanya, "Jangan berani kau menyentuhku bajingaan!" geram Vano. Namun suaranya bergetar takut.


"Aku akan memaafkanmu, tapi setelah aku memberikan pelajaran kepadamu." Kevin menepuk tangannya beberapa kali, sehingga masuklah dua orang berbadan kekar ke sana.


"Buka ikatannya, dan ikat dia di ranjang!" titah Kevin pada anak buahnya


Kedua orang itu pun menuruti perintah Kevin, dan Vano yang dilepaskan pun memberontak. Dia berharap akan lepas, tetapi tetap saja, kekuatannya tidak sebanding dengan dua orang tersebut. Hingga badannya sudah diikat di atas ranjang.


"Lucuti semua pakaiannya!" titah Kevin dan dua orang itu pun langsung melucuti semua pakaian Vano. "Jangan lupa lakban mulutnya, agar dia tidak berisik!"


Vano menggelengkan kepalanya, saat semua pakaiannya dilucuti sampai dia tidak memakai apapun. Tubuhnya polos terpampang jelas, membuat senyum seringai di wajah Kevin pun terlihat.


"Tenang saja! Aku tidak akan menyakitimu namun, hukuman ini pasti membuatmu enak. Tapi aku tidak menjamin mentalmu pun akan bagus, paham!" ucap Kevin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Aku rasa senjatamu, tidak terlalu membuat kecewa," sambungnya lagi ambil melihat senjata tempur Vano yang terpampang jelas tanpa terhalang oleh apapun.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2