
Happy Reading......
''Tante Ranti!'' kaget Mentari.
Kemudian tante Ranti mencium pipi kanan dan kiri milik Mentari, sambil memeluk wanita itu. Sudah lama dia tidak bertemu dengan Mentari, dan tentu saja ada sedikit rasa rindu di hatinya. Karena walau bagaimanapun, dulu mereka sangat dekat dan tante Ranti sudah menganggap Mentari sebagai putrinya.
''Kamu, apa kabar?'' tanya tante Ranti.
''Alhamdulillah Tante, kabar Mentari baik. Tante sendiri, bagaimana kabarnya?'' jawab Mentari.
''Alhamdulillah, tante juga baik. Sudah lama ya kita tidak bertemu. Oh ya, kamu lagi sibuk gak? Kalau nggak, kita ngopi-ngopi sebentar yuk di cafe sebelah. Kebetulan kan di sini juga ada cafe yang dekat, bagaimana?'' ajak tante Ranti.
Mentari terdiam sejenak. Dia sebenarnya ingin menolak permintaan tante Ranti, karena wanita itu menghindar dari keluarga Anjasmara, tapi dia merasa tak enak jika menolaknya. Akhirnya Mentari pun menganggukkan kepala, menerima tawaran wanita itu.
Setelah membayar belanjaan, mereka berjalan ke cafe yang ada di samping supermarket, kemudian duduk di salah satu kursi dan memesan minuman. Mentari sebenarnya yang sangat canggung, karena sudah lama juga dia tidak bertemu dengan tante Ranti, tapi walau bagaimanapun ada sedikit rasa senang di hatinya. Sebab tante Ranti sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
''Oh ya, Mentari, selama ini kamu ke mana? Tante kangen tahu sama kamu, tapi kata Ardi, kamu pergi dari rumah. Benarkah?'' tanya tante Ranti sambil menatap ke arah Mentari.
Wanita itu tersenyum tipis, dia mengingat bagaimana kepergiannya dulu saat mengetahui pernikahan Tina dan juga Ardi. Kemudian dia pun menjawab, ''Iya Tante, Mentari pergi ke luar kota. Ada saudara yang harus Mentari kunjungi,'' bohongnya.
''Lalu, apa kamu sudah menikah sekarang?'' tanya tante Ranti kembali.
Mentari terdiam, dia tidak tahu apakah harus berbohong atau jujur, tapi kalau dia jujur kepada tante Ranti jika belum menikah, sedangkan takut nantinya wanita itu akan mengetahui tentang Luke.
''U-dah Tan-te, tapi suami Mentari sudah meninggal,'' bohong Mentari dengan gugup.
__ADS_1
Tante Ranti yang mendengar itu sangat sedih kemudian dia menggenggam tangan Mentari. ''Maafkan tante ya, tante tidak bermaksud untuk membuka luka lama kamu,'' ucapnya dengan nada bersalah dan tak enak.
''Nggak papa kok, Tante.''
Mereka un mengobrol, melepaskan rindu, tapi sebenarnya Mentari merasa tidak nyaman. Karena semakin lama dia bersama dengan keluarga Anjasmara, semakin membuka luka yang ada di hatinya. Ditambah saat kepergian Mentari dulu, tante Ranti begitu bahagia dengan pernikahan Tina dan juga Ardi.
Setelah berbincang dan mengobrol dengan tante Ranti, Mentari pun pergi ke restoran. Dia juga mengatakan kepada wanita itu letak tempat bekerjanya, tapi Mentari tidak memberikan alamat rumahnya kepada tante Ranti. Sebab dia akan berusaha untuk menjauh dari keluarga Anjasmara.
.
.
Diang ini Ardi berencana akan ke restoran Mentari, dia ingin bertemu dengan pujaan hatinya. Dengan hati yang senang, pria itu menyemprotkan parfum ke tubuhnya agar tercium bau harum, karena dia tidak mau bertemu dengan Mentari dalam keadaan tak sedap.
Hari-harinya terasa begitu indah saat sudah menemukan wanita yang selama lima tahun dia cari. Dengan langkah cepat, Ardi memasuki mobil, tapi tidak diantar oleh Deni. Kali ini dia ingin sendirian pergi ke sana.
''Maaf Pak, ibu Mentarinya sedang tidak ada di tempat,'' jawab pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
''Oh ya, dia pergi ke mana?'' tanya Ardi dengan penasaran.
''Biasanya ibu Mentari menjemput Den Luke, Pak, di sekolahnya.''
Kemudian Ardi pun bertanya tentang alamat sekolahan Luke kepada pelayan tersebut. Namun ternyata, pelayan itu tidak tahu di mana Luke bersekolah, karena dia pun tidak ingin mencampuri urusan bosnya, sebab itu adalah sebuah privasi.
Sepertinya aku harus mencari tahu alamat sekolah Luke.
__ADS_1
Walaupun Mentari sudah menjelaskan kepada Ardi jika Luke bukanlah putranya. Namun entah kenapa, dia merasa Mentari berbohong. Sebab melihat wajah Luke yang begitu mirip dengan dirinya, dan itu membuat Ardi semakin yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu.
Ardi kemudian menunggu Mentari, karena dia ingin sekali bertemu dengan pujaan hatinya. Setelah 20 menit menunggu, Mentari masuk ke dalam restoran bersama dengan Luke dan juga baby-sitternya.
Saat Mentari akan masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba pelayan yang melayani Ardi datang. ''Maaf Bu, itu ada pria yang sedang menunggu dan ingin bertemu dengan Ibu,'' ucap pelayan tersebut.
''Pria, siapa?'' tanya Mentari sambil mengerutkan dahinya.
''Pria yang pernah datang ke sini, Bu. Dan dia duduk di meja tiga puluh lima, kalau begitu saya permisi dulu.''
Mentari mengangguk, kemudian dia berjalan ke meja di mana Ardi tengah menunggunya. Saat sampai di sana, Mentari menghela napasnya dengan kasar. Dia benar-benar tidak suka dengan kehadiran Ardi.
Bukan Mentari sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Ardi. Bukan hatinya juga tidak senang didatangi pria yang masih spesial di dalam jiwanya. Namun Mentari tahu diri, yang menemuinya sekarang bukanlah Ardi yang dulu, tetapi sudah menjadi suami orang. Dia hanya tidak ingin ada fitnah diantara mereka.
Kemudian Mentari meminta kepada seorang pelayan untuk mengatakan kepada Ardi, jika saat ini Mentari tidak pulang ke restoran. Dia menyuruh pelayan itu untuk memberitahukan kepada Ardi, jika dirinya ada urusan. Dia ingin menghindari pria itu.
''Maaf Pak, bu Mentari baru saja menelpon saya, kalau dia tidak balik ke restoran. Sebab ada urusan penting di luar yang tidak bisa diwakilkan,'' ucap pelayan tersebut saat datang ke meja Ardi.
''Urusan apa, Mbak?'' tanya Ardi..Namun pelayan itu menggelengkan kepalanya.
''Tidak tahu, sebab itu bukan urusan saya. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak,'' ucap pelayan tersebut sambil meninggalkan meja Ardi.
Pria itu menghela napasnya dengan kasar. Dia pikir, akan bertemu dengan Mentari. Namun ternyata sia-sia, kemudian Ardi beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan restoran itu. Padahal dia ingin sekali bertemu dengan pujaan hatinya, tapi kali ini gagal.
Sementara itu, Mentari tersenyum senang saat melihat Ardi pergi dari restoran. Dia mengusap dadanya dengan lega. ''Maafkan aku, kak. Aku tidak bisa untuk bertemu denganmu. Sebisa mungkin aku akan menghindar dari kamu, mbak Tina dan juga keluarga Anjasmara yang lain. Aku ingin hidup tenang tanpa kalian, walaupun sebenarnya aku juga merasakan sakit,'' gumam Mentari di balik Dinding Kaca.
__ADS_1
...BERSAMBUNG..........