
Happy reading......
''TINA!'' teriak orang tersebut sambil berjalan ke arah Tina dan Raka.
''Sherly!'' kaget Tina dan Raka bersamaan.
Ya, orang itu adalah Sherly. Kebetulan teman dari Raka adalah sepupunya, jadi Sherly ke Rumah Sakit untuk menengok keadaannya. Namun saat dia akan pulang, wanita itu melihat Tina yang sedang didorong oleh Raka.
Awalnya dia merasa ragu jika itu adalah sahabatnya, tetapi setelah diperhatikan cukup lama, ternyata memang itu adalah Tina. Dengan rasa penasaran, Sherly pun memanggil Tina, dia ingin tahu kenapa sahabatnya berada di sana.
''Tina, kamu kenapa ada di sini?'' tanya Sherly.
Wanita itu terdiam, tidak tahu apa yang harus dia jawab. Namun jika berbohong pun kepada Sherly percuma saja, karena wanita itu pasti akan curiga, sebab kepala Tina masih diperban.
''Sebaiknya kita masuk dulu ke dalam! Nanti baru bicarakan di sana,'' ujar Raka. Kemudian dia mendorong kursi roda Tina masuk ke dalam ruang rawat inap.
Setelah sampai di dalam, Raka membantu Tina untuk membaringkan diri di ranjang pasien, setelah itu dia pun menjelaskan kepada Sherly tentang bagaimana keadaan Tina. Sebab tidak mungkin, jika wanita itu yang menjelaskan secara langsung, melihat kondisinya yang lemas dan harus beristirahat.
Sherly yang mendengar bagaimana keadaan sahabatnya, tentu saja sangat sedih. Dia tidak menyangka, jika selama ini Tina mengidap penyakit yang begitu ganas. Padahal jika mereka bertemu, Tina selalu terlihat sehat, ceria dan bahagia.
''Apakah suamimu tahu, jika kamu sekarang berada di Rumah Sakit?'' tanya Sherly saat Raka masuk ke dalam toilet.
Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela, kemudian dia menggeleng kecil, membuat Sherly merasa heran. Sebab walau bagaimanapun, Ardi harus mengetahui keadaan istrinya.
''Bagaimana mungkin bisa, kau tidak memberitahu Ardi? Dia 'kan, suamimu? Atau perlu, aku yang memberitahunya,'' ujar Sherly dengan kesal.
''Jangan!'' cegah Tina.
__ADS_1
''Kenapa? Bagusnya 'kan dia emang harus tahu?'' bingung Sherly.
Kemudian Tina pun menceritakan bagaimana rumah tangganya bersama dengan Ardi. Dia rasa, Sherly adalah orang yang bisa dipercaya dalam menjaga sebuah rahasia. Wanita itu bercerita dengan air mata yang sudah mengalir. Dia juga menjelaskan tentang pernikahan Mentari dan juga Ardi.
Mendengar bagaimana kisah rumah tangga sahabatnya, membuat Sherly begitu iba. Selama ini dia mengenal Tina wanita yang ceria, periang dan juga baik hati. Tidak pernah dia sangka, jika kebahagiaan dan juga wajah cerianya itu, hanya untuk menutupi sebuah luka.
Mereka tidak sadar, jika ada seseorang yang mendengar percakapan mereka di balik pintu kamar mandi, dan dia adalah Raka.
Pria itu yang mendengar cerita Tina merasa miris. Dia tidak menyangka, jika Tina melalui banyak sekali ujian di dalam hidupnya, tapi di dalam hati Raka, dia merutuk kebodohan Ardi, karena telah menyia-nyiakan wanita seperti Tina.
Dia benar-benar wanita yang hebat. Menyingkirkan dan menurunkan egonya, hanya untuk kebahagiaan suami yang tak pernah menganggapnya. Bodoh sekali pria itu! Menyia-nyiakan istri seperti Tina, sungguh keterlaluan! batin Raka dengan geram.
.
.
Sesampainya di sana, Ardi langsung masuk ke dalam ruang rawat inap milik kliennya. Setelah beberapa menit, dia pun keluar. Namun, saat melewati lorong, tali sepatunya lepas, kemudian dia pun membenarkannya.
Namun, saat Ardi tengah membenahi Tali sepatunya, tiba-tiba dia mendengar ada seseorang yang berbicara sambil melewatinya, dan seketika tubuh Ardi terpaku.
''Aku tidak menyangka, kenapa suaminya Tina begitu jahat?'' Raka berkata kepada Sherly yang saat ini berada di sampingnya.
''Kau benar. Bahkan istrinya sakit saja, dia tidak tahu. Kasihan Tina. Untung ada tante Imelda yang selalu menjaganya. Kalau tidak, entahlah. Rasanya ingin kubejek-bejek pria seperti itu!'' geram Sherly.
Ardi terdiam saat mendengar ucapan dua orang yang melewati dirinya. Dia merasa bingung dengan nama yang baru saja disebutkan, sebab itu adalah nama wanita yang menjadi istri pertamanya.
''Apa yang mereka maksud itu, adalah Tina, istriku? Tapi tidak mungkin. Dia 'kan sedang liburan. Tidak mungkin, jika dia ada di sini?'' Ardi berucap dengan nada yang bingung.
__ADS_1
*A*ku harus mengejar mereka. Mungkin saja, memang yang dibilang mereka itu adalah Tina, istriku. batin Ardi sambil berjalan cepat untuk menghampiri dua orang yang menyebutkan nama Tina tadi.
Akan tetapi, sayang, Ardi sudah kehilangan jejak mereka. Padahal baru beberapa menit saja pria itu mendengar obrolan dua orang tersebut.
''Sial!'' kesal Ardi, karena sudah kehilangan jejak mereka.
Dia akan berjalan ke arah resepsionis untuk menanyakan, apakah di Rumah Sakit itu ada yang bernama Tina. Setelah dicek, ternyata tidak ada. Karena memang, Tina dirawat di sana bukan atas nama dirinya, melainkan atas nama tante Imelda.
.
.
Mentari saat ini sedang berada di restoran. Walaupun dia sudah menjadi istrinya Ardi, tetap saja, wanita itu harus bekerja . Kemudian Mentari bersiap-siap untuk menjemput Luke, tapi, saat di parkiran dia bertemu dengan Yoga.
''Hei, Mentari. Kamu mau ke mana?'' tanya Yoga saat baru saja turun dari mobil.
''Kak Yoga, apa kabar?'' tanya Mentari sambil mengulurkan tangannya.
''Kabar baik. Kamu mau ke mana?'' tanya Yoga sambil menjawab uluran tangan Mentari.
Wanita itu kemudia menjelaskan, jika dia akan menjemput Luke. Yoga yang mendengarnya menawarkan diri untuk mengantar, tetapi Mentari menolak. Namun Yoga memaksa, sebab langit juga sudah mendung, dan sebentar lagi akan hujan. Jadi, mau tidak mau, Mentari pun masuk ke dalam mobil Yoga menuju sekolah putranya.
Selama di dalam mobil, Yoga terus saja memperhatikan Mentari dari sudut ekor matanya. Walaupun dia tidak bisa bersama dengan wanita itu. Namun kebersamaan yang seperti sekarang saja, membuatnya merasa bahagia.
Dia tahu, cintanya salah, karena sudah memiliki perasaan kepada istri orang lain. Namun apalah daya Yoga, karena sang pemilik hati malah menempatkan cintanya kepada Mentari. Padahal selama ini wanita itu hanya menganggapnya seorang sahabat, tidak pernah lebih.
BERSAMBUNG......
__ADS_1
Sungguh menyakitkan ketika kamu memiliki seseorang di hatimu tetapi kamu tidak dapat memiliki mereka dalam pelukanmu.😥