Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Mulai Menyesal


__ADS_3

Happy reading..


''Tina, hidung kamu kenapa berdarah, Nak?'' tanya mama Ranti dengan panik.


Tante Imelda yang berada di samping Tina segera merengkuh tubuh wanita itu. Dia takut, jika Tina tiba-tiba saja pingsan. Namun, Tina segera melepaskan pelukan wanita yang sudah dianggap sebagai mamanya tersebut.


Ardi juga terlihat begitu syok, saat melihat darah yang keluar dari hidung istrinya. Dia menatap Tina dengan lekat. Seketika rasa penasaran mendera, menyelimuti hati Ardi tentang keadaan Tina.


''Bertahun-tahun aku bertahan, Mas. Kamu pikir, aku ini sebuah pajangan? Aku ini hanya patung yang tidak memiliki perasaan? Sudah cukup, kamu injak-injak harga diriku selama ini. Sudah cukup, kamu merendahkanku sebagai seorang istri, Mas. Aku tidak bisa lagi menanggung semua beban ini, Mas. Jika saja Tuhan mengambil nyawaku sekarang, maka lebih baik aku mati!'' teriak Tina yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.


''Sayang, sudah, kamu jangan marah-marah seperti ini! Dokter bilang 'kan, kamu jangan banyak pikiran. Lihat darahnya makin banyak,'' ucap tante Imelda dengan nada yang panik.


Rasa sakit yang semakin menusuk di kepala Tina sudah tidak tertahankan lagi, seketika wanita itu pun pingsan dalam pelukan tante Imelda. Semua orang yang berada di sana menjadi panik dan juga khawatir.


Sementara Ardi malah bengong melihat keadaan Tina, lalu Bagas menepuk pundak adiknya dengan keras. ''Kenapa lo, malah bengong? Bawa istri lo ke Rumah Sakit!'' bentak Bagas.


Ardi pun tersadar, kemudian dia segera menggendong Tina masuk ke dalam mobil untuk menuju Rumah Sakit, dan semua orang ikut, kecuali Bunga. Sebab dia harus menjaga Arjuna di rumah.


.


.


Sepanjang perjalanan, tante Imelda terus aja menangis sambil memeluk tubuh Tina. Sementara mama Ranti duduk di jok belakang, di samping menantunya. Wanita itu pun juga menangis, karena dia begitu mengkhawatirkan Tina.


Tidak ada yang mengangkat bicara sedikitpun, sebab semua fokus pada keadaan Tina saat ini. Hingga tidak terasa, mobil sampai di Rumah Sakit, dan Ardi langsung membawa Tina masuk ke ruang UGD.

__ADS_1


Tante Imelda menangis tersedu-sedu sambil mondar-mandir di depan ruangan itu. Dia benar-benar mencemaskan putrinya, lalu seketika dia ingat, kemudian menelpon suaminya untuk segera datang ke sana.


''Jeng Imel, sebenarnya Tina sakit apa? Kenapa dia harus dioperasi?'' tanya mama Ranti sambil menatap ke arah tante Imelda dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.


Wanita itu tidak menjawab, kemudian dia berjalan ke arah Ardi, lalu sekali lagi dia menampar wajah pria itu. Namun mama Ranti dan juga papa Randy sama sekali tidak menghalanginya. Sebab mereka tahu, jika di sini Ardi memang bersalah.


''Puas kamu, hah! Sekarang lihat keadaan Tina, seperti apa! Kamu benar-benar pria tidak punya hati! Keterlaluan, kamu! Tina sudah sangat banyak berkorban untuk kamu, tapi apa yang kamu berikan kepadanya, hah! APA!'' bentak tante Imelda.


Ardi hanya diam saja, saat tante Imelda mencak-mencak memarahinya. Dia tahu, saat ini memang dia juga salah, tetapi Ardi tidak mungkin melawan seorang wanita, apalagi dia lebih tua darinya.


Tak lama Dokter keluar dari UGD, dan tante Imelda yang melihat itu segera menghampiri sang Dokter, lalu menanyakan keadaan Tina. Sebab Dldia benar-benar sangat khawatir.


''Bagaimana Dok, keadaannya? Apakah Tina baik-baik saja?'' tanya tante Imelda dengan nada yang cemas.


Dokter Sam menghela napasnya, kemudian menatap tante Imelda, bergantian menatap ke arah semua orang yang ada di sana.


Mama Ranti menutup mulutnya, merasa kaget dengan penjelasan Dokter tersebut. Air matanya terus saja mengalir membasahi pipi. Dia benar-benar sangat sedih dengan keadaan Tina.


Sementara semua orang di sana dibuat syok tentang apa yang baru saja mereka dengar, tetapi tidak dengan Bagas dan juga Mentari. Sebab mereka sudah mengetahui tentang penyakit Tina, tapi tetap saja, Mentari merasa kasihan kepada Tina.


''Apa boleh, saya masuk menemui putri saya, Dok?'' tanya tante Imelda dengan suara tersedu-sedu.


''Silakan, tapi hanya satu orang saja. Tidak boleh lebih. Itupun harus bergantian, ini demi kenyamanan pasien. Karena saat ini, bu Tina benar-benar butuh sekali istirahat,'' jelas Dokter Sam.


Tante Imelda mengangguk, kemudian dia masuk ke dalam ruangan UGD tanpa memikirkan Ardi dan juga yang lainnya. Sebab bagi dia, keadaan Tina jauh lebih penting dibandingkan semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


Dia tidak peduli, jika saat ini Ardi mengetahui tentang penyakit putrinya. Mungkin saja, jika pria itu tahu, dia akan sadar dan juga merenungi semua kesalahannya yang telah dia perbuat kepada Tina selama ini. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, tante Imelda tidak setuju jika Tina kembali lagi kepada Ardi.


''Sebenarnya, Tina sakit apa, Dok?'' tanya Ardi kepada Dokter Sam.


''Maaf, Tuan ini siapanya bu Tina?''


''Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya? Apa yang diderita oleh istri saya, Dok?'' tanya Ardi dengan rasa rapenasaran.


Dokter Sam sempat terdiam mendengar penjelasan Ardi, jika pria itu adalah suaminya Tina. Padahal selama ini, dia tidak pernah melihat Ardi berada di sana. Bahkan menemani Tina ataupun menjenguknya.


''Bu Tina mengidap kanker otak stadium akhir, dan beberapa hari yang lalu, beliau baru saja melakukan operasi kecil untuk pengangkatan sel kanker, tetapi masih ada yang belum terangkat. Sebab kami juga harus memikirkan keselamatan pasien. Oleh sebab itu, bu Tina harus melakukan kemoterapi terus-menerus,'' jelas Dokter Sam.


Mama Ranti sangat syok saat mendengar penjelasan sang Dokter. Dia tidak menyangka, jika selama ini Tina mengidap penyakit yang begitu ganas. Seketika tubuhnya limbung, dia pun pingsan. Pada akhirnya, papa Randy membawa mama Ranti ke salah satu ruang.


''Apa, Dok! Kanker otak? Sudah berapa lama dia mengidap penyakit itu, Dok?'' tanya Ardi dengan wajah yang kaget.


Dokter Sam mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Ardi. Dia berpikir, bagaimana mungkin seorang suami tidak mengetahui apa yang selama ini diderita oleh istrinya sendiri?


''Apakah selama ini, Anda tidak mengetahui tentang penyakit istri Anda sendiri, Pak? Bu Tina, sudah mengidap penyakit itu beberapa bulan yang lalu, dan beliau juga rutin melakukan kemoterapi,'' jelas Dokter Sam.


Ardi lagi-lagi dibuat shock dengan penjelasan sang Dokter. Dia benar-benar tidak menyangka, selama ini wanita sekuat Tina menyimpan penyakit yang begitu ganas, bahkan terbilang mematikan.


Rasa penyesalan seketika datang menghampiri hatinya. Bayang-bayang di mana dia tidak memperdulikan Tina, di mana dia mencampakkan istrinya, terlintas di pikirannya saat ini. Ardi benar-benar merasa menyesal.


Maafkan aku, Tina. Aku tidak pernah mengetahui tentang ini semua. Kenapa kau menyembunyikannya, dariku, Tina? Kenapa? batin Ardi bertanya-tanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


Penyesalan memang selalu datang terakhir bro. Kalau datangnya di awal, namanya pendaftaran. Iya nggak guys?😂😂


__ADS_2