
Happy reading........
Bunga baru saja sampai di rumah sakit, dan dia langsung menuju ruangan Tina. Namun, seketika wanita itu membulat dengan tatapan kaget, saat melihat Tina sedang duduk dan disuapi oleh Raka.
''Tina! Kamu sudah sadar?'' tanya Bunga dengan raut wajah yang kaget.
Tina menatap ke arah samping, dan dia sangat bahagia saat melihat sahabatnya berada di sana. Kemudian Bunga berjalan dan langsung memeluk tubuh Tina. Air matanya bahkan sudah tak terbendung lagi.
Senang, tentu saja dirasakan oleh Bunga. Bagaimana tidak? Melihat sahabatnya sadar dan melewati masa kritisnya, membuat Bunga benar-benar sangat bersyukur. Setidaknya Allah masih memberikan kesempatan kepada Tina untuk bahagia.
''Aku benar-benar senang sekali, kamu sudah sadar. Kamu tahu! Hidupku seperti tidak berwarna saat mendengar kamu koma. Maaf ya aku jarang ke sini, soalnya Arjuna sudah masuk sekolah. Jadi aku sedikit repot,'' ucap Bunga.
''Tidak apa-apa, jangan cemas. Oh iya, bagaimana kabarnya Mentari?'' tanya Tina.
Sejenak Bunga menatap ke arah Raka, tetapi pria itu hanya mengangkat kedua bahunya saja, karena dia tidak ingin ikut campur.
''Kenapa kau malah menanyakan dia?'' tanya Bunga dengan ketus.
Tina yang melihat sahabatnya seperti tidak menyukai Mentari, segera menggenggam tangan wanita itu, lalu dia menatap kedua mata Bunga dengan tatapan yang sendu.
''Kenapa kamu seperti tidak suka, saat aku memanggil namanya?'' tanya Tina.
''Aku bukannya tidak suka, lebih tepatnya mungkin ke Ardi. Kalau Mentari sih, aku biasa saja. Cuma kadang aku bingung, mereka semua tertawa bahagia, karena menyambut anak kedua dari Mentari dan juga Ardi, tetapi kamu di sini malah sedang menderita? Bagaimana aku tidak marah? Bagaimana mungkin aku akan diam saja,'' jelas Bunga sambil mengepalkan tangannya.
Tina tersenyum, dia tahu apa yang dirasakan oleh Bunga. Sahabatnya itu, sudah seperti Kakaknya sendiri. Di mana saat dia tersakiti, Bungalah orang pertama yang tidak menginginkan itu.
Tina benar-benar sangat bersyukur, karena Allah telah mengirimkan sahabat sebaik Bunga. Mereka diciptakan dan dipertemukan untuk saling melengkapi, dan Tina ingin persahabatan mereka sampai ke jannahnya.
''Jangan seperti itu!nTakdir seseorang 'kan beda-beda. Mungkin dulu Mentari pernah merasakan lebih dari yang aku rasakan, hingga pada akhirnya Allah mempertemukan dia dengan Ardi kembali, dan mereka harus bahagia. Aku hanya pelengkap dalam kisah cinta mereka saja. Jangan terlalu membenci! Kita 'kan dulu pernah menjadi sahabat, aku, kamu dan Ardi,'' tutur Tina dengan bijak.
__ADS_1
Pertemuannya di alam mimpi dengan Riko, membuat Tina sadar jika di dunia ini hanyalah sementara, dan dia tidak boleh membenci seseorang begitu dalam, walaupun orang itu pernah menyakitinya.
.
.
Setelah beberapa hari Tina dirawat di rumah sakit, dan keadaannya juga sudah sedikit pulih. Saat ini dia akan pulang ke rumah, tapi untuk sementara Tina tidak akan tinggal di apartemen. Karena tante Imelda ingin Tina tinggal di rumahnya, sampai keadaannya benar-benar membaik.
Saat mereka sampai di rumah, tante Imelda menyambut kedatangan Raka dan juga Tina. Namun, saat mereka masuk ke ruang tamu, Tina cukup kaget saat melihat Ardi berada di sana.
''Mas Ardi!'' kaget Tina.
Ardi tersenyum, kemudian dia bangkit dari duduknya, lalu Tina berjalan dan duduk di sofa yang berlawanan dengan Ardi.
''Kamu apa kabar, Tina? Maaf ya, aku belum sempat menengok kamu. Tadinya mau hari ini ke sana, cuman katanya kamu mau pulang. Jadinya aku menunggu di sini,'' ujar Ardi.
''Alhamdulillah, kabar aku dan Mentari juga baik,'' jawab Ardi sambil menatap ke arah Raka yang sedang melihatnya dengan tajam.
Tentu saja Raka tidak menginginkan kehadiran Ardi di sana. Setiap kali melihat wajah Ardi, membuat Raka benar-benar marah, tetapi dia mencoba menahannya.
''Oh iya, kenapa pria itu ikut sama kamu? Dan kenapa dia yang nganterin kamu?'' tanya Ardi dengan heran sambil melirik ke arah Raka sekilas.
''Oh, nggak papa sih. 'Kan kami sebentar lagi akan menikah. Nanti kamu sama Mentari datang ya, Mas, ke acara pernikahan kami!'' ucap Tina sambil tersenyum ke arah Raka, dan pria itu juga tersenyum manis ke arahnya.
Entah kenapa, Ardi seperti merasakan ditusuk ribuan sembilu, saat mendengar Tina akan menikah lagi. Bahkan dia bisa melihat wajah bahagia mantan istrinya ketika menatap pria yang mirip dengan Riko.
''Kalian akan menikah? Atau memang, dia benar-benar Riko?'' tanya Ardi dengan tatapan menyelidik.
''Dia bukan mas Riko. Dia adalah Mas Raka, kembarannya mas Riko. Sepertinya aku tidak harus menceritakan bagaimana mas Riko mempunyai kembaran, tapi intinya, mereka orang yang berbeda. Maaf Mas, jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku mau ke kamar untuk istirahat.'' Tina mencoba untuk menghindar dari Ardi.
__ADS_1
Dia tidak mau pria itu semakin mengintimidasinya tentang Raka. Setelah itu tante Imelda mengantarkan Tina ke kamar, sementara Raka mendekat ke arah Ardi lalu menepuk pundak pria itu.
''Aku tahu, penyesalan itu memang suka datang terakhir. Dan aku juga tahu, pasti kamu cukup kaget dan sakit saat mendengar Tina akan menikah, bukan? Tapi ingatlah Bro! Semua itu sudah terlambat, tidak ada gunanya menyesali sebuah waktu yang sudah tidak bisa diputar kembali,'' ucap Raka. Setelah itu dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Ardi sendirian di ruang tamu.
Ardi terdiam, karena apa yang dikatakan Raka memang ada benarnya. Saat ini hatinya memang sakit, saat mendengar Tina akan menikah lagi, tetapi menyesali waktu yang sudah tidak bisa diputar kembali pun tidak ada gunanya.
Akhirnya Ardi pergi dari kediaman om Wira untuk menuju kantornya dengan perasaan yang luka, karena mendengar sebentar lagi Tina akan menikah.
.
.
Saat ini Mentari sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor suaminya, karena hari juga sudah siang. Dan sudah lama juga Mentari tidak memasak untuk Ardi.
''Novi!'' panggil Mentari pada salah satu karyawannya di restoran.
''Iya Bu,'' jawab Novi saat sudah sampai di hadapan Mentari.
''Tolong kamu pantau restoran dulu ya! Saya mau ke kantor suami saya dulu!'' titah Mentari, dan Novi langsung menganggukan kepalanya.
Dia pun menaiki mobil yang dibelikan Ardi untuknya. Setelah sampai, Mentari langsung menuju lantai atas di mana ruangan suaminya berada. Namun Mentari sedikit heran, karena pintu ruangan Ardi tidak tertutup rapat.
Saat tangannya akan membuka pintu itu dan memberikan kejutan kepada Ardi, tiba-tiba tubuh Mentari terpaku saat mendengar ucapan seseorang.
Jantungnya berdebar dengan kencang, bahkan air matanya sudah mengembun di kedua pelupuk mata. Mentari menggelengkan kepalanya. Dia berharap apa yang didengarnya saat ini adalah sebuah mimpi. Dan Mentari seperti merasakan Dejavu.
BERSAMBUNG.......
Sekarang Author akan Up 2 bab Sehari ya Semua🙏🏻Insyaallah Up rutin sampai Tamat😘😘Doakan Othor selalu sehat ya🤗
__ADS_1