
Happy reading......
Hari ini Aurora dan juga Kevin akan melakukan bulan madu, karena kebetulan mereka juga sedang libur kuliah. Dan kali ini mereka akan melakukan bulan madu ke Negara Turki.
Sebab sudah lama sekali Aurora ingin ke sana, karena berjalan ke Prancis, Kanada, Jerman dan juga yang lain Aurora sudah pernah. Tinggal ke Turki saja yang dia belum.
"Mah, Pah, Aurora sama Kevin pamit dulu ya," ucap Aurora sambil mencium tangan Bagas dan juga Bunga saat mereka berada di bandara.
"Iya, kalian hati-hati. Ingat Kevin, jaga Aurora ya!Jika sampai terjadi apa-apa sama putrinya Papa, kamu akan habis!" ancam Bagas pada menantunya tersebut.
"Siap Pah, Kevin akan jaga Aurora kok dengan nyawa Kevin sendiri," jawab pria tampan tersebut sambil merangkul pundak istrinya.
Setelah itu mereka pun pamit untuk pergi berbulan madu. Keduanya tidak menaiki jet pribadi, mereka menaiki pesawat, karena Pilot pribadi dari keluarga Bagas sedang ada halangan, jadi tidak bisa untuk bepergian.
Setelah menempuh perjalanan hampir 12 jam, mereka pun sampai di kota Istanbul. Dan keduanya sudah dijemput oleh sopir suruhan Bagas, dan langsung menuju hotel di mana keduanya akan singgah dan menghabiskan waktu bersama.
Kevin sudah membooking satu kamar hotel di salah satu Hotel ternama di Istanbul, yaitu Aren Suites.
"Sayang, kenapa kamu ngambil hotel ini? Hotel yang lain 'kan juga banyak? Walaupun memang pemandangannya sangat cantik sih," ujar Aurora saat mereka berada di balkon kamar.
"Kamu tahu kenapa aku menyewa hotel ini untuk bulan madu kita?" tanya Kevin, dan Aurora langsung menggelengkan kepalanya.
"Karena hotel ini dekat dengan tempat wisata yang akan kita kunjungi, seperti Basilica Cistern, Istana Topkapi dan juga Hagia Sophia. Kita akan mengunjungi tiga tempat itu selama kita satu minggu di sini. Bagaimana, kamu senang sayang?" tanya Kevin sambil mengecup kening Aurora.
"Aku senang banget, makasih ya," jawab Aurora sambil memeluk pinggang Kevin.
Karena malam sekian larut dan udara semakin dingin, mereka pun masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Badan mereka juga terasa begitu lengket dan lelah, sebab perjalanan yang mereka lalui cukup menguras tenaga, walaupun hanya duduk saja.
.
.
Pagi ini Aurora dan juga Kevin sudah bersiap, karena mereka akan pergi liburan ke Hagia Sofia. Tidak lupa sebelum mereka berangkat juga tadi pagi selepas shalat subuh Kevin meminta jatahnya dulu, karena cuaca di sana sangat dingin. Jadi pas untuk membuat adonan.
Aurora begitu masuk ke dalam masjid tersebut dia begitu terpana melihat keindahan dan arsitektur dari bangunan itu. Sudah lama sekali Aurora ingin ke sana, dan kali ini keinginannya sudah tercapai.
"Sayang, bolehkah aku bertanya?" tanya Kevin.
"Apa itu?"
"Kenapa kamu ingin saling ke Turki? Dan kenapa kamu ingin sekali ke masjid Hagia Sofia? Memangnya apa yang menarik dari masjid ini, selain bangunan arsitekturnya yang unik?" tanya Kevin kembali sambil memperhatikan sekeliling masjid.
"Kamu tahu kenapa aku ingin sekali ke masjid ini? Karena masjid ini tuh begitu bersejarah pada zaman dulu," tutur Aurora.
"Oh ya, memangnya apa yang menarik dari masjid ini?" tanya Kevin kembali.
Kemudian Aurora pun menjelaskan tentang sejarah Masjid Hagia Sophia. Jika dulu Hagia Sophia merupakan Situs Warisan Bersejarah UNESCO yang mulanya berfungsi sebagai gereja dan berubah fungsi menjadi masjid pada tahun 1453. Selanjutnya pada tahun 1935 kembali berubah fungsi menjadi museum.
__ADS_1
Mulanya, Hagia Sophia dibangun sebagai gereja Church of Holy Spirit atas perintah Kaisar Bizantiun Justinian I pada abad ke-6.
Beberapa pilar penyangga dalam bangunan tersebut diambil dari Ephesus dan Kuil Artemis. Hagia Sophia juga merupakan salah satu dari katedral terbesar di dunia yang memiliki makna khusus bagi komunitas Orthodox.
Pada masa penaklukan Ottoman di Istanbul pada 1453, Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid. Bangunan dipercantik dengan arsitektur yang menampilkan elemen khas Kesultanan Ottoman.
Beberapa elemen seperti mihrab dan mimbar, tempat para ustad berceramah, ditambahkan. Bahkan, sebuah perpustakaan juga dibangun di dalamnya.
Pada 1935, Hagia Sophia diubah menjadi sebuah museum. Meski begitu, dekorasi asli dari mosaik bunga dan geometris dari abad ke-7 masih bertahan.
.
.
Setelah mereka berjalan-jalan di masjid bersejarah tersebut, keduanya makan di sebuah restoran dekat tempat wisata tersebut. Dan mereka memesan makanan khas Turki, tidak lupa Aurora juga memesan kebab makanan khas dari negara itu.
"Lho, sayang. Kamu di Indonesia aja sering makan kebab. Kok ini malah pesan kebab lagi?" bingung Kevin, karena dia sering melihat Aurora memakan makanan itu saat berada di Indonesia.
"Itu 'kan di Indonesia. Sekarang kita lagi berada di Turki. Rasanya pun beda, kamu mau nggak makanan khas di sini?" tanya Aurora.
"Kamu aja deh yang pesenin, kayaknya kamu lebih tahu soal negara Turki dibandingin aku. Kalau aku mungkin Perancis, Jerman dan Belanda aku tahu, tapi Turki aku belum menguasainya," jelas Kevin.
"Oke, kalau gitu aku pesen makanan, manti, dondurma, baklava, kumpir sama simit."
"Banyak banget sayang makanannya, yakin bakal habis?" ujar Kevin sambil menggaruk pelipisnya.
"Apapun itu buat kamu sayang, akan aku lakuin," jawab Kevin sambil mengusap pipi Aurora dengan lembut.
.
.
Hari-hari mereka lewati bersama di Turki dengan indah dan juga menyenangkan. Aurora juga begitu sangat dimanjakan oleh Kevin. Bahkan tak ayal jika dia pegal-pegal kakinya karena terus berjalan-jalan, Kevin bahkan tidak sungkan untuk memijitnya.
Pria itu sangat menyayangi Aurora, walaupun usia mereka masih muda, tapi Kevin begitu dewasa. Dia tahu bagaimana menjadi seorang Imam, menjaga istri, menyayangi bahkan memberikan kebahagiaan lahir dan batin.
'Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikanku suami yang begitu sangat baik dan menyayangiku. Tidak kusangka, ternyata Kevin adalah pria yang selama ini ku dambakan. Walaupun pada awalnya kami sama-sama berhati kulkas,' batin Aurora sambil mengusap rambut Kevin yang saat ini tengah tidur di sampingnya.
Melihat wajah tampan itu, Aurora berharap jika pernikahan mereka akan langgeng sampai kakek nenek, dan keduanya akan bahagia sampai ajal menjemput. Dan Aurora juga berharap suatu hari nanti dia akan dikaruniai beberapa anak yang begitu lucu dan imut.
"Kenapa belum tidur?" tanya Kevin yang memejamkan matanya.
"Aku kira kamu sudah tidur sayang," jawab Aurora.
"Bagaimana mungkin bisa aku tertidur, sedangkan bidadariku saja masih terjaga," ujar Kevin sambil membuka matanya, kemudian menatap mata indah milik istrinya tersebut.
"Kamu tahu, apa yang membuatku bersyukur sampai hari ini?" tanya Kevin sambil memegang tangan Aurora, lalu mengecupnya dengan lembut.
__ADS_1
"Apa itu, sayang?"
"Aku bersyukur, karena Tuhan mempertemukan kita. Memberikanku bidadari secantik dirimu. Aku jatuh cinta kepadamu, bukan karena kamu orang berada, bukan karena kepintaranmu, bukan juga karena kecantikanmu. Tapi hatimu lah yang membuat semua itu begitu sangat istimewa. Kebaikan dan juga hati yang tulus membuat aku terpikat akan pesona Aurora," jelas Kevin sambil menatap kedua mata Aurora dengan dalam.
Wanita itu tersipu malu saat mendengar pujian suaminya. Tanpa Aurora sadari, cinta Kevin begitu dalam kepadanya, bahkan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku juga berharap kita akan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Kita disatukan sampai akhir hayat, dan setelah nanti kita dipersatukan kembali di jannahnya. Aku juga bersyukur mempunyai suami seperti kamu, tidak kusangka pria se es batu kamu juga sangat hangat dan juga romantis. Padahal tadinya aku pikir, tipikal cowok seperti kamu itu sangat kaku dan tidak peka, tetapi ternyata aku salah," kekeh Aurora.
"Aku akan hangat hanya pada orang-orang yang kusayangi saja," jawab Kevin sambil mencubit hidung Aurora dengan gemas.
"Karena sekarang kita lagi bulan madu, sebaiknya kita bikin adonan setiap malam yuk!" goda Kevin sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Aurora, membuat wanita itu menjadi malu dan langsung mencubit pinggang Kevin.
"Kamu ini. Ini baru jam 22.00 loh?" kesal Aurora sambil menekuk wajahnya.
"Membuat adonan tidak harus melihat jam sayang." Kevin berkata sambil membalikkan tubuh Aurora, lalu keduanya pun melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri untuk menghangatkan tubuh satu sama lain.
.
.
Sedangkan di tempat lain, saat ini Tina dan juga Raka sedang bermain ke kediaman Anjasmara. Karena Tina juga meminta tolong kepada Bunga untuk membantunya menyiapkan acara 4 bulanan 2 minggu lagi.
"Apakah kamu sudah USG? Lalu jenis kelaminnya apa? Apakah cowok lagi, atau cewek lagi?" tanya Bunga sambil mengelus perut Tina yang mulai membesar.
"Aku tidak terlalu berharap, apapun itu aku dan juga mas Raka menerimanya. Mau itu cewek ataupun cowok, karena anak itu adalah anugerah. Jadi kami tidak ingin mematokkan antara perempuan ataupun laki-laki," jawab Tina sambil mengusap perutnya.
"Betul, Mama setuju! Jangan mematokan kita ingin anak cowok ataupun cewek. Karena anak itu adalah rezeki yang Allah berikan kepada kita. Banyak di luaran sana yang tidak mempunyai anak, dan banyak juga di luaran sana bahkan sampai mengadopsi di Panti Asuhan, memancing untuk mereka bisa hamil. Tapi nyatanya jika Allah belum berkehendak, mereka bisa apa?" timpal mama Ranti sambil duduk di ruang tamu.
"Tapi Mama berharap, saat ini kamu mengandung anak perempuan. Jadi biar sepasang, Langit dan Bumi kan laki-laki. Nah yang ini harus perempuan," kekeh mama Ranti.
"Aamiin ... semoga saja ya, Mah. Doain aja supaya nanti Tina lahirannya lancar," ujar Tina sambil tersenyum ke arah mantan mertuanya tersebut.
Tak lama terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam, "Assalamualaikum." Ternyata itu adalah Mentari, Luke dan juga Ardi.
"Waalaikumsalam, eh kalian sudah datang. Ayo sini duduk!" ujar mama Ranti mengajak Ketiga orang itu untuk duduk.
"Sudah ada Mbak Tina ternyata," ujar Mentari sambil mencium tangan Tina begitupun dengan Luke.
Mama Ranti memang sengaja mengundang mereka semua ke sini, karena sesuai permintaan Tina juga. Dia ingin Mentari juga terlibat untuk acara 4 bulanannya nanti, walaupun mereka pernah menjadi madu, tetapi Tina masih menganggap Mentari sebagai adiknya, dan mereka masih berhubungan baik sampai saat ini.
Mungkin jika orang lain, selepas menjadi mantan madu mereka akan bermusuhan atau komunikasi pun akan terhambat. Tetapi tidak dengan Tina, Mentari dan juga Ardi. Mereka bertiga masih komunikasi baik dan tidak menyimpan dendam satu sama lain.
"Wah, aku sudah tidak sabar Mbak ingin segera melihat keponakanku yang baru. Apakah mereka sepasang cewek cowok atau semuanya cewek?" seru Mentari dengan wajah berbinar.
"Doakan saja, apapun itu Mbak menerimanya kok," jawab Tina.
"Kemudian mereka pun mulai merencanakan untuk acara 4 bulanan nanti, karena Tina ingin yang spesial di acara nanti. Sebab setelah kehamilan ini, Tina akan menjaga jarak dulu, karena mungkin kali ini Tina akan dioperasi sesar dan tidak bisa melahirkan normal. Dia berharapnya bisa melahirkan normal kembali, tetapi Dokter menyarankan untuk lahiran sesar.
__ADS_1
BERSAMBUNG......