Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Kalian Menikah Saja


__ADS_3

Happy reading.....


Semenjak tante Imelda dan juga om Wira mengetahui jika Raka adalah putranya. Dia meminta pria itu untuk tinggal di rumahnya, karena walau bagaimanapun, Raka adalah bagian dari keluarga tersebut. Dan tante Imelda beserta om Wira tidak ingin kehilangan putranya kembali.


Malam ini semua tengah berkumpul di meja makan. Di sana juga ada Tina dan juga Raka. Memang tante Imelda memasak spesial untuk menyambut kedatangan Putra tercintanya.


''Mah, Pah, besok mungkin Tina sudah tidak di sini lagi,'' ujar Tina di sela-sela makannya.


Tante Imelda tersedak makanannya, kemudian dia menegak habis minuman yang berada di atas meja, lalu menatap Tina dengan heran begitupun om Wira dan juga Raka.


''Lho, kenapa sayang? Kok kamu nggak mau tinggal di sini lagi? 'Kan ini juga rumah kamu. Kamu anak kami, Nak,'' ucap tante Imelda yang tidak ingin Tina pergi.


''Iya, aku tahu, tapi 'kan Raka juga bukan muhrim aku Mah, Pah. Jadi tidak baik serumah dengan seorang pria yang notabenya tidak sedarah dengan kita. Aku harap, Mama dan Papa mengerti. Lagi pula, nanti aku akan sering main ke sini. Bagiku kalian tetaplah orang tuaku,'' jelas Tina.


Om Wira dan tante Imelda saling melirik satu sama lain. Mereka terdiam beberapa saat, begitu pun dengan Raka. Dia tidak bisa berkata apapun, karena apa yang dikatakan oleh Tina ada benarnya. Mereka tidak ada hubungan darah dan hanya akan menjadi gunjingan warga.


''Ya sudah, kalau emang itu keputusan kamu. Papa nggak bisa larang, tapi satu hal Nak, kamu adalah anak kami, jadi sering-seringlah menengok orang tuamu ini ya!'' jawab om Wira.

__ADS_1


Tina mengganggukkan kepalanya. Dia benar-benar bahagia, karena memiliki orang-tua seperti tante Imelda dan om Wira. Namun, tiba-tiba saja tante Imelda memberikan sebuah ide yang konyol.


''Bagaimana kalau kamu tetap tinggal di sini, dan kamu menikah dengan Raka,'' celetuk tante Imelda tiba-tiba.


Kali ini bukan tante Imelda yang tersedak, melainkan Raka dan Tina. Mereka kaget dengan ucapan wanita itu yang mengatakan, jika mereka harus menikah, sedangkan belum ada cinta di hati mereka masing-masing.


''Mama bicara apa sih?'' heran om Wira sambil menggelengkan kepalanya.


''Loh, apa yang Mama bilang 'kan benar? Lagi pula, Tina sudah kita anggap sebagai Putri kita sendiri, dan Raka adalah putra kita. Jadi, tidak ada salahnya bukan mereka menikah? Lagi pula, Tina juga sudah bercerai dari suaminya,'' jelas tante Imelda.


Raka membulatkan matanya saat mendengar ucapan sang Mama. Dia tidak menyangka jika Tina sudah bercerai dari Ardi. Selama ini, dia tidak pernah mendengar kabar wanita itu selama di Thailand, dan ternyata Tina sudah bebas dari pria sekejam Ardi.


''Mah, kenapa berbicara seperti itu? Tina 'kan masih dalam masa iddah. Dia baru saja bercerai dengan Ardi. Tidak baik menerima lamaran dari pria lain, apalagi sampai menikah sebelum masa iddahnya selesai. Lagi pula, biar Tina yang menentukan jodoh untuk hidupnya.'' Om Wira berkata dengan bijak sambil menggenggam tangan sang istri


Dia tidak mau jika Tina merasa tidak nyaman dengan ucapan istrinya. Walaupun jauh di dalam lubuk hati, om Wira dia juga menginginkan Tina bersanding dengan Raka.


''Iya Mah, Tina juga belum siap membuka hati untuk pria lain. Tiga kali gagal dalam percintaan, membuat Tina sedikit trauma akan adanya rumah tangga,'' jelas Tina.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, dia beranjak dari duduknya. ''Maaf Mah, Pah, Tina sudah kenyang. Kalau begitu Tina duluan ya.''


Wanita itu berjalan meninggalkan meja makan menuju taman belakang. Sedangkan tante Imelda merasa tidak enak, karena sudah menyinggung perasaan putrinya. Dia tidak bermaksud seperti itu, hanya saja tante Imelda ingin Raka dan juga Tina bersatu.


''Pah, Mama merasa tidak enak deh sama Tina. Dia marah nggak ya, sama Mama? Atau ucapan Mama tadi menyakiti hatinya?'' kata tante Imelda dengan khawatir.


Om Wira memegang tangan istrinya sambil mengusapnya dengan lembut, kemudian dia menggelengkan kepala.


''Jangan khawatir! Tina tidak marah. Hanya saja, kita juga perlu untuk mengerti keadaannya saat ini. Di mana tidak mudah baginya untuk percaya kembali dengan namanya cinta, Mah,'' ujar om Wira.


''Kalau begitu, Mama akan bicara sama Tina.'' Tante Imel beranjak dari duduknya untuk menyusul Tina.


Raka hanya diam saja, dia selama ini tidak tahu jika Tina sudah gagal dalam percintaan selama tiga kali. Raka berpikir, mungkin saja Tina sudah pernah menikah selama tiga kali, dan selama itu pula dia gagal dalam rumah tangganya.


*Ja*di Tina sudah gagal dalam rumah tangga selama tiga kali? Kasihan sekali dia, pasti itu membuatnya trauma. batin neraka


Sementara Tina sedang merenung di taman belakang. Dia masih mengingat ucapan tante Imelda yang menginginkan dirinya bersanding dengan Raka.

__ADS_1


*Y*a Allah, saat ini aku masih belum siap untuk membuka hatiku lagi dan berumah tangga kembali. Rasanya aku benar-benar trauma, takut jika akan gagal untuk kesekian kalinya. batin Tina dengan wajah yang sedih.


BERSAMBUNG.......


__ADS_2