
Happy reading......
Tina tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan calon suaminya saat mama Imelda melarang dia untuk berbicara dengannya. Pasti pria itu saat ini sedang mengamuk di kamar.
Hari ini sesuai dengan apa yang ditetapkan, adalah acara siraman dan juga pengajian Tina di rumah tante Imelda, di mana semua keluarga dari Anjasmara datang. Akan tetapi, pihak laki-laki datang ke apartemen Raka, sedangkan pihak perempuan ke kediaman tante Imelda.
Setelah acara selesai, dan jam juga sudah menunjukkan pukul 05.00 sore, Bunga mendekat ke arah Tina kemudian dia memeluk tubuh sahabatnya.
"Selamat ya! Aku doakan, semoga rumah tanggamu kali ini langgeng sampai kakek nenek. Tidak ada hambatan apapun, dan semoga bahagia selalu menyertaimu," kata Bunga.
"Aamiin ya Allah, terima kasih untuk doa baiknya. Aku juga berharap, ini adalah pernikahan terakhirku. Di mana aku menggapai bahagia bersama keluarga kecilku," jawab Tina sambil melihat ke arah Cahaya, di mana sedang bermain dengan tante Imelda dan juga mama Ranti.
Mentari mendekat ke arah Tina, kemudian dia menggenggam tangan wanita itu. Mereka mungkin pernah menjadi madu, tetapi tidak membuat keduanya saling membenci satu sama lain.
"Aku berdoa, semoga pernikahan Mbak dilancarkan dan kalian berumah tangga langgeng sampai kakek nenek. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Mbak ya," ucap Mentari sambil tersenyum ke arah Tina.
Mendengar itu, Tina langsung memeluk tubuh Mentari. Dia tahu, jika wanita yang saat ini berada di hadapannya, adalah wanita yang sangat baik. Akan tetapi, karena statusnya yang menjadi madu, terkesan jelek. Padahal di sini Mentari tidak salah.
"Terima kasih ya, atas doa baik kamu. Semoga kembali kepada kamu juga dan mas Ardi. Aku berharap, walaupun kita pernah berada dalam satu rumah tangga di masa lalu, tetapi tetap menjadikan kita saudara. Dan jangan pernah putus tali silaturahmi, karena sama saja memutus tali rezeki," jelas Tina.
"Iya Mbak, Insya Allah kita tidak akan pernah memutus tali silaturahmi," jawab Mentari.
Ketiganya pun menatap ke arah dua keluarga yang saat ini sedang bercengkrama. Ada rasa senang di hati Mentari dan juga Tina, saat melihat kebahagiaan di wajah tante Imelda dan juga mama Ranti.
'Jika saja kebahagiaan ini yang dulu aku lihat, saat bersama dengan mas Ardi, mungkin saja aku akan bahagia. Tapi aku percaya, Allah sudah menyiapkan kebahagiaan yang abadi untukku, yaitu bersama dengan mas Raka dan Cahaya!' batin Tina.
__ADS_1
.
.
Malam ini Mentari baru saja dari kamar Luke, dan dia melihat Ardi sedang memangku laptopnya. Kemudian wanita itu pun duduk di sebelah Ardi, sambil menyandarkan kepalanya.
"Sayang, bagaimana acara di apartemennya Tuan Raka, apa semuanya berjalan lancar?" tanya Mentari sambil menatap ke arah laptop yang saat ini sudah menampilkan data-data perusahaannya Ardi.
"Alhamdulillah lancar," jawab Ardi tanpa menoleh ke arah Mentari sedikitpun. Karena saat ini dia tengah fokus pada pekerjaannya.
Pagi telah tiba, malam berganti dengan matahari yang sudah bersinar menyerukan cahayanya untuk menghangatkan bumi.
Saat ini di kediaman Anjasmara sudah siap. Mereka akan menghadiri acara Ijab Qobul Tina, dan juga Raka. Kemudian mereka pergi menggunakan dua mobil.
Sesampainya di sana, ternyata semua sudah berkumpul. Tamu juga sudah banyak yang berdatangan. Entah entah itu dari kolega bisnisnya Raka atau dari kolega bisnisnya om Wira.
Raka terlihat begitu sangat gugup. Sedari tadi dia terus aja meremas kedua tangannya di bawah meja, di depan penghulu. Keringat dingin bahkan sudah mengalir di pelipis Raka. Padahal di sana udara cukup dingin, karena ada AC dan juga kipas angin.
"Rileks saja, jangan terlalu tegang!" ucap om Wira pada putranya.
"Gimana nggak tegang Pah. Ini pertama kalinya aku melakukan ijab qobul," jawab Raka sambil setengah berbisik ke arah sang papa.
"Hey boy, jangan salah. Papa juga pernah ada di posisi kamu. Sebaiknya tarik nafas yang dalam, kemudian hembuskan secara perlahan. Ulangi beberapa kali, sampai perasaanmu jauh lebih. Tenang sajax asalkan kamu ingat nama istrimu, jangan sampai nama wanita lain yang kau sebutkan?" goda om Wira.
Raka yang mendengar itu pun menekuk wajahnya. Bukannya mendukung putranya yang sedang gugup, tapi om Wira malah meledeknya.
__ADS_1
"Baiklah, apa semuanya sudah siap? Apa acara sudah bisa dimulai?" tanya penghulu saat semua orang sudah berkumpul.
"Sudah Pak, bisa dimulai acara ijab kabulnya," jawab om Wira.
Kemudian penghulu itu menjabat tangan Raka. Dia mengucapkan Ijab kepada pria itu, dan Raka menarik nafasnya secara dalam, kemudian dia mengucapkan ijab qobul dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, Sah?" tanya penghulu pada semua orang.
"Sah!" jawab semua yang ada di sana.
Raka bernapas dengan lega, sebab dia bisa mengucapkan ijab qobul dalam satu kali tarikan nafas. Tadinya pria itu hampir saja kepleset namanya Tina, jika saja bayang-bayang calon istrinya tidak ada dalam benak Raka.
Sedangkan di kamar lantai atas, Bunga baru saja mendapatkan kabar dari Bagas, jika acara ijab kabulnya sudah selesai. Kemudian dia membawa Tina untuk turun ke lantai bawah.
Wanita itu memakai gaun pengantin dengan hijab syar'i dan juga cadarnya. Dan saat dia turun, semua mata tertuju kepada Tina. Walaupun wanita itu tidak memperlihatkan kecantikannya. Namun bisa dilihat dari mata indah milik Tina, jika dibalik cadar tersebut keindahan yang sesungguhnya telah disembunyikan.
Sampai di sana, Tina langsung duduk di samping Raka, kemudian dengan lembut Raka menyematkan cincin di jari manis Tina. Begitupun sebaliknya, lalu dia mencium tangan Raka. Kemudian pria tersebut yang sudah bergelar menjadi suaminya, mencium kening Tina dan semua tidak luput dari fotografer.
Hingga saat berada di pelaminan, Mentari dan juga Ardi pun mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Bahkan Ardi sudah mengikhlaskan Tina, dan dia berharap Raka bisa membahagiakan wanita itu.
Tina benar-benar sangat bahagia, karena saat ini dia sudah kembali menjadi seorang istri. Padahal baru beberapa bulan wanita itu bergelar menjadi janda untuk kedua kalinya, tetapi ternyata takdir Allah begitu indah saat semua dijalani dengan ikhlas.
Hingga tidak terasa malam pun telah tiba, acara resepsi juga telah selesai. Saat ini Tina sedang berada di kamar untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Cahaya tidur bersama dengan tante Imelda, sebab dia tidak ingin malam pertama antara putra dan juga menantunya terganggu karena tangisan Cahaya.
"Astaga, kenapa aku gugup gini ya? Serasa kayak baru pertama kali aja menghadapi hal seperti ini?" gumam Tina saat baru masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......