Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Menjadi Kaluarga Yang SAMAWA


__ADS_3

Happy reading.......


Bunga dan juga Bagas tengah menunggu di kamar sang mama. Mereka begitu khawatir dengan keadaan mama Ranti.


Bunga juga tahu, pasti mama Ranti sangat terpukul atas apa yang baru saja dia dengar. Wanita itu pasti sangat syok dengan kelakuan Putra bungsunya.


"Bagaimana Dok, keadan istri saya? Dia baik-baik aja 'kan?" tanya papa Randy pada sang Dokter dengan raut wajah yang sudah dilanda kekhawatiran.


"Nyonya Ranti hanya kelelahan saja, terlalu banyak pikiran," jawab Dokter tersebut.


Kemudian beliau memberikan resep vitamin, setelah itu pergi dari kediaman Anjasmara diantar oleh Bunga.


Tak berselang lama, mama Ranti mengerjapkan matanya, dan dia melihat semua orang tengah berkumpul. Di sana ada Ardi dan juga Mentari.


Seketika air matanya lolos membasahi pipi, dia merasa telah gagal menjadi seorang ibu dan juga orang tua dalam mendidik putranya. Entah apa kesalahan yang mama Ranti lakukan semasa dulu, sehingga dia memiliki Putra yang senang kali berzina dan bermain wanita.


Papa Randy pun tidak ubahnya seperti mama Ranti, dia merasa gagal dalam mendidik anaknya. Padahal papa Randy tipekal orang yang sangat bertanggung jawab dan juga setia. Tidak pernah dia menyakiti hati istrinya, tapi entah kenapa, sifatnya tidak turun kepada Ardi, hanya menurun kepada Bagas saja.


"Mama benar-benar kecewa sama kamu, Ardi. Apa yang ada di dalam otak kamu, hah! Sehingga kamu lagi-lagi berzina dengan seorang wanita yang bukan muhrimmu? Apa kamu sudah gila, Ardi?! Kamu mau menorehkan kotoran di wajah kami, hah!" bentak mama Ranti sambil berderai air mata.


Papa Randy yang berada di samping istrinya segera mengusap pundak wanita Itu. Dia mencoba menenangkan amarah sang istri, walaupun papa Randy juga sebenarnya geram dengan kelakuan Ardi.


Sementara itu, Ardi hanya diam saja. Dia tahu jika di sini dialah yang salah. Akhirnya pria itu pun mendekat ke arah mama Ranti dan bersimpuh di kaki wanita yang sudah melahirkannya tersebut.


"Maafkan Ardi, Mah, tapi itu semua bukan keinginan Ardi. Tidakkah Mama dan Papa mendengar penjelasan dari dia, jika wanita sialan itu yang menjebakku! Kalau saja aku tidak dijebak, mungkin aku tidak akan pernah melakukan itu semua. Aku sendiri pun tidak sadar dengan apa yang kulakukan, karena aku di bawah pengaruh obat," jawab Ardi membela dirinya sendiri.


"Tetapi seharusnya kamu bisa menjaga imanmu. Kamu bisa menjaga diri, dari wanita ular sepertinya!" bentak mama Ranti.

__ADS_1


"Sudah, sudah! Tidak usah ada lagi yang berdebat! Di sini bukan hanya Ardi yang salah, tapi Sasa juga mempunyai andil yang sangat besar. Wanita itu sudah menjebak Ardi, dan di sini tidak sepenuhnya Ardi yang salah. Kita bicarakan lain kali saja, saat amarah sudah meredam di hati kalian! Karena jika memutuskan dalam keadaan emosi, hasilnya tidak akan baik," ujar Bagas dengan bijaksana.


Setelah itu, Bagas keluar bersama dengan Bunga. Apalagi dia harus ke kantor, ditambah Bunga juga harus mengantarkan Aurora ke sekolah.


Sementara Mentari juga harus bersiap-siap, dia akan berangkat ke restoran untuk menghindari Ardi sekaligus menenangkan pikirannya. Bahkan dia tidak menghiraukan tawaran suaminya untuk mengantar ke restoran.


.


.


Dengan kabar bahagia yang Tina dapatkan, hari-harinya semakin berwarna. Dia juga memutuskan untuk memakai cadar, agar pribadinya lebih baik kembali dalam menjaga auratnya sebagai seorang wanita.


Dia juga sudah tinggal di apartemennya lagi, tidak di kediaman tante Imelda. Dan saat ini Tina baru saja selesai memandikan Cahaya, dia akan membawa bayi kecil itu ke butiknya, karena hari ini di butik Tina sedang ada syukuran.


Mengetahui kesembuhannya, Tina tentu saja sangat bersyukur. Dia bukan hanya memberikan donasi saja ke panti asuhan, tetapi Tina juga memesan makanan dan akan dibagikan ke orang-orang yang tidak mampu yang berada di kolong jembatan dan juga jalanan.


Ternyata yang datang adalah Raka. Pria itu sejenak terpesona dengan penampilan baru calon istrinya. Dia begitu sangat kagum, karena Tina sudah banyak berubah.


"Sayang, kamu sekarang memakai cadar?" tanya Raka sambil menatap wajah cantik wanita itu, walaupun hanya terlihat matanya saja


Tina menganggukkan kepalanya, tanpa melihat ke arah Raka. "Iya Mas, aku ingin belajar menjadi orang yang lebih baik lagi dalam penampilan maupun akhlak," jawab Tina.


"Ini aku mau mengantarkan salad buah yang dibikin oleh Mama," ujar Raka. Kemudian dia masuk ke dalam apartemen Tina, ingin bertemu dengan Cahaya.


Pria itu pun langsung menggendong Cahaya dan bermain dengan bayi mungil tersebut. Sementara Tina bersiap-siap, karena mereka akan pergi ke butik. Di sana juga sudah ada tante Imelda dan juga om Wira yang sudah menunggunya.


"Ayo Mas, kita berangkat!" ajak Tina, dan Raka hanya mengangguk sambil menggendong Cahaya.

__ADS_1


"Waah! Mereka benar-benar keluarga yang sangat romantis dan serasi sekali ya?" ucap salah satu penghuni apartemen yang ada di sana.


Tina hanya tersenyum saja di balik cadarnya, begitupun dengan Raka, dia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagia lewat senyumnya, saat orang mengira jika mereka sudah menikah.


"Aku berharap, apa yang mereka ucapkan akan menjadi kenyataan. Kita akan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah," ujar Raka saat mereka berada di dalam lift.


"Aamiin ..." jawab Tina sambil menangkupkan tangannya ke wajah.


Mobil pun meninggalkan apartemen, hingga setelah menempuh perjalanan 30 menit mereka pun sampai di butik milik Tina, di mana semua orang saat ini sudah berkumpul, tetapi butik itu sengaja ditutup dan dibuka hanya untuk karyawan saja.


Di sana juga sudah ada Ustadz yang akan memimpin doa. Hingga tidak terasa acara sudah selesai, dan saat ini tante Imelda dan juga om Wira sedang bermain dengan Cahaya.


"Saya sengaja mengumpulkan kalian dalam pengajian ini, karena ingin mengucapkan rasa syukur, sebab Allah sudah menyembuhkan penyakit saya. Ini bisa dibilang sebagai mukjizat dan juga keajaiban, di mana kita percaya, jika tidak ada yang tidak mungkin dikabulkan oleh Allah. Dan saya merasakan itu." Sejenak Tina menghentikan ucapannya, dia menghapus air mata yang kini sudah menetes membasahi cadarnya.


"Saya juga akan memberikan kalian bonus dan kenaikan gaji. Kalian juga boleh mengambil satu buah baju apa yang kalian mau di butik ini," sambungnya kembali.


Semua karyawan tentu saja sangat bahagia, saat mendengar Tina sudah sembuh. Selama mereka bekerja di sana, Tina memang terkenal sangat baik sebagai seorang bos. Tidak pernah mengekang mereka semua, karena total karyawan Tina ada delapan orang.


Doa-doa pun dipanjatkan oleh semua karyawan Tina, dan itu semua membuat Raka bahagia, karena bisa melihat senyum calon istrinya kembali. Walaupun dia tidak bisa melihatnya sekarang, karena tertutup cadar.


Tiba-tiba saja ponsel Raka berdering, dan ternyata itu adalah panggilan dari papahnya yang berada di Thailand.


Pria itu pun pamit untuk mengangkat telepon dulu, dan menjauh dari Tina. Karena tidak ingin mengganggu wanita itu yang sedang bercengkrama dengan seluruh karyawannya.


"Apa Pah! Baiklah, Raka akan ke sana," ucap Raka sebelum telepon terputus.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2