
Happy reading.......
"Sayang, kenapa kamu diam saja?" tanya Ardi dengan heran.
Mentari ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Ardi, tapi dia ragu. Hingga Ardi yang melihat keraguan di antara wajah istri dan juga kakaknya menjadi curiga.
Kemudian pria itu membuka selimutnya, dan seketika mata dia terbelalak kaget saat melihat separuh kakinya diamputasi. Ardi menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan Mentari yang melihat itu segera menggenggam tangan suaminya.
"Apa ini? Kenapa kakiku diamputasi? Ke mana separuh kakiku? Sayang, Kakak, kenapa kalian diam saja? Ke mana separuh kakiku?!" tanya Ardi dengan sedikit berteriak.
"Tenanglah dulu, Mas! Kakimu harus diamputasi, karena tulangnya hancur," jelas Mentari.
Pria itu segera menggelengkan kepalanya. Dia merasa itu bagaikan mimpi buruk yang terjadi di dalam hidupnya. Kemudian Ardi menatap ke arah Mentari dan juga sang kakak bergantian, seolah dia tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja didapatkan.
"Ini pasti mimpi buruk 'kan? Cepat Mentari, bangunkan aku! Aku tidak ingin bermimpi seperti ini!" pinta Ardi sambil menggenggam tangan Mentari.
"Mas, ini bukanlah sebuah mimpi. Tidakkah kamu bisa merasakan genggaman tanganku? Ini adalah kenyataan Mas," ungkap Mentari.
"Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mungkin diamputasi 'kan Kak? Kenapa lo diam aja? Jawab Kak!" teriak Ardi kepada Bagas.
Pria tampan itu mendekat ke arah sang adik. Dia mencoba menenangkan Ardi yang saat ini pasti sangat terpuruk melihat keadaannya sendiri. Walaupun Bagas kecewa dengan Ardi. Namun sebagai sang kakak, tentu saja dia merasa sedih melihat bagaimana adiknya harus kehilangan separuh kakinya.
"Kamu harus kuat! Lagi pula, di sini ada Mentari, aku juga Papa dan Mama. Kami akan selalu ada di sisimu, Ardi," jawab Bagas sambil memegang lengan sang adik.
"Kenapa hidupku seperti ini sih, Kak? Kenapa tidak pernah ada kebahagiaan yang datang dalam hidupku? Pertama aku harus kehilangan Mentari, menikah dengan Tina yang tidak pernah kucintai, dan sekarang saat aku disatukan dengan cintaku kembali, Klkenapa ujian selalu datang silih berganti?" Ardi berkata dengan air mata yang sudah tidak bisa lagi dia tahan.
__ADS_1
Bagas tidak bisa berkata apa-apa, karena memang itu semua sudah takdir. Dan dia hanya manusia biasa. Bagas cuma bisa memberikan semangat kepada sang adik, agar bisa melewati hari-harinya.
"Mas, kamu tenang aja ya! Aku dan Luke akan terus berada di sisi kamu. Kami tidak akan pernah meninggalkanmu, Mas," tutur Mentari sambil mengecup tangan Ardi.
"Kamu pasti malu 'kan mempunyai suami sepertiku yang tidak sempurna?" jawab Ardi sambil memalingkan wajahnya.
Mentari menggelengkan kepala. Tidak pernah terbersit dalam pikirannya berpikir, jika dia malu mempunyai suami seperti Ardi. Mereka sudah berjanji untuk melewati bahtera rumah tangga dalam keadaan apapun.
Jadi Mentari tidak mungkin meninggalkan Ardi, apalagi dalam kondisi seperti itu. Di mana saat ini, pria tersebut sedang membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
"Jangan pernah berpikiran seperti itu, Mas! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Walau bagaimanapun keadaannya, cinta kita itu tidak terpisahkan. Walau dengan berbagai cobaan yang menerpa, ingatlah, selama ini kita dipisahkan oleh Tuhan, tapi pada akhirnya kita disatukan kembali bukan?" jelas Mentari.
.
.
"Kalau saranku, lebih baik kamu menggunakan kaki palsu, jika memang kau tidak ingin menggunakan tongkat," usul Bagas saat semua sudah berada di ruang tamu.
"Kamu benar, Kak! Aku harus ke kantor. Jadi mungkin nanti menggunakan kaki palsu saja," jawab Ardi.
"Oh iya, dua hari lagi pernikahan Tina dan Raka akan dilangsungkan. Apa kalian akan datang?" tanya Bunga.
"Tentu saja, sayang, masa Kami tidak akan datang," ucap mama Ranti.
Akan tetapi Ardi hanya diam saja, dia merasa malu jika harus menghadiri pernikahan Tina dan Raka. Rasanya pria itu masih tidak sanggup melihat mantan istrinya bersanding dengan pria lain, apalagi dengan keadaan Ardi yang seperti ini.
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak datang. Kalian saja yang datang!" tolak Ardi.
Semua menatap ke arahnya, merasa heran kenapa Ardi tidak ingin datang ke pernikahannya Tina. Kemudian Mama Ranti pun mendekat ke arah Ardi, lalu dia menggenggam tangan putranya.
"Kamu dan juga Tina itu berakhir baik-baik, tidak ada permusuhan di antara kalian. Jadi, tidak ada salahnya jika kamu datang? Kalau sampai kamu tidak datang, tidak enak pada tante Imelda dan juga om Wira," jelas mama Ranti.
"Iya Di, bener apa yang dikatakan Mama. Lagi pula, untuk keadaanmu sekarang tidak ada yang mengolok-olok mu bukan? Jadi tidak usah malu! Semua manusia itu punya kesalahan, semua manusia itu tidak sempurna," timpal Bagas.
Sedangkan di tempat lain, Tina yang sedang berada di rumah tante Imelda saat ini tengah melakukan perawatan untuk acara dua hari lagi, karena besok akan ada pengajian dan juga siraman.
Walaupun Tina bukanlah seorang gadis, bagi tante Imelda tidak masalah. Dia ingin memperlakukan Tina selayaknya menantu yang sangat spesial, karena memang gadis itu disayangi oleh tante Imelda dan juga om Wira.
"Oh iya, Tina, apakah kamu sudah mendengar keadaan Ardi? Mama dengar jika dia kakinya diamputasi ya?" tanya tante Imelda.
"Iya Mah, aku juga udah mendengar dari Bunga. Kasihan mas Ardi, pasti dia sekarang sangat tertekan dengan keadaannya. Namun aku senang, karena ada Mentari di sisinya. Sehingga mas Ardi merasa jika dia tidak sendiri," jawab Tina.
"Mama rasa, mungkin itu adalah sebuah karma, karena selama ini Ardi tidak pernah menghargai dan juga menganggap dirimu sebagai istrinya!" celetuk tante Imelda.
"Jangan bicara seperti itu, Mah! Tina tidak pernah sekalipun membencinya. Tina anggap itu adalah ujian hidup, di mana untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Anggap aja, itu adalah sebuah batu loncatan bukan?" jelas Tina.
Setelah kesembuhan penyakitnya, Tina banyak belajar tentang hidup. Di mana setiap kejadian yang dialami wanita itu, selalu memikirkan apakah yang telah dia lakukan dan apa yang akan terjadi di masa depan, dengan semua yang pernah menimpa hidupnya.
Pikiran Tina pun semakin dewasa. Dia juga semakin mendalami agama, sehingga tidak pernah ada kebencian di hatinya kepada siapapun. Tina ingin hidupnya merasa tenang dan berdamai dengan masa lalu, walaupun menyakitkan, tetapi Tina mencoba untuk mengikhlaskan. Sebab jika hati yang ikhlas, maka penyakit pun akan jauh dari kita.
"Mama bangga sekali sama kamu! Oh iya, tadi pagi Raka nelponin terus tuh. Katanya dia mau bicara sama kamu, tapi 'kan sayang, ponsel kamu disita sama Mama. Jadi otomatis kalau dia nelpon Mama yang ngangkat," kekeh tante Imelda.
__ADS_1
Memang saat ini Tina sedang dalam masa pingitan, jadi tidak boleh bertemu dengan Raka apalagi melalui ponsel.
BERSAMBUNG.....