Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Pertanyaan Bagas


__ADS_3

Happy Reading.....


Tina pulang mengendarai mobilnya dengan keadaan yang lemas. Namun di tengah jalan, wanita itu menghentikan mobilnya sambil meremas kepala yang terasa begutu sakit.


Saat tanganya terlepas, Tina menghela napas saat melihat rambutnya yang rontok banyak. Air matanya jatuh, tapi sesegera mungkin dia hapus. Tina tak mau lemah, dia harus semangt untuk sembuh.


Kemudian dia membelokan mobilnya ke.rumah tante Imelda. Dia ingin meminta saran dari wanita yang sudah di anggap ibunya. Rasanya saat ini hanya beliaulah yang Tina bisa mintai pendapat.


.


.


Mentari saat ini sudah membersihkan diri. Dia melihat Ardi sedang duduk di tepi ranjang sambil menatapnya dengan dalam. Kemudian Ardi menepuk ranjang sebelahnya, meminta Mentari duduk di sana.


Wanita itu pun menurut, lalu duduk di samping Ardi. Kemudian Ardi meminta Mentari untuk bersender di dadanya, dan wanita itu hanya menurut saja tanpa mmbantah sama sekali.


''Sebaiknya kita bergegas, Mas. Gak enak sama mama dan yang lain juga,'' ujar Mentari. Sebab jam sudah menunjukan pukul 09.30 pagi.


''Iya sayang, kamu tahu? Aku bahagia sekali, sebab kita bisa bersatu seperti ini,'' jelas Ardi sambil menautkan jari-jari tangannya dengan tangan mungil Mentari.


''Apa kamu bahagia, menikah denganku?'' tanya Ardi kembali.


Mentari mengangguk, kemudian dia duduk tegap sambil menatap ke arah Ardi.

__ADS_1


''Mas, aku ingin sekali kamu berbuat adil kepada aku dan mbak Tina. Sekarang 'kan kamu sudah mempunyai dua istri, dan aku mau, kamu juga memberi nafkah batin kepada mbak Tina, bukan hanya aku saja. Karena itu adalah sebuah kebutuhan, dan dosa bagi seorang suami tidak memberikan nafkah batin kepada istrinya,'' jelas Mentari sambil menggenggam tangan Ardi dan menatapnya.


Pria itu melepaskan tautan tangannya, kemudian dia membuang wajah ke arah lain. Berat rasanya jika harus memberikan nafkah batin kepada Tina. Walaupun sebenarnya di tahu juga itu adalah hal yang tidak diperbolehkan oleh Islam, sebab sudah lima tahun dia bahkan tidak menyentuh Tina sama sekali.


''Aku tidak bisa, sebab aku tidak mencintainya,'' jawab Bagas sambil menghela napasnya dengan kasar.


Mentari sangat mengerti perasaan Ardi, kemudian dia menggenggam tangan suaminya, lalu memegang pipi Ardi, agar menghadap ke arahnya. Pria itu hanya menurut saja dan tidak bisa menolak.


''Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang tidak tepat. Mumpung sekarang mbak Tina masih bisa memaafkan semua kesalahan kamu, Mas, dan masih bisa menerima semuanya. Walaupun aku tahu, hatinya hancur. Belajarlah menerima dan mencintainya juga, karena aku sangat yakin, suatu saat nanti kamu akan menyesali semuanya Mas,'' ujar Mentari dengan lembut.


Setelah mengatakan itu, Mentari beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu, tapi Ardi menghentikannya. ''Apa maksud kamu? Kenapa kamu bilang, penyesalan yang akan aku dapat? Sebenarnya sesuatu apa yang sedang kamu tutupi dariku, Mentari?'' tanya Ardi dengan tatapan bingung.


Mentari hanya tersenyum saja. ''Suatu saat, kamu akan mengetahuinya Mas,'' jawab Mentari dengan singkat. Setelah itu dia keluar dari kamar.


Sementara di kamar lain, Nagas baru saja akan berangkat ke kantor, sebab kerjaan lumayan lenggang hari ini. Namun sebelum itu dia akan menanyakan perihal keadaan Tina semalam saat di meja makan kepada Bunga, sebab pria itu yakin, jika Bunga mengetahui sesuatu.


Semalam Bagas ingin menanyakannya kepada Bunga, tapi sayang wanita itu sudah tidur. Ditambah dia juga harus mengerjakan file untuk meeting nanti siang, jadi tidak sempat mengobrol dengan istrinya.


''Nah, sekarang suamiku sudah tampan. Ingat, pulangnya jangan malam-malam ya! Kita 'kan mau keluar. Nanti Aurora ngambek lagi looh,'' ujar Bunga sampai di mencium pipi kanan Bagas.


CUP!


Pria itu mengecup kening Bunga dengan lembut. Memiliki istri sepertinya membuat hidup Bagas benar-benar sempurna. Dia tidak menyangka, jika pada akhirnya kebahagiaan benar-benar datang kepada dirinya, dengan kehadiran Bunga, Aurora serta Arjuna.

__ADS_1


''Sayang, aku ingin bertanya sesuatu kepada kamu? Tapi tolong jawab aku dengan jujur!'' pinta Bagas dengan tatapan yang serius.


Bunga tersenyum kearah suaminya, dia tahu apa yang dimaksud oleh Bagas pasti tidak jauh dari hal semalam saat di meja makan. Karena Bunga sudah menduga akan hal itu. Pasti Bagas akan menanyakan kepada dirinya, sebab suaminya itu tidak gampang untuk dibohongi.


''Kamu mau menanyakan soal Tina?'' tebak Bunga, dan Bagas langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.


''Apa yang kamu sembunyikan tentang dia dariku, dan dari semua orang? Aku yakin, Tina sedang sakit bukan? Tidak mungkin, jika ada darah menetes dari hidungnya tanpa sebab?'' tanya Bagas dengan penasaran.


Bunga melepaskan pelukannya, kemudian dia berjalan ke arah jendela yang menghadap ke langsung ke balkon. Menatap langit yang cerah di luar sana, tapi tidak secerag hati sahabatnya saat ini. Karena Bunga yakin, hari-hari Tina pasti akan terasa mendung, apalagi harus serumah dengan Mentari dan Ardi.


''Jika aku mengatakan semuanya kepada kamu, Mas, apa kamu yakin, dapat menjaganya?'' tutur Bunga sambil melirik Bagas dari sudut ekor matanya.


''Kamu tidak mempercayai suamimu, sendiri?''


Bunga terkekeh, kemudian dia berbalik menatap ke arah Bagas yang sedang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Kemudian wanita itu menatap Bagas dengan dalam.


''Aku percaya, kamu dapat menyimpan sebuah rahasia. Namun yang tidak bisa aku percaya adalah, emosi kamu Mas. Setelah mendengar ini, aku yakin, kamu pasti akan murka dan tanganmu juga pasti akan melayang menghajar wajah Ardi,'' jelas Bunga.


Bagas semakin dibuat penasaran oleh ucapan istrinya. ''Apa sebenarnya yang kamu maksud? Cepat katakan! Rahasia apa yang disimpan kamu dan Tina, dariku dan dari semua orang?'' tanya Bagas dengan tak sabar.


Bunga kembali menatap kearah depan sambil menghembuskan napasnya, kemudian dia berkata, ''Sebenarnya, Tina ...'' Ucapan Bunga terhenti saat pintu kamar terkutuk oleh seseorang.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2