Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Sedikit Kecewa


__ADS_3

Happy reading......


Tante Imelda berjalan mendekat ke arah Tina, kemudian langsung memeluk tubuh putrinya. Dia tadi melihat dan mendengar apa yang dibicarakan Tina dan Ardi.


''Kenapa,.Mah? Kenapa mas Ardi memelukku dan memberiku hadiah, saat kami akan berpisah? Kenapa tidak dari dulu? Jika saja, momen ini terjadi sedari dulu, maka mungkin, aku akan mempertahankan mas Ardi, Mah.'' Tina berkata sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan tante Imelda.


Wanita itu mengerti apa yang dirasakan oleh Tina saat ini. Dia mengusap punggung putrinya, mencoba menguatkan hati Tina, walaupun kenyataannya memang hati itu saat ini tengah rapuh.


''Sabarlah sayang. Mama yakin, Allah sudah menyiapkan kebahagiaan untuk kamu. Mama tahu, jika ini sangat berat, tapi melepaskannya adalah jalan yang terbaik,'' jelas tante Imelda.


.


.


Malam ini Ardi pulang dengan wajah yang lesu, setelah pertemuannya dengan Tina tadi pagi. Dia masuk ke dalam kamar tanpa menyapa Mentari terlebih dulu yang menyambutnya.


''Mas Ardi kenapa, ya? Kok wajahnya lesu begitu? Apa ada masalah di kantor, yq?'' gumam Mentari dengan heran.


Kemudian dia mengikuti langkah Ardi masuk ke dalam kamar, dan melihat pria itu sedang membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Mentari pun akhirnya menyiapkan baju untuk suaminya.


Tak berselang lama, Ardi keluar dari kamar mandi dan langsung memakai baju yang telah disiapkan oleh Mentari. Namun, wajahnya masih terlihat begitu lesu, dan itu membuat Mentari semakin penasaran.

__ADS_1


''Mas, apa kamu sedang ada masalah?'' tanya Mentari.


''Tidak! Hanya saja, ada sedikit pekerjaan yang menguras pikiran,'' bohong Ardi.


Dia tidak mungkin mengatakan kepada Mentari, jika saat ini dirinya tengah memikirkan Tina. Ardi tidak ingin membuat Mentari cemburu dan ingin menjaga perasaan wanita itu.


Entah kenapa, Mentari melihat kebohongan di mata Ardi, karena suaminya tidak ingin menatap kedua matanya, tetapi, Mentari tidak ingin menanyakan lebih. Dia cukup tahu saja.


''Ya sudah, sekarang kita makan dulu yuk!'' ajak Mentari, dan Ardi hanya mengangguk, lalu mereka pun berjalan ke ruang makan.


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Saat ini Mentari dan juga Ardi sedang berada di kamar. Wanita itu tengah menyandarkan kepalanya di dada bidang Ardi, dan mereka juga sedang membicarakan perihal hubungan Tina dan juga Ardi.


''Jadi, Mas dan juga mbak Tina tetap akan bercerai?'' tanya Mentari.


''Iya sayang, aku dan Tina akan bercerai. Minggu depan adalah sidang pertama kami,'' jawab Ardi dengan tatapan sendu.


Seketika Mentari ingat dengan kalung yang ditemukannya kemarin malam di dalam jas milik Ardi, tetapi, tidak ada tanda-tanda jika Ardi akan memberikan barang itu kepada Mentari. Dia yang sudah kelewat penasaran pun, akhirnya menanyakan tentang kalung tersebut.


''Mas, maaf aku mau bertanya. Apakah kamu tidak ingin memberikanku sesuatu?'' tanya Mentari sambil mendongakan wajahnya.


Dahi Ardi mengkerut heran saat mendengar pertanyaan sang istri. Dia tidak mengerti apa yang Mentari tanyakan.

__ADS_1


''Maksud kamu, gimana Sayang?'' tanya Ardi dengan bingung.


''Begini, Mas. Kemarin malam aku menemukan sebuah kotak di dalam jas kamu, dan isinya adalah sebuah kalung. Apakah itu untukku? Atau ...'' Mentari menggantung ucapannya, dia tidak ingin menduga-duga.


Ardi cukup kaget, saat mendengar pertanyaan Mentari. Dia tidak menyangka, jika wanita itu sempat melihat kalung yang dia beli untuk diberikan kepada Tina, tetapi, jika berbohong pun rasanya mustahil saja.


''Itu ... eum, kalung itu ...'' Ardi terlihat bingung harus menjelaskan bagaimana tentang kalung tersebut.


Dia takut jika nanti Mentari akan marah dan cemburu, tetapi setelah dipikir-pikir, Mentari pasti bisa memahaminya. Kemudian dia pun mengatakan, jika kalung tersebut bukanlah untuknya, tetapi untuk Tina.


''Maaf sayang, sebenarnya, kalung itu untuk Tina. Aku ingin memberikannya untuk kenang-kenangan terakhir sebagai seorang sahabat, sebelum kita berpisah,'' jelas Ardi dengan nada tak enak kepada Mentari.


Wanita itu terdiam saat mendengar jawaban Ardi. Ada rasa kecewa di dalam hati Mentari, karena dia sangat menyukai kalung itu, tetapi, Mentari mencoba untuk memahami. Kemudian dia pun tersenyum ke arah suaminya.


''Tidak apa-apa, Mas, aku mengerti kok. Lagi pula, sesekali tidak apa-apa bukan, kamu memberikan hadiah kepada mbak Tina? Seharusnya kamu memberikan itu sedari dulu,'' ucap Mentari mencoba untuk baik-baik saja.


Malam semakin larut, hujan di luar pun mengguyur dengan deras, tetapi Mentari masih saja belum bisa tidur. Dia menatap ke arah samping, di mana saat ini suaminya tengah tertidur dengan lelap.


Sekuat apapun Mentari mencoba menerima sebuah poligami, nyatanya sebagai seorang perempuan, dia juga tidak ingin berbagi suami, tetapi melihat keadaan Tina itu adalah hal terkecuali.


'Apakah memang jodohku harus seperti ini jalannya, ya Allah?' batin Mentari

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Kehidupan Tina baru di Mulai. Dan apakah mentari dan Ardi bisa terus bersama ya🙄🤔


__ADS_2