Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Pindah


__ADS_3

Happy reading.......


Tante Imelda menghampiri Tina yang sedang duduk merenung di taman belakang, kemudian wanita itu duduk di samping Tina lalu menggenggam tangannya.


''Sayang, maafkan Mama ya, jika perkataan Mama tadi menyinggung kamu,'' ucap tante Imelda dengan nada tak enak hati.


Dia takut, Tina akan tersinggung dengan ucapannya, dan wanita itu marah lalu tidak ingin bertemu dengannya lagi.


''Tidak apa- apa, kok Mah. Aku tidak marah sama sekali. Hanya saja, Tina masih belum siap untuk membuka hati lagi. Mama 'kan tahu, dua kali gagal dalam rumah tangga dan satu kali gagal dalam hubungan cinta, membuat Tina masih membutuhkan waktu untuk memulai hidup yang baru lagi bersama dengan pria lain,'' jelas Tina dengan wajah sendunya.


.


.


Pagi telah menyapa, saat ini Mentari tengah menyiapkan sarapan untuk anak dan juga suaminya, tetapi dia merasa sedari malam kepalanya terasa pusing sekali. Apalagi mencium bahan-bahan dapur membuatnya mual.


akan tetapi, Mentari tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri, yaitu melayani keluarga kecilnya. Dia pun menaruh masakan yang sudah dia masak sejak pagi di atas meja, kemudian mulai membuatkan kopi untuk Ardi.


''Ya Allah, kepalaku kenapa sakit sekali ya? Rasanya serasa dipukul-pukul,'' ucap Mentari dengan lirih, sambil memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit.


Tak lama wanita itu segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, tetapi tidak ada yang keluar selain cairan, karena memang Mentari belum memakan apapun sedari pagi.


''Aku harus memanggil mas Ardi, untuk sarapan,'' gumam Mentari. Kemudian dia berjalan ke arah kamar.


Namun kepalanya terasa semakin sakit, sehingga wanita itu berpegangan kepada lemari yang berada di sampingnya sambil meremas rambut.


''Astagfirullah, Ibu kenapa?'' tanya Nana saat melihat mentari tengah meringis kesakitan.


''Nggak tahu, Na. Kepalaku sakit banget dari semalam,'' ringis Mentari.

__ADS_1


''Ya sudah, kalau begitu saya bantu ibu untuk ke kamar ya. Mari Bu,'' ucap Nana sambil memegangi tubuh Mentari.


Namun, baru saja wanita itu akan membopong Mentari ke kamar, tiba-tiba saja tubuh Mentari sudah ambruk. Dan sekuat tenaga, Nana mencoba untuk menahannya, dia benar-benar panik.


''BAPAK ...! PAK ARDI...!'' Nana menjerit memanggil nama Ardi.


Ardi yang sedang memakai dasi di kamarnya seketika menghentikan gerakan tangannya, saat mendengar jeritan seseorang di luar kamar. Kemudian dia segera berjalan menuju pintu. Dan saat Pintu itu terbuka, Ardi terbelalak kaget saat melihat Mentari sudah tak berdaya di lantai sambil ditopang oleh Nana.


''Ya ampun, sayang. Kamu kenapa?'' panik Ardi sambil menggendong tubuh Mentari.


''Tadi Ibu Mentari pingsan, Pak. Katanya kepalanya sakit,'' jawab Nana.


Ardi membawa Mentari ke kamarnya, kemudian dia menelpon Dokter dari keluarga Anjasmara untuk datang ke sana, memeriksa keadaan istri tercintanya tersebut.


.


.


Tina berjalan menuruni tangga untuk menuju meja makan. Di sana juga sudah ada tante Imelda dan juga om Wira yang sedang menunggunya. Namun Raka masih berada di kamar.


''Pagi Mah, Pah,'' sapa Tina sambil menarik kursi lalu duduk dan meminum susu buatan tante Imelda.


''Pagi anak Mama yang cantik. Waah ... kamu sepertinya benar-benar ingin meninggalkan Mama, ya?'' tante Imelda berkata dengan nada yang sedih.


Tina melihat wajah sedih perempuan itu, kemudian dia berjalan ke arah tante Imelda dan memeluknya dari samping, lalu mengecup pipinya dengan singkat.


''Mama jangan sedih dong! Kayak mau ditinggalin aku jauh aja? Lagian, apartemenku 'kan juga tidak terlalu jauh dari sini. Nanti aku akan sering main dan nengokin Mama. Atau mungkin, Mama ingin ke butik aku juga nggak papa,'' tutur Tina.


''Janji ya, kamu akan sering main ke sini!'' ucap tante Imel dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


Tina mengangguk, kemudian mereka pun saling kembali duduk. Tak lama Raka datang dan bergabung di meja makan untuk sarapan.


''Raka, nanti kamu antarkan Tina ke apartemennya ya! Sekalian kamu ke kantor,'' ucap om Wira pada putranya.


''Iya Pah, nanti Raka antarkan,'' jawab Raka sambil melirik ke arah Tina.


Setelah sarapan selesai, Raka pun mengantarkan Tina ke apartemennya. Kemudian Tina mencium tangan om Wira dan juga tante Imelda bergantian, setelah itu masuk ke dalam mobil Raka.


Tidak ada pembicaraan selama di dalam mobil, Raka hanya diam saja. Dia bingung harus mengatakan apa? Padahal, Raka ingin sekali menanyakan tentang hal pribadi kepada Tina, soal semalam.


Saat dia baru saja akan membuka suara, tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata itu dari papanya yang berada di Thailand.


Raka pun mengangkat telepon dari Papanya dan berbicara dengan Bahasa Thailand, yang tidak dimengerti oleh Tina sama sekali. Sementara wanita itu hanya menatap ke arah jalanan.


Setelah mobil Raka sampai di apartemen milik Tina, pria itu pun membantu membawakan koper milik Tina untuk naik lantai atas, di mana apartemennya berada.


''Makasih ya, kamu udah nganterin aku. Maaf, kalau aku ngerepotin,'' ujar Tina sambil menundukkan kepalanya.


''Sama-sama, nggak usah sungkan. Padahal mama sayang banget sama kamu. Dia nggak mau kalau kamu pergi dari sana, tapi apa yang kamu bilang memang ada benarnya juga,'' jelas Raka.


Tina hanya tersenyum, kemudian dia memasukkan pin-nya dan tak lama pintu terbuka. 'Kalau begitu, aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati di jalan,'' ucap Tina.


''Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu, tapi ... apa aku boleh bertanya sesuatu?'' tanya Raka sedikit ragu.


''Boleh, mau bertanya apa?'' jawab Tina.


''Aku mau bertanya soal---''


''Tina ...!'' panggil seseorang sambil berteriak hingga memotong ucapan Raka

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2