
Happy Reading ....
''Mamah, kita mau kemana?'' tanya Luke saat Mentari membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
''Kita akan ke kota, sayang. Mama ditugaskan bekerja di sana, dan nanti sekolah kamu juga akan pindah ke sana,'' ujar Mentari sambil mengusap kepala Luke dan mencium keningnya.
Setelah membereskan apa yang perlu Mentari bawa, dia pun menidurkan putranya sambil membacakan buku cerita kesukaan Luke. Karena tanpa buku cerita, Luke tidak bisa tertidur.
Saat Mentari menengok ke arah samping, dia melihat putra kecilnya sudah tertidur lelap. Kemudian Mentari menutup buku cerita itu dan menaruhnya di atas nakas. Lalu dia mengusap kepala Luke dengan lembut. Entah kenapa, ada rasa takut di hati Mentari jika di Jakarta nanti dia bertemu dengan Ardi, dan pria itu mengetahui tentang identitas Luke.
''Mama tidak ingin kehilanganmu, Nak. Mama hanya punya kamu. Sudah cukup, Mama kehilangan Papa, dan hanya kamu penyemangat Mama. Mama juga tidak bisa melupakan Papa, sebab di antara Mama dan Papa ada kamu yang menjadi penghubung. Mama berharap, kita tidak bertemu dengannya di sana. Karena Papa kamu sudah bahagia bersama wanita lain? Dan mungkin sekarang kamu juga mempunyai saudara, walaupun beda ibu,'' ucap lirih Mentari sambil menitikan air mata.
Dia menuruni ranjang dengan pelan, kemudian berjalan ke arah jendela dan menatap keluar rumah yang sedang diguyur hujan deras.
Setiap kali mengingat kejadian di mana Mentari mengetahui tentang pernikahan Tina dan Ardi, membuatnya merasakan sakit. Bahkan sakit itu tidak beda, masih sama. Begitu dalam dan menusuk serta ******* ***** hatinya.
'Aku sudah berusaha melupakanmu Kak, tapi kenapa semakin aku melupakan kamu, rasa ini semakin dalam dihatiku? Apa karena ada Luke di antara kita? Kamu sudah bahagia bersamanya, lalu kenapa rasa ini tidak pernah berubah? Kenapa kamu masih bersemayam di hatiku, Kak? Tidakkah kamu bisa pergi dariku. Tidakkah kamu bisa pergi dari hidupku, Kak?' batin Mentari sambil menatap kearah Luke dengan linangan air mata.
Pagi hari telah tiba, Mentari dan Luke sudah bersiap untuk pergi ke Jakarta. Di sana juga sudah ada sopir Bu Nur untuk menjemput dan mengantarkan Mentari serta Luke ke kota.
Mentari terus menjawab pertanyaan Luke, saat berada di dalam mobil. Sebab anak kecil seumuran Luke memang sedang aktif aktifnya, dan ingin banyak mengetahui sesuatu yang dia lihat.
__ADS_1
Akan tetapi, Luke berbeda dari anak kecil lainnya. Dia begitu pandai, bahkan Luke cepat tanggap akan sesuatu. ''Mama, nanti di sana Luke ada teman tidak ya?'' tanya Luke kepada Mentari sambil menatap jalanan.
Mentari tersenyum, kemudian dia mengusap kepala putra kecilnya. ''Pasti banyak kok, 'kan Luke anak yang baik, periang dan juga mudah bergaul. Sudah pasti banyak yang mau berteman dengan Luke,'' jawab Mentari sambil tersenyum kearah putranya.
Tidak terasa lima jam perjalanan mereka pun sampai di kota Jakarta. Mentari melihat sebuah rumah minimalis namun sangat nyaman. Kemudian sopir dari Bu Nur menurunkan barang barang Mentari dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Dia benar-benar bersyukur, karena mempunyai bos yang begitu baik. Dan Mentari juga sangat bersyukur, sebab kehidupannya tidak semenderita dulu waktu dia masih kecil. Mentari percaya, jika semua itu adalah rezekinya Luke. Putranya membawa keberuntungan kepada Mentari, karena pada dasarnya setiap anak membawa rezeki masing-masing.
''Mah, kamar Luke di mana?'' tanya Luke kepada Mentari dengan wajah yang ceria.
''Ayo, biar mama tunjukkan kamarnya.'' Mentari menggandeng tangan Luke menuju ke sebuah kamar yang dekat dengan tangga, dan mereka pun masuk ke dalam.
''Karena sudah siang, Luke bobo dulu ya! Mama akan membereskan barang-barang dulu.'' Mentari meminta Luke untuk tidur siang, dan bocah kecil itu hanya menganggukkan kepalanya sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
''Kopi saja, Mbak Mentari. Biar nanti saya tidak ngantuk di jalan,'' jawab Pak Yono sambil duduk di sofa.
Mentari melangkah ke arah dapur dan melihat isi bagian dalamnya, dan ternyata di sana sudah lengkap dari mulai gula, teh, susu serta kebutuhan lainnya.
.
.
__ADS_1
Tina baru saja selesai siap-siap, karena siang ini dia akan mengantarkan makanan ke kantornya Ardi. Walaupun Ardi selalu menolaknya, tetapi Tina tidak pantang menyerah. Dia terus berusaha mengambil perhatian suaminya.
''Kamu sudah siap, sayang?'' tanya Mama Ranti kepada Tina, dan wanita itu langsung mengangguk.
''Iya Mah, kalau begitu Tina berangkat dulu ya, takutnya Mas Ardi keburu makan siang,'' jawab Tina sambil mencium tangan Mama Ranti, lalu berjalan keluar dari kediaman Mahendra sambil menentang rantang makanan.
Senyum manis selalu terukir di wajah Tina, walaupun wanita itu sudah berusia 30 tahun, tapi Tina masih terlihat sangat cantik dan juga dewasa. Akan tetapi, siapa yang tahu jika di balik senyumnya ada sebuah luka yang menganga.
Dengan langkah pasti, Tina masuk ke dalam kantor Ardi. Semua karyawan menunduk kepada Tina, karena mereka tahu siapa Tina. Lalu dia menaiki lift untuk ke ruangan Ardi.
Namun saat Tina masuk ke dalam ruangan suaminya, dia tidak menemukan Ardi, dan Tina pun bertanya kepada sekertaris pribadi Ardi. Ternyata pria itu sedang meeting dan mungkin akan kembali setengah jam lagi. Tina pun menunggu di ruangan Ardi.
Dia penasaran dengan isi ruangan suaminya, sebab walaupun Tina sudah lima tahun menjadi istri Ardi, dia tidak pernah mengutak-atik barang milik pria itu. Kemudian Tina berjalan ke arah meja kerja Ardi dan duduk di kursi kebesaran pria itu.
Tangannya turulur membuka laci, dan seketika mata Tina membulat saat mendapati selembar foto sepasang kekasih, dengan senyum yang indah mengembang di wajah mereka.
Dengan tangan gemetar, Tina mengambil foto itu. Air matanya bahkan sudah menetes. Rasanya begitu sakit saat melihat senyum bahagia Ardi saat bersama wanita lain. Iya, foto yang dilihat Tina adalah foto Mentari dan juga Ardi.
'Ternyata benar ya, Mas. Dia masih sangat dalam di hati kamu? Bahkan sampai saat ini, kamu belum bisa melupakannya. Kamu masih suka melihat wajahnya, walaupun sekarang dia tidak tahu dimana rimba nya?' batin Tina merasa sakit.
Satu tangannya memegang dada, dia meremas bajunya dengan keras. Karena saat ini Tina merasakan sesak yang begitu dalam dan hancur berkeping-keping. Padahal dia sudah tahu jika Ardi tidak mencintainya, dan hanya mencintai Mentari. Akan tetapi, entah kenapa melihat foto itu, Tina merasakan jika jiwanya hancur.
__ADS_1
''Kenapa rasanya sesakit ini, ya Allah? Bahkan lebih sakit saat dulu aku mencintai Ardi. Apa karena sekarang dia suamiku? Aku mungkin mempunyai raganya, tetapi tidak dengan hatinya dan juga pikirannya.'' gumam Tina dengan lirih, kemudian dia menaruh foto itu kembali ke dalam laci.
BERSAMBUNG