
Happy reading.....
Setelah keluarga Kevin dan juga beberapa kerabat pulang, karena hari juga sudah semakin malam. Anggi saat ini tengah berada di kamar Aurora..Xia masih menekuk wajahnya saat mengingat kejadian tadi.
"Yaelah, buah manggis, masih aja cemberut? Lo masih kesel sama masalah tadi?" tanya Rika dan Anggi langsung menganggukkan kepalanya.
Aurora yang sedang melakukan ritual malamnya di depan cermin menoleh ke arah Anggi, "Emang ada kejadian apa?" tanya Aurora.
"Itu Ra, sahabat lo ini lagi kesel sama asisten dari calon suami lo, Siapa tuh namanya, gue juga lupa?" ujar Rika.
"Kalau nggak salah sih, namanya Tuan Reza. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Aurora yang masih penasaran.
Kemudian Anggi pun menceritakan tentang kekesalannya kepada pria tersebut, dan Aurora hanya manggut-manggut kepalanya saja.
"Yaelah, cuma gara-gara masalah kayak gitu aja. Gue kira masalah apaan? Tapi memang dari wajahnya sih terlihat dia kaku ya, macam Kevin sih. Waktu pertama gue kenal juga dia kaku, tapi ternyata aslinya orangnya hangat," jelas Aurora.
"Nggak tau ah, bodo amat. Pusing gue!" K
ketus Anggi, kemudian dia menarik selimut dan mulai memejamkan matanya.
"Awas lo, jangan terlalu benci. Ntar suka jadi bucin bahaya deh?" ledek Rika
"Berisik!" ketus Anggi.
.
.
Malam telah berganti dengan pagi, matahari pun telah terbit menyeruakan cahayanya menyinari bumi. Kemudian Anggi, Rika dan juga Aurora sudah bersiap untuk ke kampus. Akan tetapi, Anggi tidak ikut sebab kelasnya akan ada nanti siang, jadi dia berangkat agak telatan.
"Ya udah, kalian duluan aja. Gue mau ke toko buku dulu, kayaknya novel penulis gue udah launching deh," ucap Anggi.
"Eh, yang Aisyah az, ya. Gue titip satu ya, soalnya gua gak sempet nih ke Gramedia!" pinta Aurora dengan wajah memelas.
Anggi mengangkat kedua jempolnya, kemudian mereka pun berpisah. Aurora dan juga Rika menaiki mobil, sedangkan Anggi pergi menggunakan ojek online. Sebab dia memang tidak membawa mobil, karena semalam ke sana menggunakan mobilnya Rika.
Saat di tengah jalan, tiba-tiba saja motor yang dinaiki oleh Anggi mogok. Dan mau tidak mau dia harus turun dan berganti menaiki taksi.
__ADS_1
Saat sedang menunggu taksi, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di hadapannya. Anggi merasa heran namun juga was-was. Dan saat dilihat ternyata itu adalah Reza, asisten pribadi Kevin
"Haduh ... si kulkas tujuh pintu," gumam Anggi dengan nada yang tak suka.
"Kamu sedang apa di sini, Nona?" tanya Reza yang sudah turun dari mobil.
"Sedang joget. Emangnya nggak lihat, kalau aku sedang nunggu taksi!" jawab Anggi dengan ketus.
Mendengar jawaban dari gadis tersebut, Reza menarik sudut bibirnya secara tipis. Kebetulan dia memang baru saja pulang meeting bersama klien, dan tiba-tiba saja pria tersebut melihat Anggi di sana, jadi berinisiatif untuk menyapanya.
"Ayo aku antar," tawar Reza sambil membukakan pintu mobil.
"Oh, tidak usah Tuan. Terima kasih. Saya bisa naik taksi kok," tolak Anggi sambil tersenyum.
"Mau sampai kapan nunggu taksi? Hari juga sudah mulai panas. Sudah ayo! Saya tidak akan meminta ongkos bayaran kok," tutur Reza.
Anggi memutar bola matanya dengan malas, kemudian dia pun masuk ke dalam mobil pria tersebut. Dan Reza menanyakan ke mana Anggi akan pergi dan gadis itu menjawab ke Gramedia.
Mobil pun melaju menuju tempat di mana gadis itu akan membeli buku, dan selama di dalam mobil tidak ada pembicaraan. Sebab Anggi juga malas untuk bertanya kepada pria sedingin Reza.
Sampai tidak terasa mobil pun telah sampai di Gramedia. Anggi segera membuka pintu mobil. "Terima kasih ya, sudah mengantarkanku Tuan," ucap Anggi kemudian dia keluar dari mobil milik Reza.
.
.
Zedangkan di tempat lain, Mentari sedang menyiapkan pembukaan karena dia mengundang keluarga Anjasmara untuk buka bersama di rumahnya.
Tiba-tiba saja mama Ranti datang, karena dia ingin membantu Mentari dan mereka pun mulai memasak untuk menyiapkan acara nanti sore.
"Sayang, apakah kamu sudah dengar jika Tina saat ini tengah mengandung lagi?" tanya mama Ranti pada Mentari.
"Iyakah Mah? Waah ... ahamdulillah, aku turut senang mendengarnya. Apakah kembar lagi?" tanya Mentari dengan wajah bahagia.
Mama Ranti menganggukan kepalanya, tetapi entah kenapa wajahnya menjadi sendu. Dan Mm
entari yang melihat itu pun merasa bingung.
__ADS_1
"Mama kenapa? Kok malah sedih?" tanya Mentari sambil menggenggam tangan mama Ranti.
"Nggak papa, Mama cuma terharu aja. Sekarang Tina sudah bahagia bersama dengan Raka. Bahkan mereka sudah ingin mempunyai anak kembar lagi? Mungkin karena genetik keturunan dari Raka yang notabenya kembaran Riko. Mama tidak bisa bayangkan jika nanti rumah tersebut pasti akan ramai oleh anak-anak kembar mereka," ujar mama Ranti.
Mentari yang mendengar itu entah kenapa merasa cemburu, tapi dia mencoba untuk menghilangkan perasaan tersebut. Mentari mencoba untuk berpositif thinking.
Dia juga senang mendengar Tina hamil kembali, dan tanpa terasa Mentari pun mengusap perutnya, dia berharap dia pun bisa mengandung lagi.
"Oh ya sayang, apa kamu tidak ingin menambah omongan lagi bersama dengan Ard?" tanya mama Ranti.
"Ingin sih Mah, tapi mungkin belum Allah kasih aja," jawaban Mentari sambil memotong sayuran.
"Mama berharap, kamu dan juga Ardi segera diberikan momongan lagi ya sayang," ucap mama Ranti.
"Aamiin ya Allah ... makasih Mama doanya." Mentari menjawab sambil memeluk tubuh mertuanya.
Kemudian mereka pun melanjutkan masaknya, karena Mentari juga akan mengundang Yoga beserta istrinya. Sebab dia baru mendapatkan pesan dari Yoga, jika pria tersebut sedang berada di Jakarta.
Sudah lama sekali Mentari tidak melihat sahabatnya tersebut. Terakhir pertempurannya dengan Yoga saat mereka berada di rumah sakit, dan saat Mentari mengandung anak kedua.
"Oh ya sayang, ini banyak banget masaknya. Emangnya ada orang lagi?" tanya mama Ranti.
"Iya Mah, aku mengundang kak Yoga datang bersama dengan istrinya. Soalnya dia bilang lagi di Jakarta buat ngurus kerjaan, jadi aku pikir nggak ada salahnya ngundang dia. Aku juga udah izin sama mas Ardi," jelas Mentari.
"Yoga? Maksud kamu, Yoga sahabat pria kamu itu?" tanya mama Ranti kembali dan Mentari langsung menganggukkan kepalanya.
Namun, saat Mentari tengah memasak tiba-tiba saja dia mendapatkan telepon dari seseorang, dan saat dilihat ternyata itu adalah Yoga. Wanita itu pun langsung mengangkat telepon darinya.
"Iya halo, Assalamualaikum kak," ucap Mentari saat telepon tersambung.
(....)
Terlihat raut wajah Mentari sangat panik, matanya membulat kaget dengan satu tangan menutup mulut. "Apa! Kecelakaan? Kakak serius?"
(....)
"Baik-baik, aku ke sana sekarang!" Setelah itu telepon pun terputus.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....