
Happy reading.....
''Raka, bagaimana keadaan Tina?'' tanya Sherly tiba-tiba yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
Raka tidak menjawab, kemudian Sherly langsung berjalan menuju ke ranjang pasien, di mana saat ini Tina tengah terbaring lemah dengan berbagai alat di tubuhnya.
''Tin lo nggak apa-apa 'kan? Gue datang ke sini, karena semalam kata temen, lo pingsan? Lo kenapa lagi, senang banget deh bolak-balik masuk rumah sakit? Terus sekarang, ngapain lo nginep di sini? Mendingan sekarang lo pulang sama gue yuk!'' ajak Sherly sambil menggenggam tangan Tina.
Namun, sayang, tidak ada pergerakan sama sekali dari Tina..Dan itu membuat Sherly bertanya-tanya kepada Raka tentang kondisi sahabatnya.
''Raka, Tina tidak apa-apa 'kan? Kenapa dia nggak bangun-bangun? Dia cuma tidur 'kan? Kenapa lo diem aja? Jawab pertanyaan gue, Raka!'' bentak Sherly dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Edwin yang baru saja masuk ke dalam merasa heran, saat melihat kekasihnya tengah menangis sambil memegangi tangan Tina.
''Jawab! Kenapa lo diem aja?'' tanya Sherly sekali lagi.
''Dokter mengatakan, jika Tina sedang koma, dan keadaannya sangat kritis,'' jawab Raka dengan lesu.
Tubuh Sherly seketika menjadi lemas. Untung saja Edwin ada di belakangnya dan langsung menangkap tubuhnya. Dia menangis dalam pelukan sang kekasih. Bagaimana tidak? Sherly benar-benar sedih dengan keadaan Tina sekarang.
''Tin, aku mohon, bangunlah! Katanya kamu mau ikut jalan-jalan melihat Paris? Bukankah kita akan mewujudkannya? Kamu ingin berfoto di Menara Eiffel bukan? Lalu, kenapa sekarang kamu malah tidur di sini? Ayo bangunlah! Jangan membuatku menangis,'' ucap Sherly dengan suara yang purau.
''Sayang, jangan seperti ini! Yang ada, nanti Tina nya semakin sedih, kalau kamu menangis,'' ujar Edwin sambil mengusap air mata di pipi kekasihnya.
''Tuh, lo denger sendiri 'kan Tina! Gue itu nggak pernah nangis. Jadi lo orang pertama yang buat gue jadi cengeng kayak gini. Mending sekarang lo bangun, sebelum gue pukul nih!'' ancam Sherly.
Namun sia-sia saja, tidak ada perubahan sama sekali. Tina masih tertidur dan tidak merespon ucapan Sherly.
__ADS_1
.
.
Tante Imelda dan juga mama Ranti pulang dengan raut wajah yang sedih, bahkan terlihat sangat sembab. Sebab sedari tadi, tante Imelda terus aja menangis, dia takut terjadi apa-apa kepada Tina.
Sesampainya tante Imel di kediaman Anjasmara, dia langsung duduk di ruang tamu dengan badan yang lesu. Sementara mama Ranti meminta pelayan untuk membawakan minum.
''Diminum dulu Jeung, kita harus berdoa supaya Tina cepat sadar dari komanya,'' ucap mama Ranti sambil mengusap bahu tante Imelda.
Bunga baru saja menidurkan Cahaya di kamar, kemudian dia berjalan ke arah ruang tamu, di mana ternyata tante imelda dan juga mama mertuanya sudah datang dan pulang dari rumah sakit.
Padahal sedari dari tadi, Bunga terus menunggu kabar dari tante Imelda ataupun mamanya tentang keadaan Tina. Dia begitu mencemaskan sahabatnya tersebut.
''Mah, Tante, sudah pulang? Aku kira tadi belum pulang. Gimana tentang keadaan Tina? Dia baik-baik aja 'kan? Tina cuma cek-up kayak biasa 'kan?'' tanya Bunga dengan tidak sabar.
Namun, tante Imelda dan juga mama Ranti hanya diam saja. Mereka tidak sanggup untuk mengatakan kepada Bunga tentang keadaan Tina yang sebenarnya. Sebab, mereka sangat yakin, jika Bunga mengetahuinya pasti wanita itu akan sangat sedih.
Entah kenapa, perasaan Bunga menjadi tidak enak saat melihat diamnya Tante Imelda maupun mama Ranti.
''Mah, Tante, ayolah jawab! Aku lagi nunggu jawaban kalian ini!'' seru Bunga dengan wajah yang sudah terlihat cemas.
''Tina saat ini sedang koma dan kritis,'' jawab Tltante Imelda sambil menundukkan kepalanya.
Air matanya kembali mengalir deras. Dia tidak bisa menahan kesedihan di dalam hati, walau sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
Bunga yang mendengar itu, tentu saja sangat kaget. Badannya langsung lemas. Seketika dia memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa begitu sesak, saat mendengar keadaan Tina.
__ADS_1
''Nggak mungkin! Tina nggak mungkin koma, Tante. Dia wanita yang kuat. Bagaimana mungkin, Tina bisa koma? Apa Tante tidak bisa melihat bagaimana dia berjuang saat disakiti Ardi? Bahkan mengorbankan perasaannya untuk membahagiakan Ardi. Tidak mungkin, jika sekarang Tina koma? Tante, itu tidak mungkin!'' Bunga berkata dengan suara yang sedikit serak, bahkan air matanya sudah mengalir deras.
Tante Imelda dan juga mama Ranti hanya diam menunduk dengan wajah yang sedih. Sementara itu, papa Randy juga terlihat sangat syok saat masuk ke dalam ruang tamu dan mendengar ucapan Bunga.
'Apa! Jadi mbak Tina sekarang lagi koma?' batin Mentari yang baru saja masuk ke dalam kediaman Anjasmara.
Kemudian dia meminta Nana untuk membawa Luke bermain di taman belakang, sementara Mentari melangkah menuju ruang tamu.
Ada rasa penyesalan dan bersalah di dalam ketiga hati orang tersebut, yaitu Mentari, papa Randy dan juga mama Ranti. Mereka benar-benar miris mendengar keadaan Tina sekarang.
Saat ini mungkin mereka tengah bahagia menanti cucu kedua, tetapi ada perasaan yang selama ini berkorban untuk mereka, yaitu Tina.
'Aku benar-benar merasa sangat egois. Tina berkorban untuk kebahagiaan Ardi dan juga Mentari, hingga sekarang dia harus terbaring lemah di rumah sakit. Aku benar-benar gagal dalam mendidik anakku,' batin papa Randy.
''Assalamualaikum,'' ucap Mentari yang baru saja masuk ke dalam ruang tamu.
''Waalaikumsalam,'' jawab semua orang serempak sambil menoleh ke arah samping.
Mentari mencium tangan papa Randy dan juga mama Ranti bergantian, tidak lupa dia juga mencium tangan tante Imelda.
Bunga yang melihat Mentari masuk ke dalam ruang tamu, seketika bangkit dari duduknya, kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam kamar.
Sementara Mentari menatap Bunga dengan heran. Entah kenapa, dia merasa saat ini Bunga tengah marah kepada dirinya.
Memang Bunga sengaja pergi meninggalkan ruang tamu, karena entah kenapa, dia melihat Mentari sekarang tak suka. Bagaimana tidak? Mereka tertawa bahagia, sedangkan Tina sedang menderita.
Sahabatnya terlalu banyak mengorbankan kebahagiaan untuk Mentari dan juga Ardi, dan itu membuat Bunga semakin berpikir jika hidup itu tidak adil.
__ADS_1
'Apa mbak Bunga benci ya sama aku? Kenapa tatapannya seakan tidak suka, saat aku tadi masuk ke sini? Tidak seperti biasanya yang hangat? Ada apa ini ya Allah?' batin Mentari merasa bingung dengan sikap Bunga.
Bersambung......