Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Pria Mirip Riko


__ADS_3

Happy reading.....


''Hai, kenalin, aku Raka,'' ucap pria itu sambil mengulurkan tangan ke arah Tina.


Bukannya menjawab, Tina malah terus menatap ke arah Raka dengan air mata yang sudah lolos membasahi pipi. Ketiga orang yang berada di hadapannya menatap Tina dengan bingung saat melihat wanita itu menangis.


''Tina, are you okay? Kenapa kamu menangis?'' tanya Sherly dengan panik, saat melihat sahabatnya menangis.


Tanpa menjawab ucapan Sherly, Tina langsung memeluk tubuh Raka. Dia menangis tersedu-sedu, sedangkan Raka yang tiba-tiba saja dipeluk merasa bingung. Dia menatap ke arah Sherly dan juga sepupunya, tapi kedua orang itu hanya menganggukkan bahunya tidak tahu.


''Kenapa kamu kembali lagi, Mas? Kamu tahu! Aku begitu merindukanmu,'' ucap Tina sambil menangis dalam pelukan Raka.


''Maaf Nona, siapa yang Anda maksud?'' bingung Raka.


Tina tersadar, kemudian dia melepaskan pelukannya, lalu menatap Raka dengan lekat. Wanita itu benar-benar malu, karena sudah secara tiba-tiba memeluk pria yang berada di hadapannya. ''Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja


Saya pikir, Anda itu ...'' Tina tidak melanjutkan ucapannya.


''Saya kenapa, Nona?'' tanya Raka dengan penasaran.


''Tidak apa-apa, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf. Wajah Anda mengingatkan saya pada seseorang yang sangat saya cintai,'' jelas Tina. Karena dia tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka.


Raka menganggukkan kepalanya tanda mengerti, kemudian Sherly meminta Tina untuk duduk sambil memberikan tisu kepada sahabatnya, untuk mengelap air mata yang sudah deras mengalir di pipi.


Mereka pun mulai untuk makan siang, tetapi tetap saja tatapan Tina terus mengarah kepada Raka. Wajah tampannya mengingatkan dia kepada Riko karena mereka benar-benar sangat mirip. Tina tidak menyangka, jika di dunia ini ada seseorang yang begitu sangat mirip, bahkan 90% tidak ada celah sama sekali.

__ADS_1


Ya Tuhan! Kenapa wajahnya begitu mirip? Permainan apa yang sedang kau berikan padaku, Ya Allah? batin Tina.


''Oh ya, tadi kamu belum menjawab pertanyaanku. Namaku Raka, nama kamu siapa?'' tanya Raka, karena sedari tadi Tina terus aja memperhatikan dirinya.


''Namaku Tina, senang bertemu dengan Anda,'' jawab Tina.


Wajah Raka benar-benar mengingatkan Tina kembali kepada Riko. Sedari tadi dia tidak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya . Sementara itu, Raka hanya memaklumi saja, kenapa Tina terus saja memperhatikan dirinya.


Saat makanan telah habis, Tina pamit untuk pulang. Namun seketika kepalanya terasa begitu sakit, hingga tubuhnya oleng. Untung saja Raka sigap menangkap tubuh Tina, hingga wanita itu tidak jadi jatuh ke lantai.


''Are you okay?'' tanya Raka.


''I'm oke,'' jawab Tina sambil tersenyum. Kemudian dia mencoba untuk berdiri lagi, tetapi tetap saja kepalanya terasa begitu sakit.


''Tidak usah! Aku mau pulang saja. Sepertinya aku butuh istirahat,'' jawab Tina.


Kemudian Sherly meminta Raka untuk mengantarkan Tina pulang, tetapi wanita itu menolak. Namun, Raka menyanggupi untuk mengantarkan Tina. Sebab dia kasihan kepada wanita itu yang sedari tadi menahan sakit di kepalanya, apalagi wajah Tina sekarang sedikit pucat.


Mau tidak mau Tina pun pulang diantar oleh Raka, menggunakan mobilnya. Dan selama perjalanan, Tina terus saja menyandarkan tubuhnya di jok mobil, sebab kepalanya benar-benar sakit. Dia tidak sanggup hanya untuk mengeluarkan satu patah kata.


Saat sampai di kediaman Anjasmara, Raka membantu Tina untuk turun dari mobil. Dan saat mereka akan melangkah masuk, tiba-tiba tubuh Raka ditarik oleh seseorang lalu dipukul dengan keras, hingga membuat pria itu terhuyung ke bawah.


''Berani sekali kau memegang istri orang, hah!'' bentak Ardi.


Pria itu memang sengaja pulang cepat ke rumah, sebab rencananya dia akan mengajak Tina makan malam di luar. Namun saat dia sampai dia teras, matanya membulat ketika melihat Tina dibopong oleh seorang pria, dan itu membuatnya sangat geram.

__ADS_1


Saat Ardi akan melayangkan tinjunya kembali ke arah Raka, tiba-tiba saja ditahan oleh Tina. ''Jangan Mas! Tolong jangan pukul dia!'' pinta Tina.


Ardi mencebik, kemudian dia menatap Tina dengan tajam. ''Kenapa? Karena dia ini pacarmu, hah! Kau memintaku menikah dengan Mentari, tapi ternyata kau sudah mempunyai lelaki lain? Keterlaluan!'' bentak Ardi.


Tina merasakan sakit di bagian ulu hatinya. Kata-kata Ardi begitu menusuk dengan tajam tepat mengenai jantungnya. Dia tidak menyangka, jika Ardi bisa berkata seperti itu tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.


''Kenapa kamu berbicara seperti itu, Mas? Kamu salah paham! Dia itu hanya mengantarkan aku pulang,'' jelas Tina sambil memegang lengan Ardi. Namun pria itu menepisnya dengan kasar.


''Halah! Gak usah ngeles deh, kamu. Sekarang aku tahu, dia ini pacar kamu, 'kan? Oh, atau jangan-jangan ... karena wajah dia mirip dengan Riko, makanya kamu mau sama dia? Dan itu hanyalah alasan kamu ingin mempersatukan aku dengan Mentari, iya 'kan!?'' bentak Ardi kembali.


Raka yang sejak tadi diam, kemudian melangkah ke arah Ardi dan juga Tina.


''Tolong Tuan, jangan marahi istri Anda. Saya hanya membantunya pulang, karena dia tadi sedikit tidak enak badan, dan kami tidak ada hubungan apapun. Jadi tolong, jangan bawa-bawa nama saya dalam rumah tangga kalian!'' tegas Raka. Setelah itu, dia pergi meninggalkan kediaman Anjasmara.


Pria itu tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga Tina dan juga Ardi. Walaupun sedikit banyaknya dia paham tentang apa yang dimaksud oleh Ardi. Mungkin saja memang wajahnya mirip dengan seseorang yang spesial di hati Tina, tapi itu tidak membuat Raka untuk menghancurkan rumah tangga orang lain.


Setelah membentak Tina, Ardi masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal. Dia tidak menghiraukan panggilan Tina sama sekali, hatinya benar-benar kesal melihat bagaimana istrinya dipegang oleh pria lain. Walaupun dia tidak mencintai Tina, tetapi entah kenapa, Ardi tidak ingin pria lain mendekati wanita itu.


''Kamu benar-benar egois, Mas. Sangat egois!'' gumam Tina sambil menatap kepergian Ardi dengan linangan air mata.


Satu tangannya meremas dada yang begitu sangat menyakitkan. Luka di hatinya belum sembuh, tetapi Ardi sudah menambahnya kembali. Dia bingung, kenapa pria itu marah saat Raka membantu dirinya? Padahal, Tina memang benar-benar membutuhkan pertolongan. Apalagi saat ini kepalanya seperti di tusuk-tusuk dan dihantam oleh benda keras.


''Kuatkan aku, ya Allah. Kuatkan aku,'' ucap Tina dengan lirih sambil memegangi kepalanya. Lalu dia berjalan masuk ke dalam kediaman Anjasmara.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2