
Happy reading......
Pagi hari Ardi bangun, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Namun ada yang aneh, saat tangannya memegang sesuatu yang lembek dan juga penuh. Seketika pria itu pun membuka mata, dan Ardi terbelalak kaget saat melihat Sasa berada di sampingnya.
Kemudian tangan Ardi terulur untuk membuka selimut, dan betapa kagetnya dia, saat melihat jika tubuhnya tidak memakai apapun. Begitu juga dengan Sasa. Pria itu langsung beranjak dari duduknya, kemudian memakai celana Boxer.
''Apa yang telah kulakukan? Apa yang terjadi semalam? Bagaimana ini bisa terjadi? Ya Tuhan, kenapa bisa aku dan Sasa ...'' Ardi tidak meneruskan ucapannya. Dia merasa frustasi sambil menjambak rambutnya sembari duduk di tepi ranjang.
Sasa mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian dia menggeliat lalu melihat Ardi yang sedang duduk di tepi ranjang. Wanita itu tersenyum saat mengingat bagaimana pergumulan panas mereka semalam.
''Kamu sudah bangun, Di?'' tanya Sasa dengan suara yang purau khas bangun tidur.
Ardi menengok ke arah Sasa dengan tajam, kemudian dia berdiri dan menatap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian dan amarah. Ardi yakin, Salsa pasti telah memperdaya dirinya semalam.
''Apa yang kau masukkan semalam dalam minumanku, HAH!'' bentak Ardi sambil menunjuk wajah Sasa.
Wanita itu tidak takut sedikitpun. Dia malah tersenyum, lalu beranjak dari tidurnya dengan tubuh yang polos tanpa malu sedikitpun di hadapan Ardi.
''Bukannya semalam kamu yang melakukannya? Kenapa kamu malah marah-marah?'' tanya Sasa sambil mengalungkan tangannya di leher Ardi.
Dengan amarah yang sudah naik ke puncak ubun-ubun, Ardi mendorong tubuh Sasa dengan kasar, hingga terbanting ke atas ranjang. Membuat wanita itu sedikit kaget dengan perlakuan kasar Ardi.
''Kamu dengar ya! Jika semalam terjadi sesuatu dengan kita, itu bukan karena kemauanku, tapi kamu yang menjebakku. Apa tujuanmu melakukan itu, hah! Untuk menghancurkan rumah tangga aku bersama dengan Mentari? Jika itu tujuanmu, maka aku pastikan kau akan hancur, Sasa! Selama ini aku diam, bukan berarti aku luluh denganmu. KAU PAHAM!'' bentak Ardi dengan nada yang tinggi. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Pria itu menyalakan shower, lalu mengguyur tubuhnya di bawah air yang dingin. Beberapa kali dia menampar wajahnya sendiri, seakan merasa dirinya begitu kotor karena telah membiarkan seseorang yang tidak pernah dia cintai menyentuh tubuhnya.
__ADS_1
''Bodoh kau, Ardi! Bodoh! Kenapa semalam kau tidak sadar? Apa yang Sasa lakukan kepadamu, Ardi? Aaghh!'' Ardi menggeram sambil menonjok dinding kamar mandi beberapa kali, hingga membuat tangannya memar.
Sementara itu, Sasa tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana tidak? Semalam dia memasukkan obat perangsang kepada Ardi, dan dosisnya sangat tinggi. Sehingga membuat Ardi tidak ingat apapun, karena di bawah pengaruh obat tersebut.
''Aku tidak perduli, mau dengan cara kotor sekalipun. Aku akan tetap mendapatkanmu, Ardi! Dan aku yakin, kamu tidak akan pernah bisa menghancurkanku! Itu hanya gertakanmu saja,'' ucap Sasa dengan lirih.
.
.
Sementara di tempat lain, tante Imelda baru saja sampai di kediaman Anjasmara. Dia menitipkan Cahaya kepada Bunga, karena satu-satunya sahabat yang dekat dengan Tina adalah Bunga.
''Memangnya, Tante mau ke mana? Lalu, Tina nya di mana, Tante? Kenapa dia tidak mengasuh Cahaya?'' tanya Bunga dengan heran kepada tante Imelda.
''Semalam Tina pergi bersama dengan Raka, ke acara ulang tahun temannya, tapi sudah jam 21.00 malam, mereka tidak pulang. Dan ternyata, saat Tante menelpon Raka, dia mengatakan jika Tina sedang berada di rumah sakit, dan pingsan. Jadi, Tante mau ke sana untuk melihat keadaan Tina. Kamu bisa 'kan menjaga Cahaya sebentar, sampai tante kembali?'' ucap tante Imelda dengan raut wajah yang sedih.
''Iya Tante. Tante ke rumah sakit aja! Biar Cahaya sama Bunga. Nanti kalau ada apa-apa, Tante jangan lupa kabarin Bunga ya!'' jawab Bunga dengan raut wajah yang cemas.
Tante Imelda mengangguk, kemudian dia keluar bersama dengan mama Ranti. Mereka berdua pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Tina.
''Ya Allah, selamatkanlah sahabatku. Sesungguhnya Engkaulah penggenggam jiwa, dan hanya kepada-Mu lah aku meminta kesembuhan untuknya. Sesungguhnya, Engkau juga mengetahui, bagaimana kerja kerasnya untuk mendapatkan kesehatan darimu. Ya Allah, maka kabulkanlah. Ya Allah kabulkanlah,'' ucap Tina sambil mencium pipi Cahaya beberapa kali.
.
.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, tante Imelda langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan di mana keberadaan Tina. Dan ternyata wanita itu masih berada di ruangan ICU. Mereka pun langsung menuju ke sana.
Saat sampai di sana, tante Imelda melihat putranya sedang duduk dan membaca Al-quran di samping tubuh Tina yang sedang terbaring lemah dengan berbagai alat di tubuhnya.
Seketika tas yang dipegang oleh tante Imelda jatuh ke lantai, tubuhnya hampir saja oleng jika tidak ditahan oleh mama Ranti.
Raka menghentikan bacaan ayat suci Al-qurannya, lalu menengok ke arah belakang, di mana saat ini mamanya tengah berdiri sambil menangis menatap ke arah Tina.
''Mama!'' kaget Raka, kemudian dia menutup Al-quran lalu berjalan ke arah sang mama.
''Raka, bagaimana keadaan Tina, Nak? Dia baik-baik aja 'kan? Apa dia sudah makan? Kenapa Tina tidak membuka matanya?'' tanya tante Imelda pada putranya saat berdiri di samping Tina.
Raka terdiam, dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap ke arah tante Imelda. Dan diamnya membuat wanita itu semakin yakin telah terjadi sesuatu kepada putrinya.
''Kenapa tidak menjawab? Apa yang terjadi kepada Tina, Raka? Jawab Mama!'' seru tante Imelda dengan nada yang sudah naik satu oktaf.
''Tina dia ... dia koma, Mah,'' jawab Raka dengan lesu.
Bagai disambar petir di pagi hari, tante Imelda sudah tidak bisa lagi menahan rasa kagetnya. Akhirnya dia pun pingsan saat mendengar, jika putrinya tengah koma. Raka yang melihat itu segera menahan tubuh sang mama, lalu menidurkannya di atas sofa.
''Mah ... bangun Mah! Raka mohon, jangan seperti ini!'' ucap Raka sambil menepuk-nepuk pipi sang mama.
Sementara mama Ranti mengoleskan minyak angin di dekat hidung wanita itu, agar cepat tersadar. Dia juga merasa kasihan dan sedih saat melihat keadaan Tina.
'Aku bahagia bersama dengan Mentari dan Ardi, tetapi Tina malah menderita? Aku pikir, setelah dia bercerai dengan Ardi, kebahagiaan akan datang menyertainya, tapi kenapa penderitaan tidak pernah hilang dari hidup Tina, Ya Allah? Sembuhkanlah putriku, Ya Rabb!'' batin Mama Ranti menatap sendu ke arah Tina.
__ADS_1
Tiba tiba saja pintu ruangan ICU terbuka, dan masuklah seseorang, hingga membuat semua mata tertuju padanya.
BERSAMBUNG.......