Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Pulang


__ADS_3

Happy reading.....


Tak lama Dokter keluar dari ruangan. Setelah itu, Raka dan juga tante Imelda menanyakan tentang keadaan Tina, karena mereka benar-benar cemas pada wanita itu.


''Bagaimana keadaannya, Dok?'' tanya Raka.


''Saat ini, keadaannya cukup lemah, tapi kami sudah menanganinya, sebab kanker yang ada di otaknya masih ada, dan tidak terangkat semua. Jadi Bu Tina harus benar-benar bedrest, dan jangan banyak pikiran. Sebab jika itu terjadi, maka akan menyebabkan beliau drop kembali,'' jelas sang Dokter.


''Baik Dok, terima kasih,'' ucap Raka.


Kemudian Dokter tersebut pun pergi dari sana bersama dengan Suster, setelah itu Raka dan juga tante Imelda masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Tina.


Tante Imelda langsung memegang tangan Tina, dia begitu miris melihat keadaan wanita yang sudah dianggap sebagai putrinya. Hatinya benar-benar merutuki kebodohan Ardi yang telah menyia-nyiakan wanita seperti Tina.


.


.


Ardi pulang ke rumah dengan wajah yang kesal. Padahal di sana sedang ada keluarga Anjasmara, karena baru saja selesai syukuran. Lalu pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa dengan sedikit kasar.


''Kamu kenapa, Di? Kok wajahnya ditekuk kayak gitu?'' tanya papa Randy saat melihat anaknya pulang.


''Gimana aku nggak kesal, Pa. Mama dan Papa tahu nggak! Menantu kesayangan kalian itu, telah membohongi kita semua!'' kesal Ardi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


''Siapa yang kamu maksud itu? Kalau ngomong yang jelas dong!'' timpal mama Ranti saat datang ke ruang tamu, kemudian ikut duduk di samping suaminya.


Ardi membuang napasnya dengan kasar, kemudian dia menegakkan tubuh, memandang semua orang yang ada di sana.


''Siapa lagi, kalau bukan Tina!'' geram Ardi, kemudian dia menatap ke arah lain.


''Tunggu! Tina? Bukannya Tina sedang ada di Bali, liburan sama tante Imelda?'' timpal Bunga.

__ADS_1


''Nyatanya dia tidak ada di Bali. Aku baru saja ke Rumah Sakit, menjenguk klienku yang kemarin kecelakaan, tapi apa? Aku melihatnya berada di Rumah Sakit bersama dengan pria lain. Dia merasa teraniaya, sedangkan dia sendiri selingkuh!'' kesal Ardi.


''Apa!'' kaget Bunga dan juga Mentari bersamaan.


Kedua wanita itu saling melirik satu sama lain, saat mendengar jika Tina sedang berada di Rumah Sakit. Kemudian mereka menatap ke arah Ardi dengan tatapan yang serius.


''Mas, kamu serius, melihat mbak Tina ada di Rumah Sakit?'' tanya Mentari, dan Ardi hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap.


''Serius sayang, aku melihatnya bersama dengan pria lain. Benar-benar keterlaluan! Aku sudah memintanya untuk pulang, dan nanti saat dia pulang, kalian harus ada! Sebab, aku akan mengumumkan sebuah keputusan,'' jelas Ardi. Setelah itu, dia beranjak meninggalkan ruang tamu untuk ke kamarnya.


Mama Ranti dan juga papa Ardi sering melirik satu sama lain. Mereka seakan tidak percaya dengan ucapan Ardi. Namun, melihat raut wajah putranya yang begitu marah, mau tidak mau pasangan suami istri itu pun percaya.


Namun, mereka tidak bisa memutuskan sebelah pihak saja, sebab harus mendengar dan melihat buktinya secara langsung. Kemudian tatapan mama Ranti mengarah kepada Bunga dan juga Mentari, karena reaksi mereka barusan benar-benar membuatnya bingung.


''Kenapa kalian kagetnya seperti itu? Apa ada yang sedang kalian sembunyikan?'' tanya mama Ranti dengan tatapan menyelidik.


Kedua wanita itu tergagap, bingung harus menjawab apa. Padahal bibir Bunga sudah gatal, ingin sekali mengatakan, jika saat ini pasti Tina sedang dirawat di Rumah Sakit.


Sementara Mentari beralibi masuk ke dalam kamar untuk berbicara dengan Ardi, walaupun kenyataannya itu untuk menghindari kedua mertuanya, tapi dia juga ingin menanyakan perihal Tina.


.


.


Hari ini, Tina sudah diperbolehkan pulang, walaupun keadaannya masih sedikit lemah. Dokter juga berpesan kepadanya, agar dia tidak banyak pikiran terlebih dahulu. Namun, karena sudah ketahuan oleh Ardi, wanita itu pun nekat untuk pulang ke rumah.


''Kamu yakin, sayang, akan pulang? Tapi keadaan kamu belum pulih benar. Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu, gimana? Mama nggak mau loh, kalau sampai kamu drop lagi,'' jelas tante Imelda sambil mengusap kepala Tina yang tertutup jilbab.


''Insya Allah, Mah, Tina kuat kok. Jika memang mas Ardi mau menceraikan Tina, maka biarkan saja. Mungkin, memang itu jalan yang terbaik,'' jawab Tina dengan tatapan yang sendu.


Kata-kata Ardi yang mengatakan jika dia akan menceraikannya, dan tuduhan yang begitu menyakitkan, masih terngiang jelas di kepala Tina. Dia tidak menyangka, jika pria itu begitu sangat egois, mementingkan pribadinya sendiri. Bahkan tidak ingin mendengarkan penjelasan Tina terlebih dulu.

__ADS_1


Sesampainya mobil di kediaman Anjasmara, semua sudah berkumpul di ruang tamu untuk menyambut kepulangan Tina. Sebab tadi pagi, wanita itu menghubungi Bunga, jika dia akan pulang.


''Assalamualaikum,'' ucap Tina dengan suara yang lemah.


''Waalaikumsalam,'' jawab semua orang yang ada di sana.


Sementara anak-anak diungsikan ke taman belakang oleh Bunga. Dia tidak ingin mereka mendengar pembicaraan orang dewasa.


Tina berjalan ke arah kedua mertuanya, kemudian mencium takjim tangan mama Ranti dan juga papa Randy. Setelah itu, Bunga memeluk tubuh Tina dengan erat. Dia begitu merindukan sahabatnya.


Sementara Ardi hanya diam saja, sambil menatap Tina dengan kesal.


''Bodoh! Harusnya kau memberitahu aku. Kenapa malah membohongiku, hah!'' kesal Bunga sambil memukul lengan Tina dengan pelan.


Air matanya sudah jatuh, dia tidak bisa membayangkan, Tina berjuang sendirian di Rumah Sakit tanpa adanya dukungan dari orang terdekat. Dia merasa sebagai seorang sahabat telah gagal, karena tidak ada di samping Tina, di saat dia sedang butuh dukungan.


''Sini duduk, sayang! Ada yang mau kami bicarakan,'' ucapan mama Ranti sambil menepuk sofa di sebelahnya.


Tina dan juga tante Imelda pun duduk di salah satu sofa. Detak jantung Tina bahkan sudah berdebar dengan keras menanti apa yang akan diucapkan Ardi di hadapan semua orang. Sedangkan tante Imelda, menggenggam tangan Tinax mencoba memberi kekuatan kepada putrinya.


''Ardi, Tina 'kan sudah ada di sini. Apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?'' tanya papa Randy membuka suara.


''Aku ingin mengatakan sebuah keputusan, yang mungkin saja sudah ku ambil. Seharusnya ini sudah sejak lama,'' jawab Ardi. Kemudian dia menatap kepada semua orang yang ada di sana.


Semua mata memandang ke arah Ardi dengan bingung, tetapi tidak dengan Tina. Dia menundukkan kepalanya, sementara tante Imelda menatap Ardi dengan wajah yang sudah menahan amarah sejak kemarin.


''Aku sengaja mengumpulkan kalian semua di sini, karena aku ingin mengatakan, jika ....''


''JIKA APA, HAH!''


Ucapan Ardi terhenti, saat ada seseorang yang menyela ucapannya sambil masuk ke dalam ruang keluarga dengan amarah yang sudah membuncah.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2