
Kali ini Author Bawa Novel Kece😎Jangan lupa mampir ya Bestie😘
Author: Sukatmi Endiyanti
Empat tahun kemudian, Aila ikut berdesak-desakan untuk melihat kelulusan, lalu seseorang menarik tangannya dan membawa keluar dari kerumunan siswa.
"Apaan sih Frans? Aku itu mau lihat pengumuman."
"Duduk sini, apa kau tak melihat pesanku hah?" Kata Frans sambil menekan pundak Aila pelan sampai terduduk di kursi taman, ia pun duduk di samping Aila.
"Lihat wajah mu pucat, perutmu pasti sakit kan, coba kau buka dulu pesan itu, aku mau pesan teh panas untuk mu. Ingat jangan kemana-mana, duduk sini saja." kata Frans sambil berlari ke kantin membeli teh panas untuk Aila.
Aila membuka pesan dari Frans, ia pun tersenyum ternyata Frans telah memotret pengumuman itu.
Frans membawa teh panas untuk Aila, di letakan teh panas di atas kursi.
"Di minum dulu itu, Ai. Mumpung masih panas agar meredakan sakit perut mu."
"Trimakasih, kenapa gak bilang dari tadi, kalau kamu punya foto pengumuman hasil kelulusan." katanya sambil meminum tehnya."
"Gak sempat, Ai. Keburu lo pingsan di tengah kerumunan."
"kok tahu sih kalau aku lagi, itu dan perutku sakit." kata Aila sambil meringis, Frans memutar bola matanya jengah.
"Dari wajah mu itu sudah ketahuan, pucat gitu, masih saja masuk." kata Frans sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ha ... ha ... ha ... lo kalau gitu kayak cewek deh Frans, jadi pengen nimpuk mulut lo."
"Lo itu cewek Ai, yang feminim sedikit biar lo segera dapat cowok, boro-boro cowok suka, malah ilfeel, tahu."
__ADS_1
"Kan masih ada lo, kalau gak ada cowok lain, boleh deh, jadi cowok gue."
"Ahh, gue sih malas punyak cewek kelakuan kayak preman." kata Frans sambil membuang muka.
"Eeh? Berani ngatain gue begitu, lo sendiri bututin gue ke mana-mana, gak ada gue, lo kayak anak ayam kehilangan induknya." kata Ai sewot dan Frans terkekeh.
"Itu karena lo gak punya teman, Ai. Mereka lari takut ditonjok. Kalau gue gak, gue kasih nih tubuh gue ke elo."
"Eeh? gak gitu konsepnya, gue mah, gak tegah nonjok lo, badan tulang semua gitu."
Frans tertawa,"Ha ... ha ... ha mana? Enggaklah, Ai. Gue sekarang udah gemukan."
"Sudah gemuk apa? badan kayak jerapah gitu, aduh ... aduh, Frans. Kok makin sakit ya ...." kata Ai sambil kedua tangannya di tekan di perutnya. Frans!panik berusaha tenang lalu ia ambil tas punggung Ai, kemudian di panjangkan talinya. Setelah itu, ia berlari mengambil motornya dan melajukan ke arah Aila," Ayo naik, cepat keburu lo pingsan." Aila dengan tertatih naik ke motor Frans, dia memasukkan celah lobang tali tas ke tubuhnya dan Aila.
"Kenapa di ikat dengan tas segala sih, kayak bayi dua tahun saja."
"Jangan protes Ai, kalau lo pingsan dan pegangan lo lepas lalu jatuh, gue juga yang repot." kata Frans yang sedang melajukan motornya menuju rumah sakit.
"Tuh, 'kan lo pingsan, Ai?" Frans bergumam sendiri.
Tiba di rumah sakit ia pun langsung menuju pos sekuriti.
"Maaf pak tolong teman saya pingsan, bisa Panggilkan tenaga medis?"
"Oh iya, Nak. Sebentar!" sekuriti itu pun berlari menuju ke lobi rumah sakit, Frans mengikuti sekuriti dengan motornya dan berhenti di depan pintu lobi rumah sakit.
Tak lama kemudian datang petugas medis membawa bankar dorong, lalu membaringkan Aila di atasnya.
"Tolong bawah keruang dokter Raya di bagian obigen!" kata Frans sambil berlalu memakirkan motornya ke parkiran, lalu berlari menyusul petugas medis yang membawa Aila, Frans mengambil handphonenya dan melakukan panggilan dengan Raya," Maaf tante, Ai pingsan ku bawah ketempat tante."
__ADS_1
"Ok, tante tunggu, kamu telpon om Raka suruh ke ruanganku yaa."
"Baik tante." kata Frans, Frans pun melakukan panggilan pada Raka panggilan pun tersambung," Om, Aila pingsan. Saat ini di rumah sakit, di ruangan tante Raya, tolong datang temui, Tante," kata Frans lalu mematikan telponnya.
Di rumah, Raka lelaki berusia 72 tahun itu menyambar kunci mobilnya dan berjalan keluar rumah setelah menerima telepon dari Frans.
"Dad, Mam ikut," kata Rima berlari menyusul Raka.
Mereka pun masuk kedalam mobil dan berjalan dengan kecepatan sedang, menuju rumah sakit, lelaki tua yang masih terlihat gagah itu berusaha tenang, tak lama kemudian ia sampai di rumah sakit dan berjalan menuju ruangan obigen, nampak Frans duduk di ruang tunggu, ia pun beranjak menghampiri Raka dan Rima.
"Om di tunggu tante Raya di ruangannya," kata Frans sambil mencium punggung tangan Raka dan Rima.
Raka mengangguk lalu mengetuk pintu ruangan yang terbuka. "Masuk, Om, Tante! Silakan duduk!" Raya menghela nafas panjang sambil menunggu tamunya duduk.
"Begini, Om. Dari yang dialami Aila, dugaan ku, di rahimnya lebih tepatnya di indung telurnya, terdapat sesuatu membuatnya akan selalu kesakitan ketika dia dalam masa mentruasi.
Pemeriksaan USG tak akan bisa menemukan penyebabnya, kecuali menggunakan USG transvaginal sebuah alat yang panjangnya 5 hingga 7 cm, yang di masukan ke dalam alat reproduksi wanita. Anda tahu sendiri jika ini dilakukan, sedangkan Aila belum menikah.
"Apa yang bisa om lakukan Raya? selama ini hanya Frans teman lelakinya. apa tidak ada cara lain?" tanya Raka dengan raut muka sedih."
"Maafkan aku om mungkin ini ide gila dan om tak akan menyetujuinya."
"Katakan saja Raya."
"Cobalah untuk meminta Frans menikahinya toh mereka sekarang sudah lulus dan masih bisa kuliah."
"Bagaimana jika Frans tak mencintai Aila? selama ini mereka hanya berteman."
"Maaf tidak mengurangi rasa hormat saya pada om, mungkin ini ide konyol dan sangat konyol."
__ADS_1
"Tidak apa katakan saja Raya,"
"Jika Frans tidak mencintai Aila hingga usia pernikahan mereka 1 tahun lebih baik mereka bercerai, dan Aila bisa menikah lagi dengan status janda, tapi jika Aila belum menikah dan melakukan pemeriksaan itu, anda bisa bayangkan bagaimana masa depan Aila.