
Happy Reading....
Pria itu masuk ke dalam kantor dengan wajah yang lesu. Dia lagi-lagi harus kehilangan jejak Mentari. Padahal baru saja bidadari hatinya ditemukan, tetapi langsung pergi lagi.
Selesai meeting, Ardi meminta Deni untuk masuk ke dalam ruangannya, kemudian dia bertanya pada asisten pribadinya itu. ''Restoran mana yang kita pesan tadi, Den?''
''Nurmaya restaurant, Bos,'' jawab Deni sambil menundukkan kepalanya.
Ardi mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata kamu bekerja di sana, sayang. Kita pasti akan bertemu lagi, aku janji itu! batin pria itu dengan tekad yang kuat.
Setelah mendapatkan alamat di mana dia bisa menemukan Mentari, Ardi seketika menjadi semangat. Entah kenapa dia sangat berenergi, karena telah menemukan wanitanya selama lima tahun mencari.
Sementara itu, Mentari sedang berada di jalan bersama dengan Luke ke restoran. Dia tidak menyangka jika hari ini akan bertemu dengan Ardi, padahal sudah sekuat tenaga Mentari menghindar dari pria itu. Akan tetapi, ternyata takdir malah mempertemukan mereka.
Ingin rasanya Mentari mengatakan jika dia sangat merindukan pria itu. Namun dia tidak bisa, sebab Ardi telah dimiliki wanita lain, dan Mentari sadar akan hal itu. Dia tidak mau merusak rumah tangga orang lain, karena Mentari bukanlah seorang pelakor, dia masih mempunyai hati.
Sekilas Mentari menatap ke arah Luke yang sedang melihat jalanan. Rasa takut seketika hinggap di hati wanita itu, dia takut jika nanti Ardi mengetahui kalau Luke putranya, dan pria itu akan mengambil Luke darinya.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan kak Ardi mengambil Luke, dari aku! Tidak akan pernah! Lagi pula, dia sudah mempunyai anak, bukan? Aku yamin itu.
Sesampainya di restoran, Mentari langsung menyuruh Luke untuk masuk ke dalam ruangannya. Di sana juga ada sofa tempat biasa Luke beristirahat, lalu dia meminta karyawannya untuk membawakan makan siang.
''Sayangnya Mama, kita makan siang dulu yuk!'' ajak Mentari dengan lembut sambil mengusap kepala Luke.
Setelah makan siang selesai, Luke berbicara kepada Mentari jika pensil dan juga buku warnanya sudah habis. Dan mau tidak mau, mereka harus ke supermarket untuk membelinya.
__ADS_1
.
.
Saat ini Tina baru saja selesai bertemu dengan Sherly dan juga pacarnya. Dia sedang berada di perjalanan untuk pergi ke sebuah Apotek, karena obatnya sudah habis. Apalagi saat ini kepala Tina sudah mulai terasa pusing.
Selesai membeli obat, Tina berjalan ke supermarket karena dia harus membeli sesuatu. Akan tetapi, kepalanya terasa begitu pusing. Namun Tina masih saja bisa menghandle.
Setelah membayar barang yang Tina beli, dia berjalan ke parkiran, tetapi tatapannya mengarah kepada Mentari yang sedang berdiri di pinggir jalan seperti sedang menunggu taksi. Wanita itu menatap sejenak ke arah Mentari. Entah kenapa kakinya melangkah mendekat ke sana.
''Mentari, Luke,'' sapa Tina saat berada di samping mereka.
''Mbak Tina!'' kaget Mentari saat melihat Tina di sana.
Tina tersenyum ke arah Mentari, lalu berjongkok di hadapan Luke. ''Apa kabar, anak ganteng?'' tannya Tina sambil memegang pipi Luke.
Anak kecil itu pun mencium tangan Tina. ''Luke baik Tante, Tante apa kabar?'' tanya Luke.
Memang Mentari selalu mengajarkan Luke untuk bersikap sopan kepada siapapun, apalagi yang lebih tua, dan itu berhasil. Ajarannya tidak pernah gagal dalam mendidik anak, karena walaupun mereka bukan dari kalangan orang atas dan berada, tetapi bagi Mentari etika dan sopan santun itu adalah hal yang utama.
''Tante baik, kalian baru saja belanja apa? Mau pulang ya? Kalau gitu bareng aja yuk! Kebetulan aku juga bawa mobil,'' ajak Tina. Namun Mentari menggeleng, dia tidak ingin merepotkan wanita itu.
''Tidak Mbak! Tidak usah! Saya sama Luke naik taksi saja,'' jawab Mentari menolak ajakan Tina dengan halus.
Mentari sebisa mungkin mencoba untuk menghindar dari Tina, karena walau bagaimanapun Tina adalah istri sah Ardi dan dia adalah masa lalu suaminya. Sebagai perempuan, Mentari tidak ingin terjadi adanya salah paham antara dia dan juga Tina.
__ADS_1
Saat Mentari melihat taksi, wanita itu langsung menyetopnya. Akan tetapi, saat dia akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja tubuh Tina oleng, dan dengan sigap Mentari menahannya. ''Mbak kenapa?'' panik Mentari.
Dia melihat cairan merah yang mengalir di kedua hidung wanita itu, dan seketika Mentari menjadi cemas, lalu dia meminta Tina untuk masuk ke dalam mobil dan akan mengantarnya ke Rumah Sakit, tetapi Tina menolak ajakan Mentari.
''Tapi, Mbak terluka. Kalau Mbak tidak ke Rumah Sakit, bagaimana?'' Mentari berkata dengan nada yang begitu khawatir.
Tina tersenyum, kemudian dia mengambil tisu yang ada di tasnya lalu mengusap darah yang mengalir di kedua hidungnya, kemudian dia memegang tangan Mentari dan menatap wanita itu dengan lekat.
''Kamu sungguh beruntung masih tersimpan dengan rapat, bahkan tidak tersentuh di hati Mas Ardi. Kembalilah bersamanya, Mentari! Aku ikhlas, jika kalian bersama. Jika Mas Ardi terus bersamaku, dia akan menderita, tapi bersamamu dia pasti akan bahagia.''
Setelah mengatakan itu Tina pergi meninggalkan Mentari yang masih terpaku dengan ucapannya. Bahkan rasa sakit di kepalanya sama sekali tidak dihiraukan, karena sakit di dalam hatinya bahkan jauh lebih hancur dari yang terlihat.
''Mbak, maksud Mbak Tina, apa ...?'' Mentari berkata dengan nada sedikit berteriak, tetapi Tina tidak peduli. Dia masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan supermarket.
''Mah, ayo kita pulang! Ini sudah malam,'' ajak Luke sambil menarik tangan Mentari.
Wanita itu tersadar dari lamunannya, kemudian dia masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Luke. Pikirannya tertuju kepada ucapan Tina. Dia masih bingung apa dari maksud perkataan wanita itu, yang mengatakan jika dirinya masih tersimpan rapat di hati Ardi.
Padahal jelas-jelas Tinalah istri Ardi, dan mungkin saja mereka sudah mempunyai beberapa anak. Namun yang membuat Mentari bingung, kenapa dia seakan bisa melihat luka yang begitu dalam di kedua netra milik Tina
Ya Allah, ada apa ini? Apa maksud ucapan mbak Tina tadi? Kenapa aku masih tersimpan di hati kak Ardi? Padahal dialah istrinya?
Berbagai pertanyaan terus saja berkecamuk di pikiran Mentari. Dia bingung, kenapa Tina berkata seperti itu? Sedangkan jika dipikir secara logika, mana ada istri yang mampu untuk mengungkapkan kata-kata seperti itu kepada wanita lain. Apalagi dia tahu jika wanita itu adalah masa lalu dari suaminya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1