
Happy reading......
"Kakak ini menikah, tapi tidak ngundang aku? Jahat banget sih!" rajuk Mentari sambil menekuk wajahnya.
"Maaf, lagi pula, kamu kan juga jauh di Indonesia. Pernikahanku berada di Belanda," jawab Yoga.
Tak lama makanan pun datang, kemudian mereka mulai menyantap makanana itu. Mentari juga bertanya tentang pernikahan mereka, karena Mentari bisa melihat jika Amelia adalah wanita yang baik, dan mereka pasangan yang sangat serasi.
"Aku senang deh, karena Kakak sekarang sudah menemukan tambatan hati. Dan kalian ini pasangan yang benar-benar sangat serasi. Oh ya, lalu gimana, apakah sudah ada tanda-tanda Yoga junior?" tanya Mentari.
"Belum. Kami masih berusaha, walaupun setiap malam istriku kelelahan," kekeh Yoga.
Amelia yang mendengar itu langsung mencubit pinggang suaminya sambil menekuk wajahnya. Karena saat ini dia merasa malu, sebab Yoga begitu sompralnya mengatakan setiap malam mereka melakukan olahraga yang panas, walaupun kenyataannya memang iya.
"Usaha itu memang penting 'kan? Emang seharusnya kita itu berusaha, soal hasil, kita serahkan aja semuanya sama Allah. Lagi pula, usaha dengan kekasih halal tidak ada salahnya bukan?" kelakar Mentari.
Tidak terasa satu jam lebih mereka mengobrol, menumpahkan kerinduan yang sudah lama tidak bertemu. Kemudian Mentari hendak beranjak dari duduknya, karena akan mengantar Yoga dan juga Amelia untuk ke pintu depan, tetapi tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing.
Dia berpegangan kepada kursi, saat merasa kepalanya seperti berputar-putar. Yoga dan Amelia yang melihat itu pun merasa cemas.
"Mentari, Are you okay? Apa kamu sedang sakit?" tanya Amelia dengan raut wajah yang khawatir.
"Tidak apa-apa, Mbak. Ini kepalaku cuma sedikit pusing aja," jawab Mentari sambil memegangi kepalanya.
Namun, saat dia akan berjalan, tiba-tiba saja Mentari kehilangan kesadaran. Hingga Yoga yang melihat itu pun langsung menangkap tubuh Mentari.
"Sayang, sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit saja!" ucapan Amelia demgan panik.
Yoga yang mendengar itu pun mengangguk, kemudian dia menggendong tubuh Mentari keluar dari restoran dan meminta pelayan untuk menghubungi Ardi. Setelah itu dia memasukkan Mentari ke dalam mobil di jok belakang bersama dengan Amelia.
"Sayang cepetan! Aku benar-benar khawatir dengan keadaannya," ucapan Amelia kepada suaminya.
"Iya sayang," jawab Yoga. Kemudian dia menambah kecepatan mobilnya. Hingga setelah 15 menit, mereka pun sampai di rumah sakit, dan Yoga langsung menggendong tubuh Mentari dan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan wanita itu.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah meminta karyawan untuk menelpon suaminya? Atau kamu sendiri yang menelpon sayang! Kasihan dia, jika tidak tahu keadaan istrinya," ungkap Amelia.
"Sepertinya aku masih menyimpan nomornya. Sebentar, biar aku telepon dulu. Tapi tadi aku sudah meminta karyawannya untuk menelpon," jelas Yoga.
"Iya, siapa tahu mereka belum menelpon? Coba kamu yang menelpon!" Amelia pun meminta suaminya untuk Menelpon Ardi.
Yoga yang mendengar itu mengangguk, kemudian dia menelepon suaminya Mentari, dan tak lama telepon pun tersambung. Kemudian Yoga langsung mengatakan tentang keadaan Mentari, dan di rumah sakit mana mereka membawanya.
Setelah beberapa saat menunggu, Dokter keluar dari ruangan UGD. Yoga dan Amelia yang melihat itu pun segera menanyakan keadaan Mentari kepada sang Dokter.
"Bagaimana Dok, keadaannya? Apakah sahabat saya baik-baik saja?" tanya Yoga.
"Apakah Anda suaminya?" tanya Dokter tersebut.
"Bukan Dok. Tapi saya sahabatnya," jawab Yoga. Berbarengan dengan itu, Ardi pun datang dengan lari yang tergopoh-gopoh.
"Gimana keadaan Mentari? Dia baik-baik aja 'kan? Dia sakit apaan?" tanya Ardi dengan wajah yang panik.
Kemudian pria itu menengok ke arah sang Dokter, lalu menanyakan keadaan Mentari, "Bagaimana keadaan istri saya? Dia sakit apa Dok?" tanya Ardi yang sudah tidak bisa lagi menahan kecemasannya.
"Iya Dok, saya suaminya. Istri saya sakit apa?"
"Istri anda tidak sakit, Tuan. Hal itu dikarenakan tensi darahnya rendah, sedangkan saat ini istri Anda sedang mengandung. Jadi itu sudah biasa dialami oleh ibu yang sedang mengandung di usia muda. Dan setelah diperiksa, kandungannya juga sudah mencapai lima minggu," jelas Dokter tersebut.
Ardi yang mendengar itu tentu saja sangat bahagia. Dia menatap ke arah Yoga dan Amelia, dan kedua orang itu pun turut bahagia mendengar kabar dari Dokter.
"Bolehkah saya menemui istri saya, Dok?" tanya Ardi.
"Silakan Tuan!" Dokter pun mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam, dan saat ini Mentari sedang memegangi perutnya. Dia tidak menyangka, jika Allah masih memberikan dia rezeki berupa sebuah zuriat di dalam rahimnya.
"Mas, aku hamil," ucap Mentari sambil berlinangan air mata.
"Iya sayang, aku benar-benar sangat bahagia. Akhirnya kita akan mempunyai adik untuk Luke," ucap Ardi.
__ADS_1
"Selamat ya a! Aku turut bahagia mendengarnya. Semoga kandungan kamu sehat sampai lahiran nanti," ucap Amelia sambil memegang lengan Mentari.
"Aamiin ... terima kasih ya Mbak. Semoga Mbak juga bisa cepat menyusul bersama Kak Yoga. Semoga Allah juga menitipkan zuriat di rahim Mbak," jawab Mentari.
"Aamiin," ucap Amelia, Yoga dan juga Ardi serempak.
Setelah mendapatkan resep dari Dokter, mereka pun keluar dari rumah sakit. Namun saat berada di parkiran, mereka tidak sengaja berpapasan dengan pasangan suami istri, di mana mereka juga baru saja keluar dari rumah sakit.
"Mentari! Mas Ardi!" kaget Tina.
Mentari dan Ardi tentu saja sangat kaget saat melihat Tina dan juga Raka berada di rumah sakit. Mereka pikir, terjadi apa-apa lagi dengan Tina. Apalagi mengingat jika dulu wanita itu pernah mengidap penyakit yang begitu mah matikan.
"Mbak Tina! Mbak di rumah sakit juga? Apa Mbak sakit?" tanya Mentari dengan panik.
Wanita itu menggeleng, kemudian dia menangkupkan kedua tangannya sambil menganggukkan kepala ke arah Amelia dan Yoga.
"Aku tidak sakit. Justru kami ke sini karena habis melakukan pemeriksaan," jelas Tina.
"Pemeriksaan? Pemeriksaan gimana Mbak?" tanya Mentari.
"Alhamdulillah, Allah menitipkan rezeki di dalam rahimku. Dan sekarang usianya sudah memasuki minggu ke-8," jawab Tina.
"Alhamdulillah, aku ikut senang Mbak mendengarnya. Kebetulan aku juga sedang hamil, dan kandunganku baru lima minggu," jelas Mentari.
"Oh ya? Wow, ternyata kita sama-sama sedang mengandung ya!" seru Tina dengan wajah yang bahagia, kemudian dia memeluk tubuh Mentari.
"Aku yakin deh, mama sama tante Imelda jika mendengar ini pasti akan sangat bahagia. Tapi sayang, kandungan kalian beda tiga minggu. Kalau sama 'kan kita bisa melakukan acara syukuran bareng," jelas Ardi.
"Loh kenapa tidak? Bisa nanti saat empat bulan kita adakan aja syukuran bareng, walaupun beda tiga minggu," timpal Raka.
"Kami jangan lupa diundang ya, kalau ada acara seperti itu! Siapa tahu nanti kami juga ketularan," ucap Yoga.
Mereka berenam pun tertawa bahagia, melupakan masa lalu yang pernah menyakitkan, dan membuka lembaran yang baru.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
Ini Belum Ending ya๐ Akan d lanjut sama Anaknya Mentari๐