Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Fositif


__ADS_3

Happy reading.....


Ardi dan juga Mentari baru saja sampai di kantor. Mereka langsung menuju ke lantai atas, di mana ruangan Ardi berada. Dan saat sampai di sana, ada seorang wanita yang tengah duduk di sofa yang ada di ruangan pria itu, dan di sampingnya ada dua satpam.


''Tuan,'' ucap salah satu satpam sambil menundukkan kepalanya.


''Sasa!'' kaget Ardi, saat melihat Sasa yang sedang duduk sambil memangku satu kakinya.


Sasa yang melihat Ardi berada di sana segera bangkit dari duduknya, kemudian dia berjalan dengan sedikit gemulai ke arah pria itu, lalu dia menyenggol Mentari agar menjauh dari Ardi. Setelahnya Sasa bergelayut manja di lengan Ardi.


Melihat suaminya didekati oleh ular keket, Mentari tidak terima. Kemudian dia menarik paksa tangan Sasa dan sedikit mendorong tubuh wanita itu, hingga terjatuh ke lantai.


''Jangan pernah menggoda suami orang, Mbak. Apa muka Anda ini sudah tidak ada? Urat malu Anda sudah putus? Anda ingin seperti Lidya, yang ada di film layangan putus, hah! Senang menjadi pelakor, ya!'' Mentari berkata dengan intonasi yang sedikit tinggi, sambil menatap Sasa dengan tajam.


Mendapat perkataan seperti itu dari Mentari, Sasa tentu saja tidak terima. Kemudian dia bangkit dan berjalan ke arah Mentari, hendak menampar wajah wanita itu. Namun ditahan oleh Ardi.


''Jangan pernah menyentuh istriku, kau paham!'' geram Ardi sambil menghempaskan tangan Sasa dengan kasar.


''Untuk apa kau ke sini, hah? Jika tidak ada urusan, lebih baik kau pergi, Sasa! Jangan membuat kemarahanku pada batasnya!'' geram Ardi.


''Aku ke sini, ingin bertemu dengan kamu, Ardi. Dan kamu tidak pantas bersanding dengan wanita udik seperti dia! Masih cantik dan seksi juga aku,'' ungkap Sasa sambil menatap ke arah Mentari dengan sinis.


Ardi heran dengan Sasa, kenapa wanita itu terus saja mengejar dirinya. Padahal selama ini, Ardi sudah menjauh dari Sasa. Dia tidak pernah menganggap nya lebih dari seorang sahabat.

__ADS_1


Akan tetapi, jika memang sudah cinta mendarah daging, maka orang itu tidak peduli, mau Ardi mempunyai pasangan atau pun tidak. Karena baginya, mendapatkan Ardi itu adalah tujuan utama.


''Sebaiknya, kamu pergi dari sini sekarang! Sebelum aku menyuruh satpam untuk menyeretmu!'' tegas Ardi sambil menatap Sasa dengan tajam.


Selama ini, Ardi tidak pernah berkata kasar ataupun berkata tajam kepada dirinya, tetapi, untuk membela Mentari, Ardi malah berlaku kasar kepada Sasa. Wanita itu pun menghentakkan kakinya dengan kesal, kemudian keluar dari ruangan Ardi membawa hati yang dongkol.


''Aku nggak mau ya, Mas, kalau sampai kamu deket- dekat lagi sama kembarannya garam dapur!'' ketus Mentari sambil menekuk wajahnya.


''Maksud kamu gimana, sayang? Kok garam dapur?'' heran Ardi.


''Ya 'kan, nama dia Sasa? Sasa itu 'kan micin, Mas? Sudah pasti kembarannya garam dapur. Udah ah, aku mau ke restoran dulu, masih banyak kerjaan,'' ujar Mentari. Kemudian berlalu meninggalkan Ardi yang masih terkekeh karena melihat istrinya tengah merajuk.


.


.


''Ini hasilnya Tuan, Nyonya, silakan dibaca!'' ucap Dokter sambil menyerahkan amplop putih kepada Om Wira.


Pria itu menerima amplop tersebut dengan tangan sedikit gemetar dan jantung yang berdegup dengan kencang. Beliau berharap jika hasilnya positif, dan benar Raka adalah putranya.


Semua orang tentu saja merasa tegang dengan hasil yang akan dilihat nanti, apalagi dengan Raka. Walaupun dia berusaha tenang, tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa gugup dan cemas yang begitu ketara jelas.


Perlahan tangan om Wira mulai membuka surat amplop tersebut, tapi sebelum itu, beliau menarik napas secara dalam terlebih dulu. Kemudian beliau melihat hasil tes DNA tersebut.

__ADS_1


Kedua matanya membulat, bahkan saat ini cairan bening sudah mengembun di kedua pelupuk mata pria paruh baya tersebut. Dia menatap ke arah Raka dan juga istrinya bergantian.


''Bagaima Pah, hasilnya, positif atau negatif?'' tanya tante Imelda dengan tidak sabar.


Tanpa menjawab, om Wira langsung beranjak dari duduknya, kemudian dia berdiri menatap ke arah Raka yang saat ini juga tengah menatap dirinya. Lalu, om Wira langsung memeluk tubuh Raka dengan erat.


Air matanya seketika jatuh membasahi pipi. Sebagai seorang pria, dia tidak peduli jika harus menangis di hadapan semua orang, karena saat ini dia benar-benar sangat bahagia. Sebab telah menemukan anak yang selama ini dia cari.


''Kamu anak Papah, Nak. Kamu anak Papa. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa-doa ku selama ini,'' ucap om Wira dengan suara yang purau.


Raka terpaku saat mendengar ucapan om Wira yang mengatakan jika dia anaknya. Kemudian Raka menatap ke arah tante Imelda yang sedang membaca amplop tersebut.


Respon wanita itu pun tidak jauh beda dengan suaminya. Dia langsung beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh Raka sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan Raka yang dipeluk merasa bingung, apakah memang benar dia adalah anak tante Imelda dan juga om Wira.


''Tante, Om, apakah hasilnya positif?'' tanya Raka.


Om Wira dan tante Imelda mengangguk serempak, dan Raka yang melihat itu tentu saja sangat bahagia. Dia tidak menyangka, jika akan dipersatukan dengan keluarga aslinya. Ketiganya pun menangis tersedu-sedu, menumpahkan rasa rindu yang sudah 30 tahun tidak bertemu dan tidak pernah dirasakan.


Tina pun tidak kuasa menahan air matanya, saat melihat bagaimana kebahagiaan serta kesedihan yang dirasakan oleh ketiga orang yang saat ini tengah berada di hadapannya.


Lihatlah, mas! Mama, Papa dan juga Raka, mereka telah bersama. Kamu pasti bahagia 'kan melihat ini? Andai saja kamu ada di sini, mas, melihat semuanya. Mengetahui jika kamu mempunyai kembaran dan juga Kakak, mungkin kamu akan lebih bahagia, mas. Aku merindukanmu, mas Riko, sangat merindukanmu. batin Tina.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2