
Happy reading......
Ardi menatap lekat ke arah Tina, sedangkan wanita itu hanya menundukkan kepalanya saja. Dia takut jika Ardi akan marah, kemudian terdengar helaan napas kasar dari pria itu.
''Kenapa kamu memintaku, untuk kembali bersama dengan Mentari? Apakah, kamu tidak memikirkan perasaanmu sendiri?'' tanya Ardi dengan tatapan menyelidik ke arah Tina. ''Lalu, apa dengan ucapan itu? Permintaan terakhir. Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?'' sambungnya lagi.
Tina menelan ludahnya dengan kasar. Dia tidak ingin Ardi mengetahui penyakitnya sebelum suaminya bersatu dengan Mentari.
Saat Mentari akan menjawab ucapan Ardi, tiba-tiba saja Tina meremas tangannya sambil menatap arah Mentari dengan sebuah kode dari mata, jika wanita itu tidak boleh membongkar semuanya kepada Ardi. Dan Mentari hanya bisa pasrah saat melihat permintaan Tina.
''Tidak apa-apa, aku memang hanya merasa bersalah saja. Sebab, karena wasiat dari mas Riko, kamu bersama dengan Mentari harus terpisah. Lagi pula, selama lima tahun ini kita tidak bisa saling mencintai, bukan? Jadi apa salahnya jika aku mempersatukan kalian? Lagi pun, kalian juga masih saling mencintai satu sama lain,'' jelas Tina.
Ardi mengusap wajahnya dengan kasar. Tadinya dia ke rumah Mentari karena ingin memberitahu tentang Luke. Namun di sana malah bertemu dengan Tina, lantas mendengar semua kenyataan yang baru saja diketahuinya, dan itu membuat Ardi benar-benar syok.
''Apa kau sudah mengetahui tentang keberadaan Mentari, selama ini?'' tanya Ardi sambil menatap ke arah Tina dengan dalam.
Wanita itu mengangguk. ''Iya, aku sudah mengetahui keberadaan Mentari, dan aku tidak memberitahukannya kepadamu. Sebab aku ingin membujuk Mentari untuk kembali bersama dengan dirimu. Apa itu salah?'' tanya Tina dengan mata yang sudah berembun.
''Jelas salah besar. Seharusnya kau itu memberitahuku tentang keberadaan Mentari dari awal. Bukankah kau tahu! Aku sudah mencarinya selama lima tahun, dan kau malah menyembunyikan keberadaan Mentari selama ini!'' geram Ardi sambil menggebrak meja, membuat kedua wanita yang berada di hadapannya terjingkat kaget.
Mentari menatap ke arah Ardi. Dia tidak menyangka jika pria itu mampu untuk membentak istrinya sendiri, padahal saat ini Tinalah yang berkorban untuk mereka, tetapi Ardi seakan tidak melihat pengorbanan wanita itu. Kemudian dia menatap pria yang berada di hadapannya dengan tajam.
''Cukup! Seharusnya Kakak itu berterima kasih kepada Mbak Tina, dia mau untuk mengorbankan perasaannya demi kita, tapi apa Kakak malah membentaknya, memarahinya. Benar-benar keterlaluan!'' kesal Mentari.
__ADS_1
''Bukan seperti itu, aku hanya---''
''Sudahlah, lebih baik sekarang Kak Ardi sama Mbak Tina pulang. Selesaikan masalah rumah tangga kalian di rumah, jangan di sini! Saya tidak enak pada tetangga, dan soal penawaran Mbak Tina tadi, sebaiknya bicarakan dulu dengan tante Ranti dan juga om Randy. Aku tidak ingin namaku tercemar jelek. Jika bukan karena permintaan Mbak Tina, aku juga tidak ingin kembali kepadamu, Kak,'' jelas Mentari memotong ucapan Ardi.
Kemudian Tina beranjak dari duduknya. Dia paham dengan ucapan wanita itu. Memang yang dikatakan Mentari ada benarnya, mereka tidak mungkin ribut di rumah orang lain, akhirnya dia mengajak Ardi untuk pulang.
Namun sebelum pria itu mencapai pintu, dia berbisik ke arah Mentari, ''Besok aku akan ke sini lagi. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.''
.
.
Sesampainya di rumah, Tina langsung masuk ke dalam kamar bersama dengan Ardi. Wanita itu hendak melangkah ke kamar mandi, tetapi tangannya ditahan oleh Ardi, sebab pria itu ingin berbicara kepada Tina.
''Aku tidak menghindar, hanya mau membersihkan diri saja, karena sebentar lagi juga akan maghrib. Kita bahas nanti malam saja!'' elak Tina. Namun Ardi menggeleng dengan cepat.
''Tidak! Aku tidak suka dibantah. Duduklah!'' titah Ardi sambil menunjuk sofa.
Tina menghela napasnya, kemudian dia duduk di sofa. Sebenarnya dia sudah tahu, pasti Ardi akan menanyakan tentang Mentari kembali. Lalu Ardi juga duduk di hadapan Mentari, dia menatap wanita itu dengan dalam dan tatapan mengintimidasi.
''Jawab pertanyaanku, Tina! Apa maksud kamu dengan permintaan terakhir?'' tanya Ardi.
Dia masih penasaran dengan ucapan Tina, bahkan sampai saat ini kata-kata itu masih terngiang di kepalanya. Dulu Mentari yang mengatakan itu kepada dirinya, dan sekarang dia mendengar langsung dari Tina, di mana wanita itu mengatakan jika keinginan terakhirnya melihat dia bersama dengan Mentari.
__ADS_1
''Memang itu permintaan terakhirku. Sebab, setelah kamu bersama dengan Mentari, aku akan pergi,'' jelas Tina sambil menahan rasa sakit di dalam dadanya.
Matanya sudah berembun, tapi dia mengalihkan pandangannya. Bahkan jika Tina mengedipkan matanya satu kali saja, air mata itu akan lolos membasahi pipi dan pasti Ardi akan melihatnya.
''Kenapa kau ingin meninggalkanku? Bukankah kau yang ingin menyatukan aku dengan Mentari? Apa kau sudah gila? Memangnya kau tidak memikirkan perasaanmu, bagaimana? Apa kau pikir, kau ini hebat, mempersatukan aku dengan Mentari. Sementara kau sendiri terluka?'' heran Ardi sambil menggelengkan kepalanya.
Dia tidak habis pikir dengan Tina, bagaimana mungkin bisa wanita itu mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaannya. Dia memang sangat ingin bersama dengan Mentari, tapi saat mendengar Tina mengorbankan perasaannya, entah kenapa Ardi merasa tidak tega, dia seperti pria yang jahat dan juga sangat egois.
Selama ini dia tidak pernah mencintai Tina, bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri, tapi ternyata Tina sangat peduli kepadanya. Bahkan dia meminta Mentari untuk kembali bersama dengan dirinya, dan mengorbankan perasaannya.
Tina yang mendengar itu akhirnya menatap ke arah Ardi, bahkan air matanya sudah lolos. Dadanya terasa begitu sesak, sakit dan hancur. Bagaimana mungkin bisa, Ardi mengatakan hal semenyakitkan itu? Padahal dia sudah berkorban demi kebahagiaannya, menurunkan egonya demi mempersatukan cinta mereka.
''Kamu bilang apa, Mas? Aku sudah gila? Iya, aku memang gila. Aku hanya ingin membuat kamu bahagia. Selama ini rumah tangga kita tidak sehat, aku tidak pernah melihat senyuman di wajahmu. Lalu saat aku ingin mengembalikanmu pada cinta pertama kamu, apa aku salah? Jawab!'' Tina berkata dengan nada sedikit meninggi, serta dada yang sudah naik turun menahan amarah dan sakit.
Ardi yang mendengar itu hanya diam saja, kemudian dia menatap balik ke arah Tina. ''Tapi setidaknya, kau juga harus memikirkan kebahagiaanmu,'' jawab Ardi.
Tina malah terkekeh, lebih tepatnya dia menertawakan hidupnya yang terasa begitu menyakitkan. Di mana seorang suami yang seharusnya mencintai dan menjaga istrinya, malah mengejar-ngejar wanita lain dari masa lalunya.
''Kamu bilang kebahagiaan, Mas? Kebahagiaan yang seperti apa? Kamu saja tidak pernah menganggapku, bahkan tidak pernah mencoba untuk membuka hatimu. Lalu, kebahagiaan apa yang harus aku gapai? Lebih baik melepaskan dan melihat orang yang kita cintai bahagia, ketimbang kita bertahan hanya akan menambah luka yang semakin dalam, hingga susah untuk disembuhkan,'' jelas Tina.
Dia berkata dengan nada yang sedikit gemetar, karena menahan isak tangis. Bahkan suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Wanita itu pun pergi masuk ke dalam kamar mandi setelah membuat Ardi bungkam dengan kata-katanya, dan saat sampai di dalam tubuhnya merosot di bawah guyuran air shower sambil menangis tersedu-sedu.
BERSAMBUNG......
__ADS_1