
Happy reading .....
''Kamu pergi sama Mbak,.dulu ya! Ganti baju sama makan siang! Mama ada urusan sebentar sama Om,'' ucap Mentari sambil mengusap kepala Luke, lalu mencium kening anak kecil itu.
''Iya Mah,'' jawab Luke, lalu dia pergi meninggalkan Ardi dan juga Tina.
Mentari tidak ingin jika Luke berlama-lama di sana, dan Ardi semakin memperhatikan putranya. Karena dia yakin, lama-lama Ardi akan sadar jika wajahnya dengan Luke itu sangatlah mirip, dan pasti akan tertebak tanpa harus dikasih tahu.
''Maaf Kak, jika memang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, sebaiknya Kakak pergi saja! Lagi pula, aku masih banyak kerjaan,'' ujar Mentari sambil bangkit dari duduknya.
Akan tetapi, dengan cepat Ardi menahan tangan Mentari, lalu menatap wanita itu dengan tajam dan penuh selidik. ''Kamu belum menjawab pertanyaanku, Mentari. Apakah anak tadi itu adalah putramu?'' tanya Ardi kembali.
Dia masih penasaran, karena belum mendapatkan jawaban apapun dari Mentari tentang Luke. Sebab pria itu sangat ingin tahu, kenapa wajah Luke begitu mirip dengan dirinya.
''Iya, dia itu Putraku. Memangnya kenapa? Apa salah?'' tanya Tina sambil menatap Ardi dengan tajam.
''Kenapa wajahnya begitu mirip denganku? Atau jangan-jangan, dia---''
''Jangan aneh, Kak! Itu hanya perasaanmu saja. Luke adalah anak dari aku dan juga suamiku. Jadi jangan pernah mengaku jika dia adalah putramu!'
__ADS_1
Mentari segera memotong ucapan Ardi. Dia tidak ingin pria itu mengetahui identitas Luke. Namun Ardi tidak menyerah, dia tidak gampang untuk dibohongi dan masih menyelidiki tentang Luke. Karena tidak mungkin jika itu hanya sebuah kebetulan, di mana wajah mereka begitu mirip.
''Tidak Mentari! Bagaimana mungkin ini hanya kebetulan? Wajahnya begitu mirip denganku, dia---''
''Cukup, Kak! Kamu itu terlalu berekspektasi. Sebaiknya Kakak pergi saja dari sini! Dia bukanlah putramu. Putra Kakak itu ada di rumah bersama dengan mbak Tina, jangan ngada-ngada!''
Setelah mengatakan itu Mentari pergi dari sana, tapi lagi-lagi Ardi menghentikan langkahnya, hingga membuat wanita itu menatap ke arah Ardi dengan tajam dan juga kesal.
Dia tidak menyangka jika Ardi begitu keras kepala, bahkan tidak percaya dengan ucapannya. Entah alasan apalagi yang harus Mentari lontarkan agar Ardi percaya, jika Luke bukanlah putranya. Walaupun memang wajah mereka sangat mirip.
''Lalu, di mana suamimu sekarang? Ke mana dia? Aku ingin bertemu dengannya, jika memang benar Luke bukanlah Putraku?'' tanya Ardi dengan tatapan menantang ke arah Mentari
Wanita itu terdiam, dia tidak menyangka jika Ardi akan menanyakan hal itu. Namun dengan sekuat tenaga dan perasaan yang sudah hancur sedari tadi, Mentari menatap ke arah Ardi.
Ardi terdiam mendengar jawaban Mentari, dia tidak menyangka jika memang Wanita itu telah menikah dengan pria lain. Namun entah kenapa, hati kecil Ardi bertolak belakang dengan pikirannya. Dia tidak percaya jika Mentari telah menikah bahkan melupakan dirinya.
Namun Mentari tidak perduli dengan Ardi yang masih saja terpaku di tempat, wanita itu masuk ke dalam ruangannya dengan hati yang hancur. Dia berharap datang ke Jakarta tidak bertemu dengan Ardi, tapi ternyata takdir sedang mempermainkan dirinya untuk kedua kali.
''Mamah, om tadi siapa?'' tanya Luke saat Mentari sampai di ruangannya.
__ADS_1
Wanita itu duduk di samping Luke, kemudian mengecup kening putranya. ''Dia teman bisnisnya Mama,'' bohong Mentari. Kemudian dia membawa Luke dalam dekapannya.
Tuhan, tolong jangan pertemukanku kembali dengannya. Aku tidak sanggup, Tuhan! Rasanya begitu sakit.
Ardi balik ke kantor dengan perasaan galau di hatinya, antara percaya dan tidak dengan ucapan Mentari yang mengatakan jika wanita itu telah melupakan dirinya dan menikah dengan pria lain. Namun melihat netra milik Mentari begitu meyakinkan.
Bahkan Ardi dan juga Mentari tidak sadar, saat mereka sedang mengobrol ada satu pasang mata yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka dengan hati yang luka, bahkan hancur berkeping-keping. Apalagi saat Ardi memeluk Mentari tadi.
Feelingnya sebagai seorang wanita tentu saja sangat kuat, dia yakin Ardi pasti akan menemukan Mentari. Dan benar saja, pria itu datang ke restoran di mana Mentari bekerja dan menemuinya.
Sakit, mas. Sakit sekali, saat melihatmu memeluknya. Mengatakan jika kamu merindukannya, tapi tak pernah kamu ucapkan itu padaku, mas. batin Tina.
Iya, orang itu adalah Tina. Dia memang sengaja datang ke restoran Mentari, karena dia ingin tahu apakah Ardi memang sudah menemukan wanita itu atau belum, dan ternyata Ardi berhasil.
Sakit dan hancur, tentu saja dirasakan oleh Tina, tapi saat melihat wajah bahagia Ardi kala memeluk tubuh Mentari membuatnya semakin hancur berkeping-keping, tapi dia tidak bisa egois. Memaksakan sebuah hati untuk menerima dan mencintai dirinya.
''Aku ikhlas mas, jika kamu harus bersanding dengan Mentari. Aku adalah penghalang cinta kalian, dan aku tidak ingin menjadi penghalang untuk kedua kalinya,'' gumam Tina sambil mengusap air matanya.
Dia ingin disisa-sisa hidupnya, membuat Ardi bahagia, walaupun dengan wanita lain dan mengorbankan perasaannya. Karena Tina tidak mempunyai banyak waktu, dia mengidap kanker otak stadium akhir. Itu kenapa, Tina selalu mimisan. Namun dia menyembunyikan penyakitnya dari semua orang, karena Tina tidak ingin membuat mereka khawatir.
__ADS_1
Dia juga tidak ingin membuat Ardi mengetahui penyakitnya, sebab Tina sangat yakin saat pria itu tahu, bukan cinta yang dia dapatkan, tetapi hanya belas kasihan. Disisa hidupnya, Tina tidak ingin itu terjadi, dia hanya mau cinta yang tulus dari suaminya.
BERSAMBUNG.....