Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Pikiran Nakal Raka


__ADS_3

Happy reading......


Raka mengerjapkan matanya saat jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore. Dia melihat bayi yang berada di sampingnya sudah bangun, dan saat ini tengah bermain sendiri.


''Bayi yang sangat cantik. Kamu sudah bangun ya, sayang? Kalau saja kamu anakku, sudah pasti kamu akan menyebutku Papa,'' ucap Raka dengan nada yang lirih sambil menoel hidung Cahaya.


Saat Raka tengah bermain dengan Cahaya, tiba-tiba dia mencium bau sesuatu, dan saat diendus ternyata asalnya dari Cahaya.


''Hey gril, apa kau habis saja pup?'' tanya Raka sambil membuka selimut Cahaya.


Saat selimut itu terbuka, Raka langsung menutup hidungnya. Dia benar-benar tidak tahan dengan bau kotoran dari Cahaya. Kemudian pria itu pun meninggalkan bayi tersebut di atas ranjang, lalu dia berjalan keluar dan mencari Tina.


Saat sampai di meja makan, dia tidak melihat Tina sama sekali. Lalu Raka pun berjalan ke ruang tv, dan dia melihat Tina sedang tertidur dengan posisi duduk sambil memangku laptopnya.


Sejenak pria itu terpaku melihat wajah tenang milik Tina. Ingin sekali dia mengelus pipi lembut tersebut. Namun, Raka segera menggelengkan kepalanya.


''Astaga Raka! Cahaya 'kan sedang pup. Aku harus membangunkan Tina,'' gumam Raka sambil menepuk jidatnya.


Kemudian dia mulai menggoyangkan lengan Tina dan membangunkan wanita itu. ''Tina ... Tina bangun! Itu, Cahaya habis buang air besar. Kamu bersihkan dong! Aku benar-benar tidak tahan dengan baunya,'' ucap Raka.


Tina mengerjapkan matanya beberapa kali, dan itu membuat Raka benar-benar terpesona saat mata indah dengan bulu mata yang lentik sedang terbuka secara perlahan.


Sungguh keindahan yang hakiki. batin Raka.


''Kenapa Raka?'' tanya Tina dengan suara yang purau.


Akan tetapi, bagi Raka suara Tina begitu seksi saat memanggil dirinya. Jika saja Tina adalah istrinya, mungkin Raka saat ini Raka sudah merengkuhnya dalam pelukan.


Astaga Raka! Apa yang kau pikirkan? Dasar piktor.

__ADS_1


Raka merutuki dirinya sendiri di dalam hati, karena dia tengah memikirkan bagaimana memeluk Tina dan memadu kasih dengan wanita itu, akibat mendengar suara purau Tina yang habis bangun tidur.


''Raka, kok kamu malah diam? Ada apa?'' tanya Tina mengulang kembali ucapannya.


Raka pun tersadar dari lamunan mesuumnya. Kemudian dia berkata, ''Itu, Cahaya baru saja buang air besar. Kamu bersihkan deh! Aku benar-benar tidak tahan dengan baunya,'' tutur Raka.


Tina mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah kamar di mana saat ini Cahaya tengah menangis, karena sudah tidak betah dengan kotoran yang berada pampers.


Tina kemudian mengambil tisu basah lalu mulai membersihkannya tanpa ada rasa jijik sedikitpun. Bahkan wanita itu sesekali mengajak bercanda Cahaya, sehingga bayi tersebut mau tersenyum dan tertawa.


Dia benar-benar sudah cocok jadi ibu. batin Raka yang sedang melihat Tina di ambang pintu.


''Sudah selesai!'' seru Tina sambil menoel kedua pipi Cahaya, kemudian menciumnya.


Tina ingat jika dia sudah memasak makan siang untuknya dan juga Raka. Kemudian dia menggendong Cahaya, lalu menidurkan bayi tersebut di dalam stroller dan mendorongnya untuk menuju dapur.


''Kita makan siang dulu yuk! Tadi aku mau bangunin kamu, tapi nggak enak. Soalnya kamu tidurnya lelap banget sih,'' ujar Tina mengajak Raka untuk makan siang.


Raka yang melihat itu tersenyum tipis. Namun, setipis sutra, sehingga tidak terlihat oleh Tina. Dia benar-benar merasa mempunyai seorang istri dan juga anak. Di mana saat ini Tina tengah mengurusnya sambil menyiapkan keperluan putri kecil mereka.


''Sayang, Mama makan dulu ya. Kamu minum susu, nanti baru kita mandi.'' Tina berkata sambil mengusap lembut tangan Cahaya.


''Tina,'' panggil Ardi di sela-sela makannya.


''Iya Raka,'' jawab Tina.


''Apakah boleh, jika aku menjadi Papa angkatnya Cahaya? Maksudku, entah kenapa, aku merasa dia dan aku begitu dekat. Wajah mungilnya benar-benar menggemaskan. Apa aku boleh menganggapnya seorang anak? Dan mungkin, dia nanti akan menyebutku Papa, apakah boleh?'' tanya Raka dengan tatapan memohon ke arah Tina.


Wanita itu terdiam sejenak, membuat Raka sedikit takut jika Tina tersinggung dengan ucapannya.

__ADS_1


''Tentu saja, boleh! Kenapa tidak? Nanti, Cahaya pasti akan memanggilmu Papa,'' jawab Tina sambil tersenyum. Kemudian mereka melanjutkan makan siangnya kembali.


.


.


Ardi masih termenung di kantornya, akibat pertemuan dia bersama dengan Tina. Apalagi wanita itu menggendong seorang bayi. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, qpakah bayi itu adalah bayinya Tina dan Raka, atau memang Tina mengangkat seorang bayi untuk menjadi anaknya.


''Kenapa sekarang aku malah sulit untuk melupakan Tina? Walaupun sekarang, Mentari tengah hamil anakku. Apakah aku mulai mencintainya? Tetapi, jika itu benar, kenapa cinta datangnya sekarang, tidak saat aku bersama dengan Tina?'' Ardi mengacak rambutnya merasa frustasi.


Rasa penyesalan dan rasa bersalah yang begitu dalam di hati Ardi terhadap Tina, membuatnya tidak bisa melupakan wanita itu. Walau sekuat apapun Ardi sudah berusaha, tetapi tetap saja, bayang-bayang Tina yang selama ini diacuhkan olehnya selalu terlintas dalam benaknya.


Saat Ardi tengah memikirkan Tina, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan ternyata yang masuk adalah Sasa. Pria itu pun memutar bola matanya dengan malas saat melihat Sasa.


''Mau ngapain lagi kamu ke sini, Sa? Sudah aku bilang, jangan pernah menggangguku lagi!'' ujar Ardi tanpa tedeng aling-aling.


''Kamu ini jangan marah-marah dulu kenapa sih, Di! Aku itu ke sini, mau nawarin kerjasama dengan perusahaan kamu. Ya ... kecuali kalau kamu menolak. Padahal, ini bisa membawa keuntungan yang sangat besar buat perusahaan kamu,'' jawab Sasa sambil menaik turunkan alisnya.


''Kerjasama apa?'' tanya Ardi dengan wajah datar.


Sasa berjalan ke arah meja Ardi, lalu duduk di hadapan pria itu. Kemudian dia mulai memberikan proposal yang sudah dibuatnya untuk kerjasama dan perusahaan Ardi.


''Bacalah dan pahami! Aku rasa, kamu akan tertarik. Aku tunggu jawaban kamu nanti malam oke. Kalau begitu, aku pamit dulu, bye,'' ucap Salsa sambil berlalu meninggalkan ruangan Ardi.


Di dalam lift, wanita itu tersenyum. Karena itu adalah sebuah rencana Sasa untuk semakin berdekatan dengan Ardi. Jika tidak bisa mendekatinya secara gamblang, maka Sasa akan mendekati Ardi lewat pekerjaan.


''Lihat saja! Ardi hanya milikku, dan dia tidak akan kubiarkan menjadi milik wanita lain, sekalipun itu istrinya!'' Sasa berkata dengan nada yang sinis sambil tertawa jahat.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


Jangan lupa follow IG aisyah_az124 ya dears😘Sebab di sana akan othor kasih Visual Tina, Ardi, Mentari, Raka, Yoga dan Sasa😉


__ADS_2