Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Akan Menikah


__ADS_3

Happy reading.....


"Aurora!" Bunga memanggil Aurora sambil memegang tangannya, "yo jawab sayang! Kenapa kamu diam saja? Bagaimana dengan keputusan kamu?" tanya Bunga kembali.


Jantungnya berdetak dengan kencang, dia bingung harus menjawab iya atau tidak. Namun, melihat dari tatapan Kevin, pria itu sangat serius dengan Aurora. Terlihat gadis itu pun menghela napasnya.


"Bismillah, iya Ma, Pa, Aurora mau," jawabnya.


Semua yang mendengar itu pun tersenyum dengan lega, apalagi Kevin, hatinya berbunga-bunga bahagia karena Aurora setuju untuk menikah dengannya.


"Baiklah kalau begitu, lamaran akan dilangsungkan setelah bulan suci Ramadan berakhir, bagaimana?" ujar Bagas.


"Saya setuju! Untuk sekarang kita fokus dulu puasa. Tapi alangkah baiknya, mereka sebaiknya tunangan terlebih dahulu, dan kita undang beberapa keluarga saja," timpal papa Raffi.


Semua menganggukan kepalanya tanda setuju, suasana malam itu pun terasa begitu sangat bahagia. Apalagi Kevin dan juga Aurora, karena keduanya sebentar lagi akan menikah dalam hitungan bulan.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Aurora masih saja belum bisa tertidur dia masih kepikiran dengan acara buka puasa beberapa jam yang lalu.


Dia masih belum bisa menyangka, jika Kevin tuh serius itu kepada dirinya. Bahkan melamar dia dalam hitungan minggu saja. Padahal mereka baru kenal 1 bulan yang lalu dan menjalin hubungan pun baru satu minggu.


Pipi Aurora bersemu merah, dia pun menggulingkan tubuhnya di atas kasur dengan senyum merekah di bibir. Tidak lupa Aurora juga mengabari Anggi dan juga Rika di dalam grup, dan ternyata kedua sahabatnya itu belum tertidur sama sekali.


Tepat jam 08.00 pagi Aurora sudah siap untuk berangkat ke kampus, dan di sana Kevin juga sudah datang untuk menjemput dirinya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa lagi dengan Aurora, walaupun Kevin sudah membereskan Vano dan pria itu masih saja dikurung.


Kevin tidak membiarkan Vano keluar, sebelum pria itu merasa Jera. Dia dan juga Bagas sudah berencana mengurung Vano selama satu minggu, dan setiap hari pria itu akan terus bermain dengan tiga wanita yang diperintahkan Kevin untuk memberi pelajaran kepada pria tersebut.


"Selamat pagi calon istri," sapa Kevin saat melihat Aurora datang ke ruang tamu.


"Pagi my Future Husband," jawab Aurora sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Eehkm! Eekhmm!" Terdengar suara deheman, dan saat mereka berdua menengok ternyata mama Linda.


"Ya ampun, yang lagi berbunga. Ini masih pagi, bulan suci lagi. Udah sana pergi, nanti terlambat kalian!" ujar mama Linda kembali.


Kevin dan juga Aurora menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, kemudian mereka pun menyalami tangan mama Linda dan pergi untuk ke kampus. Sementara Bunga sedang pergi ke supermarket untuk membeli sayuran.


Keduanya pun menaiki motor untuk menuju kampus. Kevin dan juga Aurora terlihat begitu sangat bahagia, seperti pasangan yang sedang berbunga-bunga walaupun nyatanya memang seperti itu.


Sesampainya di kampus, Aurora dan juga Kevin kaget, saat tiba-tiba saja mereka masuk ke dalam kelas disambut dengan begitu sangat meriah. Bahkan ada tulisan congratulation my prince and princess.


Tiba-tiba saja Anggi memberikan buket bunga yang berisi coklat kepada Aurora, dan gadis itu pun menerimanya dengan wajah yang bingung.


"Ini ada apa? Apa ada yang ulang tahun?" tanya Aurora.


"Bukan, kami sengaja menyiapkan ini semua untuk kamu dan juga Kevin, karena kami turut bahagia sebentar lagi kalian akan tunangan dan akan menikah," jelas Anggi.


Anggi dan juga Rika hanya cengengesan saja saat mendengar ucapan sahabatnya, karena mereka semua ingin anak-anak kampus tahu, bahwa Kevin dan juga Aurora akan menuju ke jenjang yang lebih serius. Jadi tidak ada lagi yang mengharapkan keduanya, entah itu cowok maupun cewek.


"Sekali lagi selamat ya, jangan lupa nanti kalau tunangan kita diundang. Iya enggak?" ujar Anggi sambil menyenggol bahu Aurora.


.


.


Sementara itu di lain tempat, tepatnya di sekolah Luke. Dia sedang mengerjakan tugas dari guru, dan dia dan juga Amanda satu kelas. Tetapi sedari tadi Luke terus aja mencuri-curi pandang ke arah gadis kutu buku tersebut.


Setelah bel istirahat berbunyi, Gio mendekat ke arah Luke. Dia memang sedari tadi terus saja memperhatikan sahabatnya yang mencuri-curi pandang ke arah Amanda, dan itu membuat Gio benar-benar sangat heran.


"Hai Bro, lo kenapa sih dari tadi ngelirikin si cewek cupu terus? Suka ya lo sama dia? Kalau bener, gila aja kali! Masa cewek kayak gitu loh deketin? Kayak nggak ada yang lain aja, yang lebih tinggi, yang lebih pantas dan yang lebih cantik?" heran Gio.

__ADS_1


Luke yang mendengar itu pun hanya diam saja. Dia mengangkat kedua bahunya dengan acuh, malas untuk meladeni ucapan Gio. Karena dia yakin, pasti sahabatnya akan terus meledek dirinya.


"Udahlah, yuk kita latihan basket! Bentar lagi juga kan ada pertandingan," jawab Luke.


Luke pun meninggalkan Gio terlebih dulu, membuat pemuda tampan itu merasa heran. Kemudian dia menengok ke arah Amanda yang sedang membaca bukunya.


'Gue heran deh, apa yang spesial dari si cewek cupu itu? Sampai dari tadi Luke terus aja memperhatikannya?' batin Gio. Namun, dia tidak ingin ambil pusing. Kemudian dia pun bangkit untuk menyusul ke lapangan basket.


Sepulang dari sekolah, Amanda melihat jika hujan lagi-lagi turun, memang saat ini tengah musim hujan dan tidak tahu kapan air itu akan membasahi bumi.


Gadis itu pun menunggu hujan reda untuk menaiki angkot, dan dia berteduh di bawah pohon. Namun tiba-tiba saja ada mobil yang berhenti di hadapannya, dan saat kaca mobil itu terbuka ternyata itu adalah Luke.


"Ayo masuk!" titah Luke sambil membuka pintu mobilnya dari dalam.


Amanda terbangong, dia menunjuk dirinya sendiri, "Maksudnya aku?" tanya Amanda.


"Bukan, tapi pohon yang ada di sampingmu. Masuk keburu hujannya gede!" ketus Luke.


"Nggak mau!" tolak Amanda sambil memalingkan wajahnya saat mendengar Luke berbicara dengan nada yang ketus.


"Ya ampun, keras kepala banget sih?" gerutu Luke, kemudian dia keluar dari mobilnya dan langsung menuju ke arah Amanda dan menggendong tubuh gadis itu, lalu mendudukkannya di dalam mobil.


Amanda kaget dan dia pun berontak. "Diam! Atau ku cium kamu di sini!" ancam Luke.


Mendengar itu, Amanda seketika terdiam. Dia tidak ingin jika nanti Luke mencium dirinya. Gadis itu pun langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan, dan Luke yang melihat itu pun tersenyum tipis. Gagi dia pemandangan seperti itu sangatlah lucu.


'Ya ampun, gadis ini benar-benar polos. Apa Iya aku bakalan mencium dia di tempat umum?' batin Luke.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2