
Happy reading.......
Sesampainya di rumah sakit, Mentari langsung dilarikan ke UGD. Sementara itu, Yoga menunggu di depan ruangan dengan wajah yang cemas. Dia takut terjadi apa-apa dengan wanita itu dan juga kandungannya.
Sedangkan di tempat lain, Ardi pulang ke rumah, setelah dari restoran Mentari, tetapi dia tidak menemukan istrinya. Pria itu juga menuju rumah Anjasmara, tetapi tetap saja, Mentari tidak ada di sana.
''Kamu kenapa nyari Mentari ke sini, Di? Memangnya istri kamu ke mana?'' tanya Mama Ranti saat Ardi menanyakan tentang Mentari.
''Tadi dia habis dari kantor, Mah. Aku pikir, dia ke sini? Berarti Mentari tidak ada di sini ya? Lalu, ke mana dia pergi? Di restoran juga tidak ada, di rumah juga sama. Ya ampun sayang, kamu ke mana?'' Ardi terlihat frustasi dan kebingungan memikirkan keadaan istrinya.
Mama Ranti melihat ke arah putranya dengan tatapan menyelidik. Dia yakin, telah terjadi sesuatu antara Mentari dan juga Ardi.
''Apa kalian bertengkar?'' tebak mama Ranti.
Ardi yang mendengar pertanyaan sang mama menjadi gugup. Jika dia mengatakan yang sejujurnya, di mana Sasa datang dan mengancam untuk menikahinya, dan tentang Mentari yang mendengar semua kesalahpahaman tersebut.
Dia sangat yakin, jika mamanya pasti akan marah besar kepada dirinya, tapi sebelum itu terjadi, Ardi ingin menuntaskan dulu masalahnya bersama dengan Mentari. Supaya tidak ada kesalahpahaman di antara mereka.
''Jawab Ardi! Kenapa kamu diam saja?'' desak mama Ranti saat melihat Ardi hanya diam saja.
''Hanya kesalahpahaman saja, Mah. Kalau begitu aku permisi dulu ya, mau mencari Mentari, Assalamualaikum.'' Ardi berkata sambil mencium tangan sang mama, kemudian dia pergi meninggalkan kediaman Anjasmara.
Bunga yang baru saja masuk ke dalam rumah sehabis mengajak Arjuna jalan-jalan ke taman. Seketika merasa heran saat melihat Ardi pergi dengan terburu-buru. Dia juga sempat mendengar kata Mentari dan kesalahpahaman.
''Assalamualaikum, Ma,'' ucap Bunga sambil mencium tangan mertuanya.
''Waalaikumsalam, kamu sudah pulang, sayang?'' tanya mama Ranti pada Bunga.
Wanita itu pun mengangguk. ''Arjuna, kamu mandi sama bibi dulu ya! Setelah itu bobo siang!'' perintah Bunga kepada Putra kecilnya.
''Iya Mah,'' jawab Arjuna. Kemudian dia masuk ke dalam kamar ditemani oleh pelayan.
__ADS_1
Sementara itu, Bunga duduk di kursi menemani mama Ranti yang sedang memijit keningnya. Dia yakin, wanita itu pasti sedang memikirkan sesuatu tentang Ardi dan Mentari.
''Kenapa dengan mereka, Mah?'' tanya Bunga tanpa basa-basi. Karena tanpa dia menyebutkan nama pun, mama Ranti sudah mengetahui arah pembicaraannya.
''Entahlah! Tadi Ardi ke sini mencari Mentari, katanya di restoran dan rumahnya, wanita itu tidak ada. Sepertinya mereka sedang bertengkar?'' jawab mama Ranti dengan nada yang lesu.
Bunga menghela napasnya saat mendengar jawaban dari mama mertua. Dia tidak habis pikir dengan rumah tangga Ardi, tidak pernah lurus dalam membimbing istrinya. Entah itu bersama dengan Tina ataupun Mentari, selalu ada saja masalah.
''Bertengkar dalam rumah tangga itu, hal biasa 'kan Mah? Lagi pula, mereka sudah sama-sama dewasa. Seharusnya bisa menentukan mana yang benar dan tidak. Dan jika memang ada kesalahpahaman, seharusnya dibicarakan baik-baik. Bukannya saling kabur-kaburan,'' jawab Bunga dengan cuek. Kemudian dia pergi meninggalkan mama Ranti masuk ke dalam kamarnya.
Bunga tidak mau peduli dengan rumah tangga Ardi dan juga Mentari, kecuali dia adalah Tina, mungkin Bunga akan turun tangan. Lagi pula, sekarang wanita itu sudah lelah mencampuri urusan rumah tangga Ardi.
Ditambah, Bagas juga melarang Bunga untuk terus memikirkan prahara yang terjadi dalam hidup Ardi, Mentari maupun Tina. Karena Bagas tidak ingin istrinya sampai kelelahan dan banyak pikiran.
.
.
''Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? Lalu, kandungannya bagaimana, Dok?'' tanya Yoga dengan panik.
''Maaf, Tuan ini siapanya pasien? Apakah suaminya, atau ....''
''Saya sahabatnya Dok,'' jawab Yoga dengan cepat.
''Begini Tuan, pendarahan yang dialami oleh pasien sangat banyak. Dan maaf, kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungannya,'' jelas Dokter tersebut.
Yoga terlihat begitu shock saat mendengarnya. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Mentari saat mengetahui bayi yang ada di dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.
''Apa Dok! Maksud Dokter, bayinya ...'' Yoga tidak bisa meneruskan kata-katanya, dan Dokter hanya bisa menganggukkan kepala.
''Kami terpaksa harus mengkuret pasien, dan tolong hubungi keluarganya untuk menandatangani persetujuan. Karena kami harus segera melakukan itu.''
__ADS_1
''Keluarganya pasti akan lama ke sini Dok. Biar saya tanda tangani saja, setelah itu, saya akan telepon keluarganya agar datang ke sini,'' ujar Yoga.
Dokter mengangguk, kemudian Suster yang berada di sebelahnya memberikan surat dan harus ditandatangani oleh Yoga. Kemudian pria itu duduk di depan menunggu kabar Mentari kembali.
''Aku yakin, Mentari pasti sangat terpukul. Kasihan dia! Sebenarnya, apa yang Ardi mau? Kenapa sampai dia tega kepada Mentari?'' geram Yoga.
Kemudian Yoga mengeluarkan ponselnya, namun dia lupa jika pria itu tidak menyimpan nomor Ardi, tetapi Yoga ingat, dia menyimpan nomor Tina. Karena waktu itu Yoga pernah memesan baju di butik Tina.
Saat telepon tersambung, Yoga mengutarakan niatnya untuk meminta nomor Ardi. Dia harus mengabarkan keadaan Mentari.
Tina : Memang apa yang terjadi kepada Mentari? Kenapa kamu ingin mengabari Ardi?
Yoga mendengar suara Tina begitu cemas, dan pria itu pun menjelaskan keadaan Mentari kepada Tina. Tentu saja di Tina sangat syok saat mendengarnya.
Tina : Baiklah, aku akan kirimkan nomor Ardi. Kamu harus segera mengabarinya, kasihan Mentari.
Setelah telepon tertutup, Tina merenung sambil bersandar di ranjang. Dia benar-benar sedih saat mendengar keadaan Mentari. Walau bagaimanapun, Tina adalah seorang wanita, dan dia yakin Mentari P
pasti akan sangat terpukul.
Tante Imelda masuk ke dalam membawa sop hangat untuk Tina, dan dia melihat wajah putrinya sedang murung.
''Sayang, ada apa? Kenapa wajah kamu ditekuk seperti itu? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?'' tanya tante Imelda saat duduk di samping putrinya.
Tina pun menjelaskan jika tadi Yoga menelponnya dan mengabarkan tentang keadaan Mentari yang kehilangan bayinya. Wanita itu tentu saja sangat kaget saat mendengar penjelasan Tina. Dia juga merasa miris, karena walau bagaimanapun tante Imelda juga seorang ibu.
''Mah, apakah boleh jika Tina nanti menengok keadaan Mentari? Tina yakin, wanita itu pasti sangat terpukul..Entah apa yang terjadi, dan entah apa yang mas Ardi lakukan kepadanya sampai dia harus kehilangan bayinya?'' pinta Tina dengan tatapan memelas.
''Tentu saja sayang, Mama juga akan ke sana menengok keadaannya,'' jawab tante Imelda.
Apa yang kamu lakukan,.mas? Kenapa kamu malah membuat Mentari sekarang kehilangan bayinya? Jika seperti itu, yang ada Mentari akan membenci kamu, dan hubungan kalian akan semakin rumit. batin Tina.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......