
Happy reading......
Hari pernikahan Mentari dan Ardi pun tengah berlangsung saat ini. Hanya ada keluarga dari Ardi, tetapi di sana juga ada Yoga dan juga tante Imelda dan om Wira, sebab mereka diundang oleh Mentari dan juga Tina.
Walaupun sakit dan perih saat melihat Mentari bersanding dengan pria lain, tetapi Yoga harus ikhlas. Entah kenapa, dia tidak ingin melupakan cintanya kepada Mentari, sebab melihat bagaimana status Ardi yang sudah memiliki istri.
Dia takut Mentari akan tersakiti nantinya. Jadi, dia siap menjadi benteng dan tameng saat Mentari terluka. Memang terdengar bodoh, tapi itulah cinta.
Terkadang orang yang merasakan cinta, akan melakukan hal bodoh demi orang di cintainya.
Todak ada rona kebahagiaan di wajah Mentari, tetapi sebaliknya, Ardi malah terlihat sangat bahagia. Sedangkan Luke sedang dipangku oleh mama Ranti. Beberapa kali mereka bertemu, Luke sudah sangat dekat dengan kedua orang tua Ardi.
''SAH.''
Satu kata yang terucap dari mulut semua orang yang ada di sana, menjadikan Mentari dan Ardi pasangan suami istri, tetapi Tina yang mendengar itu malah menundukkan kepalanya sambil menitikan air mata. Karena walau bagaimanapun, dia tentu saja merasakan sakit ketika melihat suaminya sendiri menikah kembali.
Tante Imelda yang sedang duduk di sebelah Tina, seketika menggenggam tangan wanita itu. Dia tahu, perasaan Tina saat ini tengah hancur, karena sebagai seorang perempuan, tentu saja dia paham bagaimana perasaan seorang istri, ketika melihat suaminya menikah kembali dengan wanita lain.
''Tante yakin, kamu wanita yang kuat.'' bisik tante Imelda di telinga Tina.
Bunga menggeser tubuhnya, kemudian dia mengusap pundak Tina sambil tersenyum ke arahnya, mencoba menguatkan sahabatnya. Dia juga sangat tahu, jika Tina saat ini tengah rapuh. Apalagi melihat wajah Ardi yang begitu bahagia, sementara Mentari menatap ke arah Tina dengan sendu.
'Ya Tuhan, maafkan aku. Semoga saja Kak Ardi bisa adil kepadaku dan juga Mbak Tina,' batin Mentari.
__ADS_1
Setelah acara akad itu selesai, Mentari dan juga Ardi saat ini tengah berada di kamar mereka yang berada di lantai dua yang bersebelahan dengan kamar Ardi dan Tina. Wanita itu sedang duduk di tepi ranjang sambil meremas tangannya. Bukan karena takut dan gugup akan malam pertama yang akan mereka lewati nanti.
Akan tetapi, Mentari memikirkan Tina saat ini. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan hendak keluar dari kamar. Namun seketika tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Ardi.
''Maaf Kak, aku harus ke kamarnya mbak Tina. Aku benar-benar khawatir dengan dia,'' ucap Mentari sambil melepaskan tangan yang melingkar di perutnya.
''Kenapa? Dia saja tadi tidak kenapa-napa? Lagi pula, ini adalah malam pertama kita, bukan? Malam yang selama ini kita impikan,'' jawab Ardi sambil menaruh kepalanya di pundak Mentari dan mengendus leher jenjang wanita itu.
Namun seketika Mentari melepaskan dengan kasar tangan Ardi, lalu berbalik menatap pria itu dengan tajam. Apalagi saat ini Ardi tengah memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
''Kak, ingat! Jika bukan karena mbak Tina, aku tidak akan mau menikah dengan Kak Ardi. Tolong dong, hargai perasaan mbak Tina yang sudah berkorban untuk kita! Jangan egois! Kakak ini seperti tidak mempunyai hati, tau nggak?'' kesal Mentari dengan tatapan tajam ke arah Ardi.
Setelah mengatakan itu, dia keluar dari kamar untuk menuju ke kamar Tina. Namun saat sampai di sana, dia tidak menemukan wanita itu.
''Tante yakin, kamu adalah wanita yang kuat, Sayang. Ingat, kamu harus sembuh! Tidak ada yang bisa melewati dan menentukan takdir, selain Allah. Mungkin Dokter memvonis kamu dengan penyakit yang ganas, tapi jika kamu berjuang untuk sembuh, dibarengi dengan do'a, Kun Fayakun. Semua pasti bisa terjadi atas kehendaknya,'' ujar tante Imelda memberi semangat kepada Tina.
''Iya Tin, apa yang katakan oleh Tante Imelda itu benar. Kamu harus optimis dan semangat, untuk sembuh. Tidak ada yang instan, semua butuh perjuangan bukan? Jika kamu menyerah dengan keadaan, bagaimana mungkin, Allah akan memberikan kesembuhan? Mana Tina aku yang dulu? Yang ceria, periang, ngomongnya ceplas-ceplos bahkan nggak mudah untuk ditindas oleh orang lain. Namun kamu tahu! Sekarang Tina yang aku kenal begitu menye, letoy macam burung suamiku kalau sedang tidur,'' kekeh Bunga.
Tina tersenyum mendengar ucapan sahabatnya, kemudian dia memukul lengan Bunga. Padahal air matanya terus saja mengalir. ''Kau ini membuka aib suami sendiri,'' ucap Tina sambil menghapus air matanya.
Sedangkan tante Imelda hanya terkekeh saja, sambil menggelengkan kepalanya.
''Tapi apa yang aku katakan benar. Ketika burung itu tidur, maka dia akan letoy macam belut, tapi jika burung ajaib itu telah bangun, lobang ikan buntal pun dia serang,'' kekeh Bunga kembali.
__ADS_1
Kali ini Tina tidak bisa menahan tawanya, begitupun dengan tante Imelda. Kedua perempuan itu tertawa renyah saat mendengar ucapan Bunga. Kemudian Tina menggenggam tangan sahabatnya dan juga tangan tante Imelda.
''Terima kasih ya, Bunga, tante, kalian sudah ada di sisi aku saat seperti ini. Jujur, saat ini memang aku sangat down. Bahkan aku tidak memiliki semangat sama sekali, tapi apa yang kalian katakan benar, aku harus semangat. Aku tidak boleh ditindas oleh mas Ardi. Aku benar-benar harus membentengi diri dan juga hati ini, agar tidak terluka saat melihat kemesraan mereka,'' ujar Tina.
Tante Imelda dan juga Bunga mengangguk bersamaan, kemudian mereka memeluk tubuh Tina.
Dia benar-benar bersyukur karena memiliki Bunga dan juga tante Imelda di dalam hidupnya. Saat perasaannya sedang hancur dan mentalnya sedang jatuh, orang-orang yang menyayanginya datang menghampiri, merangkul dan menggenggam tangannya.
Tuhan Memang adil. Dia memberikan cobaan yang begitu berat kepadanya, tetapi dia juga memberikan orang-orang yang begitu menyayanginya, bahkan ada di saat Tina terpuruk. Terima kasih ya Allah, Engkau sudah memberikan orang-orang yang begitu menyayangiku, yang selalu ada untukku, disaat aku sedang butuh dukungan. batin Tina
Saat mereka tengah memeluk satu sama lain, tiba-tiba pintu kamar diketuk, dan saat terbuka ternyata yang datang adalah Mentari. Kemudian tante Imelda dan juga Bunga pun pamit keluar, memberikan ruang untuk kedua wanita itu berbicara dari hati ke hati.
''Mbak, apa aku mengganggu?'' tanya Mentari yang masih menggunakan kebaya.
''Tidak, sini duduklah!'' ajak Tina sambil menepuk samping ranjang.
Mentari mengangguk, kemudian dia melangkah ke arah ranjang dan duduk di sebelah Tina. Dapat dia lihat sisa air mata yang masih mengalir di kedua pelupuk wanita itu. Hatinya terasa sakit, karena dialah penyebab dari semua kesedihan Tina.
''Ada yang ingin aku bicarakan dengan Mbak,'' ucap Mentari, dan Tina langsung menggangguk.
''Iya, aku rasa memang kita perlu bicara,'' jawab Tina.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1
Permainan Drama sesungguhnya akan di mulai setelah pernikahan😁Siapa yang setuju Tina meninggoy? Ada yang bisa tebak😉