Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Amarah Bunga Meluap


__ADS_3

Happy reading.....


Setelah beberapa hari setelah kejadian di mana Tina selalu merespon jika Cahaya memegang tangannya, tante Imelda pun setiap hari membawa Cahaya ke sana. Dia yakin, Tina akan cepat sadar berkat Cahaya.


Hari ini, seperti biasanya, tante Imelda membawa Cahaya ke rumah sakit. Kemudian dia menyiapkan makan siang untuk Raka dan juga suaminya, karena setiap hari mereka selalu makan siang di sana, tetapi kali ini om Wira juga ikut. Sebab kerjaannya di kantor tidak terlalu banyak.


Saat mereka tengah makan siang, sementara Cahaya sedang bermain di dekat kaki tante Imelda, tiba-tiba saja mereka dikagetkan dengan suara yang seseorang dengan nada yang lirih.


''Mas Raka,'' ucap Tina dengan lirih.


''Mah, itu bukannya suara Tina ya?'' Raka Berkata sambil menghentikan makan siangnya. Kemudian mereka menatap ke arah ranjang pasien.


''Sepertinya hanya halusinasi kamu saja, dan mama juga sepertinya salah dengar,'' jawab tante Imelda.


''Mungkin saja,'' jawab Raka dengan lesu. Kemudian mereka melanjutkan makan siangnya kembali.


Namun lagi-lagi suara itu terdengar lirih memanggil nama Raka, sehingga membuat ketiganya terdiam, lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Tina.


Puji syukur atas kehadirat Allah, saat ini Tina tengah menatap langit-langit rumah sakit. Dia sudah sadar, dan tante Imelda yang melihat itu tentu saja sangat bahagia. Dia sampai memeluk tubuh Tina.


''Ya Allah, Nak. Kamu sudah sadar? Kenapa lama sekali tidurnya? Mama kangen sama kamu, Nak,'' ucap tante Imelda yang sudah tidak kuat lagi menahan tangisnya.


Tina tersenyum dengan tipis, kemudian dia melirik ke arah Raka dan juga om Wira, lalu tante Imelda. Tina senang, dia bisa melihat senyum orang-orang yang disayanginya.


''Haus,'' ucap Tina dengan lirih.


Raka yang mendengar itu segera mengambil air dari atas nakas, kemudian dia membantu Tina untuk minum. Setelah itu, dia memecat tombol untuk memanggil Dokter dan Suster.


''Aku benar-benar senang,.kamu sudah sadar sayang,'' ucap Raka dengan wajah yang bahagia.

__ADS_1


Tqk lama Dokter dan Suster datang, lalu memeriksa keadaan Tina. Mereka juga sangat kaget saat melihat Tina sudah bangun dari komanya.


''Bagaimana keadaannya, Dok?'' tanya tante Imelda dan juga Raka bersamaan.


''Alhamdulillah, keadaannya sudah jauh lebih baik. Bahkan stabil. Pasien tidak boleh banyak pikiran dulu ya Bu, Tuan, biarkan istirahat total,'' jawab Dokter sambil tersenyum.


''Baik Dok, terima kasih,'' jawab tante Imelda.


Setelah kepergian Suster dan juga Dokter, Raka duduk kembali di samping Tina, lalu menggenggam tangannya. Dia menatap calon istrinya dengan tatapan yang berbinar bahagia.


''Aku senang, kamu sudah sadar. Tidakkah kamu tahu! Hatiku sangat sakit saat melihat kamu tidur dan tidak ingin bangun kembali. Kamu seperti tidak merindukanku dan merindukan pernikahan kita nanti,'' ucap Raka sedikit menggombal.


Tina tersenyum saat mendengar ucapan calon suaminya. ''Aku tidak ingin bangun, sebab setiap lantunan ayat suci yang kamu perdengarkan, membuatku seakan betah dalam tidurku,'' jawab Tina dengan suara yang lirih.


Raka senang karena Tina mendengar apa yang selama ini diucapkan olehnya.


.


.


Namun, saat Bunga akan keluar dari kediaman Anjasmara, tiba-tiba saja Ardi dan juga Mentari masuk ke dalam rumah. Dan Bunga yang melihat itu malah melengos, membuang pandangannya ke arah lain.


''Bunga, kamu mau ke mana? Tumben siang-siang gini udah rapi?'' tanya Ardi berbasa-basi.


''Mau ke rumah sakit, menengok keadaan Tina,'' jawab Bunga dengan cuek.


''Iya, aku juga belum ke sana menengok keadaannya. Nanti aku dan Mentari pasti akan ke sana, melihat keadaan Tina. Katanya dia koma, ya?'' tanya Ardi dengan wajah yang sendu.


''Eh, kalian ke sini?'' tanya mama Ranti saat melihat Ardi dan Mentari datang.

__ADS_1


Mereka berdua pun mencium tangan Mama Ranti.


''Alah ... gak usah sok sedih deh lo! Gue yakin kok, lo senang 'kan Tina sekarang koma? Gue tuh nggak habis pikir deh sama kalian. Bisa ya kalian itu tersenyum bahagia di atas penderitaannya Tina?'' ujar Bunga yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


''Maksud Mbak, apa?'' tanya Mentari dengan bingung.


''Aku di sini tidak menyalahkan kamu kok, Mentari. Aku tahu, ini semua itu jalannya takdir, tapi kalian semua ini bahagia, tapi apa kalian memikirkan bagaimana perasaannya Tina? Di sini, bukan hanya kalian yang menjadi korban, tapi Tina korban yang sebenarnya. Dia bahkan rela mengorbankan perasaannya demi siapa? Kalian berdua! Tapi apa? Kalian seakan lupa dengan pengorbanan Tina, tersenyum bahagia, tetapi Tina di sana malah menderita. Bahasa kasarnya adalah, kalian tersenyum di atas penderitaan seseorang!'' Bunga berkata dengan nada yang sarkas, sambil menatap ke arah Ardi dan Mentari bergantian.


Emosi yang selama ini dia tahan, akhirnya meluap juga, saat mengingat bagaimana penderitaan sahabatnya yang sudah banyak mengorbankan kebahagiaan untuk Ardi dan juga Mentari.


''Nak, kenapa kamu bicara seperti itu kepada Ardi dan Mentari?'' tanya mama Ranti dengan heran.


''Mama mau belain mereka? Silakan, aku tidak melarang kok! Tapi itu adalah fakta. Lima tahun Tina bertahan bersama dengan Ardi. Apakah ada dia menghargai istrinya? Apakah ada, Ardi sedikit aja menganggap Tina ada di sisinya? Tidak! Bahkan dia menyiksa batin Tina, dan sekarang dia tersenyum setelah Tina mengorbankan segalanya,'' jelas Bunga dengan nada penekanan.


Mama Ranti terdiam mendengar ucapan menantunya. Apa yang dikatakan Bunga memang ada benarnya. Di sini orang yang paling banyak berkorban, adalah Tina. Wanita itu bahkan mengenyampingkan egonya demi kebahagiaan Ardi dan juga Mentari.


Setelah membungkam mulut Ardi dan Mentari, Bunga pergi dari kediaman Anjasmara menaiki mobilnya untuk ke rumah sakit. Dia tidak peduli, mau Ardi dan Mentari sakit hati atau tidak.


Ajan tetapi, perasaan Bunga jauh lebih sakit saat mengingat, bagaimana pengorbanan Tina selama ini.


*B*ullshit dengan perasaan mereka. Aku tidak peduli, mau mereka sakit hati atau tidak! batin bunga.


Sementara itu, Mentari terdiam. Dia membenarkan apa perkataan Bunga. Wanita itu tidak menyangka, jika Bunga yang selama ini bersikap hangat kepadanya, ternyata mempunyai amarah dan rasa tidak suka kepada dirinya.


''Sayang, ucapan Bunga jangan diambil hati ya! Dia seperti itu karena masih merasa sedih tentang keadaan Tina. Wajar saja, mereka itu sudah seperti adik dan kakak,'' ujar mama Ranti.


Dia tidak ingin Mentari banyak pikiran, karena saat ini wanita itu tengah mengandung cucu keduanya.


''Iya Mah,'' jawab Mentari dengan nada yang lesu.

__ADS_1


Sementara Ardi merasa tersentil dengan ucapan Bunga. Dia benar-benar merasa, jika dirinya sangat jahat kepada Tina. Pria itu pun bertekad akan menemui Tina di rumah sakit dan melihat keadaannya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2