Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Promo Novel: Di Tikung Keponakan


__ADS_3

Jangan Lupa Mampir ya di karya Teman Author😘😘Di jamin se greget Judulnya😍


Author: Cinta Terindah


Judul: Di Tikung Keponakan


Pagi hari ini, sebelum berangkat bekerja aku berniat untuk menemui Pak Polisi Edson terlebih dahulu. Karena semalam sudah berjanji akan menemuinya.


Aku sudah rapi dengan balutan baju kerja dan hijab segi empat, kemudian bergegas pergi menuju kantor Polisi. Saat di jalan mataku melihat Bang Eril bersama Flo bertengkar di pinggir trotoar.


"Apa yang mereka ributkan?" tanyaku dengan sangat penasaran, dan berjalan dengan perlahan menghampiri mereka.


"Putuskan hubungan dengan dia!" seru Flo sambil memegang tangan Bang Eril.


"Baik. Tapi, tunggu waktu yang tepat," jawab Bang Eril.


Hatiku seakan remuk, dan jantungku berdetak kencang mendengar ucapan dia barusan. Tanpa mereka sadari aku sudah ada di samping Flo mendengarkan percakapan mereka.


"Bukankah dia wanita hitam? Yang sama sekali tidak Abang suka?" tanya Flo sambil memeluk Bang Eril.


"Iya kamu tahu, kan' abang tidak pernah menyukai gadis yang berkulit gelap seperti dia," jawab Bang Eril sambil mengelus-elus rambut Flo.


Aku meneteskan air mata yang sejak tadi aku tahan. Dengan langkah bergetar mulai menghampiri mereka.


"Sudah cukup!" suruku.


Bang Eril dan Flo langsung melepaskan pelukan mereka, dan menghampiriku yang sudah berlinang air mata.


"Sayang, abang bisa jelasin semuanya." Bang Eril menarik tanganku. Namun, aku menangkisnya.


"Jangan dekati aku!" teriakku dengan suara bergetar.


"Kamu wanita murah! Ini balasan untukku!?" Aku bertanya dengan sangat emosi melihat meraka berdua.


"Tante terima saja, karena Bang Eril cintanya sama aku!" Flo menjawab dengan sangat ketus membuatku semakin kesal.


"Bang Eril, mulai detik ini juga kita putus!" seruku sambil bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


"Citra!" teriak Bang Eril. Namun, aku tidak menggubrisnya.


Aku berlari menuju taman yang tidak jauh dari lokasi kejadian tadi. Dengan perlahan aku duduk di bangku sambil menghapus air mataku.


"Jangan pikirkan mereka lagi, sudah cukup sakit hati ini." Aku berucap sambil menangis tersedu.


Bukan karena pria itu aku hancur. Namun, di khianati oleh keponakanku yang sangat aku sayangi.


Seseorang duduk di sampingku, dan memberikan sapu tangannya kemudian aku menoleh.


"Bang Amon!" Aku langsung memeluk dia sambil membuang ingus ke bajunya.


"Citra, ini ada sapu tangan," ucap Bang Amon sambil melepaskan pelukan kami.


"Maaf," ucapku sambil menerima sapu tangan darinya.


"Tidak apa-apa, bidadari abang," jawab Bang Amon sambil tersenyum manis padaku.


Aku semakin terisak-isak saat mendengar dia memanggilku dengan sebutan bidadari abang, rasa menyesal langsung menghampiriku.


Ternyata wajah tampan tidak mampu menjaga hati dan kesetiaan, dan aku sudah salah menilai pria dari wajah bukan hatinya.


Aku langsung berhenti menangis, bukan karena ucapannya. Namun, aku melihat gigi Bang Amon yang sudah ompong.


'Ya ampun, ternyata selain jelek dia juga ompong,' batinku.


Aku langsung menelan ludah dalam-dalam, melihat giginya sudah tidak ada lagi. Kemudian bangun dan menatap wajahnya.


"Maaf, Citra sudah terlambat. Sampai bertemu kembali!" Aku berlari dengan sekuat tenaga.


Setelah menjauh darinya, aku berhenti di halte bus duduk di sana sambil menenangkan diri.


"Ternyata dia sudah ompong, pasti umurnya sudah tua." Aku berucap dengan sangat pelan agar tidak ada yang mendengarkannya.


Aku menuliskan pesan di whatsapp, kemudian mengirimkan ke Pak Yogi karena aku akan berhenti bekerja.


📤Aku.

__ADS_1


(Assalamualaikum Pak Yogi, saya mengundurkan diri dari pekerjaan mulai hari ini. mohon maaf jika saya ada salah.🙏)


Setelah mengirimkan pesan, aku langsung berjalan kembali ke rumah karena tidak akan bekerja lagi, dan memutuskan untuk pergi bekerja di luar kota. Supaya mudah aku lupakan semuanya.


Setelah aku sampai di rumah, ternya Bang Eril ada di sana bersama emak mengobrol dan juga ada Kak Fiia.


"Citra, duduk sini!" Kak Fiia menepuk ruang kosong yang ada di sampingnya, agar aku duduk di sana.


Dengan perlahan aku duduk di sampingnya, sambil tersenyum simpul kepada pria yang tidak tau malu itu.


"Ada apa ini?" tanyaku sambil menatap wajah emak yang terlihat sangat bahagia.


"Nak Eril, ingin melamar kamu," jawab emak.


Aku langsung menatap tajam ke arah Bang Eril, kemudian bangun dan memukul meja yang ada di hadapanku.


Brak!


Semua orang yang ada di sana langsung menatapku, kemudian Kak Fiia menarik tanganku agar aku duduk kembali.


"Nak, kamu tidak sopan seperti itu!" seru emak sambil menatap wajahku.


"Suruh dia pergi dari sini! Semua tau? Dia sudah berselingkuh dengan Flo!" pintaku pada emak.


Sontak orang tuaku langsung bergegas pergi dari sana, karena dia sudah tidak mau ikut campur urusan anaknya.


"Citra, abang bisa jelasin semuanya," ucap Bang Eril dengan sangat lembut.


"Pergi sekarang!" sentak Kak Fiia. Sontak Bang Eril langsung bergegas pergi dari hadapan kami. Mungkin karena dia takut atau ada hal lain.


Setelah kepergiannya, aku bergegas masuk ke dalam kamar bersama dengan Kak Fiia. Setelah sampai kami duduk di sofa saling berhadapan.


"Kak Fiia, aku tadi bertemu bang Amon. Ada hal penting yang inginku sampaikan," ucapku dengan sangat serius, membuatnya penasaran.


"Katakan?" tanyanya dengan sangat kepo.


"Ternyata bang Amon, bukan cuma jelek doang. Tapi, juga ompong," kekeh ku.

__ADS_1


Kak Fiia langsung tertawa lepas, mendengar ucapku tadi, saat ini kami sudah berdosa besar menertawakan kekurangan Bang Amon.


Walaupun aku lebih suka menertawakan giginya yang sudah ompong, dan aku juga tidak munafik suka sekali mengejek orang.


__ADS_2