
Happy reading....
"Hei, jangan kasar ya sama wanita!" ucap seorang laki-laki, membuat langkah Vano dan juga Aurora terhenti saat mereka akan masuk ke dalam mobil.
Aurora dan juga Vano menengok ke arah samping, dan ternyata di sana ada sesosok pria yang sangat tampan yang tak lain adalah Kevin.
Pria itu turun dari motor sport-nya, lalu dia menghampiri Vano dan melepaskan genggaman pria itu di lengan milik Aurora. Tadi memang dia sempat ingin pulang, tapi saat keluar dari gerbang kampus, Kevin tidak sengaja melihat Aurora sedang ditarik paksa oleh Vano menuju mobil.
"Heh anak baru, nggak usah ikut campur deh lo!" ketus Vano saat melihat Kevin ikut campur dengan urusannya.
Vano memang mengetahui jika Kevin adalah anak baru di kampusnya, karena berita itu sudah tersebar ke seluruh kampus. Jadi tidak ada yang tidak mengetahui tentang kedatangan Kevin.
"Saya tidak akan ikut campur, jika Anda bersikap lembut pada seorang wanita. Tapi saya akan ikut campur saat melihat wanita dipaksa dan disakiti," jawab Kevin dengan nada yang datar.
Vano yang mendengar itu pun merasa geram. Dia berpikir, mungkin saja Kevin mengincar Aurora seperti dirinya, dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Apalagi mendengar desas-desus dari mahasiswa, jika Kevin mulai digilai banyak kaum hawa.
"Siapa juga yang kasar pada Aurora? Aku hanya mengajaknya pulang. Sebaiknya kau pergi dari sini, tidak usah ikut campur!" Vano mendorong tubuh Kevin, hingga tersungkur aspal.
Aurora yang melihat itu pun merasa kesal, karena Vano begitu sangat kasar. "Seharusnya kau tidak bersikap seperti itu, Vano! Sudahlah, aku mau pulang sendiri aja. Aku 'kan sudah bilang, tidak usah mengantarku! Jangan memaksa jika kau tidak mau ku laporkan pada papa, bagaimana?" ancam Aurora.
Vano yang mendengar itu pun menjadi takut, sebab dia lumayan mengenal Bagas orang yang sangat kejam, jika ada yang menyakiti keluarganya. Kemudian pria itu pun pergi dari sana, namun sebelum dia masuk ke mobil, Vano melirik ke arah Kevin.
"Urusan kita belum selesai," ucap Vano, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya.
Kevin membereskan bajunya yang sedikit kotor, sedangkan Aurora yang menatap itu biasa saja. "Terima kasih ya atas pertolongannya, tapi sebenarnya tidak usah seperti itu, aku bisa melawannya sendiri," ucap Aurora sambil memandang ke arah depan.
"Ck, gadis sombong. Sudah ditolong bukannya terima kasih!" gerutu Kevin yang masih terdengar oleh Aurora.
"Apa kamu bilang? Saya 'kan tadi sudah berterima kasih, dasar cowok aneh!" ketus Aurora.
Kevin tidak memperdulikan Aurora, kemudian dia berjalan kembali ke arah motornya lalu kembali memakai helm. Sedangkan Aurora masih berdiri, apalagi langit semakin mendung, dan Kevin yang melihat itu pun merasa tak tega.
__ADS_1
"Naiklah! Aku akan mengantarmu! Sebentar lagi akan hujan, pakai helmnya," ucap Kevin sambil menyerahkan helm kepada Aurora.
"Tidak usah, aku naik taksi saja!" tolak Aurora.
"Mau sampai kapan? Mau sampai bangkotan? Lihat, langit udah mendung, bentar lagi mau hujan," jelas Kevin.
Aurora menatap ke arah langit, dan benar saja, langit sudah mendung, sebentar lagi pasti akan menurunkan air yang siap mengguyur dengan deras. Aurora yang melihat itu pun tidak mempunyai pilihan lain, kemudian dia mengambil helm dari tangan Kevin, lalu memakainya dan menaik ki motor sport tersebut.
"Berpegangan! Aku akan sedikit ngebut, daripada kehujanan," ujar Kevin. Namun Aurora tidak peduli.
Pria itu pun menghela napasnya dengan kasar, kemudian dia melajukan motornya sedikit kencang, membuat Aurora tersentak kaget dan langsung memeluk tubuh Kevin dengan spontan.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati Kevin, saat Aurora memeluk dirinya. Seukir senyum begitu menawan di balik helm, sedangkan Aurora memejamkan matanya, karena baru pertama kali ini dia menaiki motor, apalagi bersama dengan seorang pria.
"Kita mau ke mana?" tanya Kevin saat tidak tahu arah tujuan mereka.
"Tinggal lurus aja, nanti belok kanan. Setelah itu ada supermarket berhenti saja, di sebelahnya ada Cafe!" jelas Aurora sambil sedikit berteriak, karena jalanan yang lumayan riuh.
Setelah 30 menit, mereka pun sampai di depan Cafe, dan berbarengan dengan itu hujan mulai turun lumayan deras. Kevin dan juga Aurora langsung berlari masuk ke dalam Cafe, setelah membuka helm dan baju mereka sedikit basah.
Kevin yang mendengar itu merasa heran, tapi kemudian dia menurut saja dan masuk ke dalam. Beberapa pelayan yang melihat Aurora, menundukkan kepalanya.
"Selamat siang Nona Aurora!" sapa salah satu pelayan menyapa gadis tersebut.
"Selamat siang. Bagaimana keadaan cafe, aman?" tanya Aurora.
"Aman Nona," jawab pelayan tersebut.
"Oh ya, kamu mau kopi atau teh? Atau minuman apa?" tanya Aurora kepada Kevin.
"Cofe latte saja," Jawab Kevin sambil duduk di salah satu kursi.
__ADS_1
"Buatkan cofe latte satu, dan susu jahe satu. Oh ya, buatkan saya pasta juga ya! Saya belum makan siang soalnya!" pinta Aurora pada pelayan tersebut.
"Baik Nona," jawab pelayan itu sambil pergi meninggalkan Aurora dan Kevin.
Melihat bagaimana hormatnya pelayan tersebut kepada Aurora, membuat Kevin mengambil kesimpulan, jika Aurora pemilik dari Cafe tersebut. Karena tidak mungkin jika hanya seorang customer bisa dihormati sedemikian rupa.
"Apakah kau mentraktirku!" tanya Kevin sambil menatap Aurora dengan alis terangkat satu.
"Yap, anggap aja itu ada ucapan terima kasih, karena kau sudah menolongku tadi. Walaupun sebenarnya aku tidak butuh," jawab Aurora dengan cuek. Kemudian dia mengeluarkan laptopnya untuk mengecek tugas kuliah.
Kevin yang mendengar itu pun merasa kesal. Baru kali ini ada wanita yang tidak terpana melihat ketampanannya, bahkan begitu jutek kepada dirinya. Padahal selama ini, semua wanita mengejar-ngejar dia, tetapi beda dengan Aurora. Gadis itu bahkan seperti tidak tersentuh sama sekali, dan itu membuat Kevin sangat penasaran.
Tiba-tiba saja ponsel Aurora berdering, dan dia langsung mengambilnya di dalam tas, dan saat dilihat tertera nama sang papa. Gadis itu pun langsung mengangkatnya.
"Iya, halo pah, kenapa?" tanya Aurora.
Bagas : Kamu itu kalau orang tua nelpon tuh, ucap salam dulu!
Aurora yang mendengar itu pun hanya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Iya pah, maaf, Aurora lupa. Assalamualaikum papa sayang," ucap gadis itu sambil tersenyum manis, padahal sang papa tidak ada di sana.
Kevin yang melihat senyum Aurora begitu terpikat. Dari tadi bahkan gadis itu tidak tersenyum kepadanya, tapi saat melihat senyum Aurora, membuat Kevin seperti merasakan sesuatu.
Bagas : Kamu diantar siapa tadi naik motor? Kenapa tidak pakai mobil?
Mendengar pertanyaan sang papa, Aurora tahu jika mata-mata papahnya sangatlah banyak.
"Maafkan putri tercintamu ini, pah. Mobil Aurora tiba-tiba saja mogok, dan tadi diantar teman. Tidak usah khawatir, dia hanya teman kok. Papa tenang aja," jawab Aurora.
Bagas : Kalau dia berani macam-macam, awas aja, habis sama papa!
Mendengar itu Aurora malah terkekeh, dia bahkan lupa jika di hadapannya saat ini ada Kevin yang sedang memperhatikan dirinya dengan lekat, tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari gadis cantik itu.
__ADS_1
'Dia benar-benar sangat cantik, jika sedang tersenyum seperti itu!' batin Kevin.
BERSAMBUNG.....