Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Asal Usul wasiat Riko 2


__ADS_3

Happy Reading......


''Dulu, waktu Ardi pulang dari luar negeri, mas Riko dan aku menjemputnya di Bandara, atas permintaannya kak Bagas.''


Sejenak Tina menghentikan ucapannya, dia benar-benar tidak sanggup untuk melanjutkan, karena bagi Tina itu adalah sebuah luka yang lama dan harus dibuka kembali. Sedangkan Bunga masih setia menunggu kelanjutan cerita dari sahabatnya.


''Namun di tengah jalan, mobil kami mogok. Entah tidak tahu kenapa? Dan saat kami sedang berada di pinggir jalan, Ardi tidak sengaja melihat ada seorang anak kecil yang ingin menyebrang, tapi jualan yang dibawanya saat itu tumpah. Akhirnya Ardi pun membantu membereskan jualannya, tapi tidak disangka dari arah berlawanan ada mobil yang remnya sedang blong, hingga tidak bisa mengkondisikan setirnya dan hampir menabrak Riko dan anak kecil itu, tapi ....''


Tina menggantung ucapannya, air matanya sudah lolos membasahi pipi, membayangkan bagaimana kekasih hatinya meninggal dengan cara yang tragis.


Padahal sebentar lagi mereka akan menikah, tentu saja membuatnya begitu sangat terpukul.


Bayang-bayang di mana tubuh Riko terhempas dengan luka yang parah, mengakibatkan dia harus kehilangan nyawanya.


''Mas Riko yang melihat Ardi akan tertabrak, tiba-tiba menarik tangannya. Namun sialnya, malah dia yang kena dan harus kehilangan nyawa. Memang sebelum mas Riko menghembuskan napas terakhirnya, dia sempat berpesan kepada Ardi untuk menjagaku, dan menggantikannya sebagai pengantin pria. Sebelum Ardi menolak, mas Riko sudah menghembuskan napas terakhirnya.''


Tina berkata dengan nada yang tersedu-sedu, dadanya begitu sesak, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sedangkan Bunga yang mendengar itu turut merasakan sakit di hatinya, bahkan tanpa sadar dia juga meneteskan air mata.


Lalu, Bunga langsung memeluk tubuh Tina, mencoba menenangkan perasaan wanita itu. Dia tahu apa yang Tina rasakan pastilah sangat sakit dan sulit, menyaksikan kekasih hati meninggal dan menghembuskan napas terakhirnya di depan matanya sendiri.


''Tapi Tina, walau begitu, kau patut untuk bahagia. Aku akan mendukungmu untuk mendapatkan cinta Ardi,'' ucap Bunga sambil mengusap air matanya.


Namun wanita itu segera menggeleng dengan cepat. ''Tidak Bunga! Aku tidak ingin memaksakan sebuah perasaan. Biarlah di sini aku yang mengalah, karena aku tahu rasanya hati terluka, seperti apa? Di sini bukan hanya dua hati yang tersakiti, melainkan tiga hati, Bunga. Kau tahu bukan, maksudku?'' Tina tetap kokoh pada pendiriannya.

__ADS_1


Bunga pun tidak bisa memaksa kehendak Tina, karena percuma saja dia membujuk sahabatnya dengan apapun, jika Tina sudah berbicara seperti itu, maka tidak bisa dibantah.


Mereka berdua tidak sadar ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka, bahkan orang itu mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras dan sorot mata yang penuh dengan rasa kecewa. Dia tidak menyangka, keharmonisan Tina dan Ardi yang selama ini ditampilkan hanyalah kebohongan belaka.


.


.


Siang hari sesuai dengan permintaannya Tina, Bunga menemani wanita itu untuk pergi ke restoran di mana Mentari bekerja. Mereka akan berbicara pada wanita yang berusia dua puluh satu tahun itu, untuk bersama dengan Ardi kembali.


Sesampainya di restoran, mereka langsung duduk di salah satu kursi yang ada di sana, kemudian meminta karyawan untuk memanggil Mentari, karena mereka ingin bertemu dengan wanita itu.


''Maaf Bu, tapi ibu Mentarinya sedang pergi menjemput putranya. Mungkin sebentar lagi akan pulang,'' jawab pelayan yang ada di restoran tersebut.


''Oh begitu, ya sudah, nanti kalau Mentari sudah ada suruh menemui kami, ya! Soalnya kami ingin berbicara hal yang penting,'' ujar Tina dan langsung dibalas anggukan oleh karyawan itu.


''Maaf Bu, Mentari, ada dua orang yang ingin bertemu dengan Ibu,'' ucap pelayan yang bernama Dila.


''Siapa? Cewek atau cowok?'' tanya Mentari.


''Perempuan Bu.''


Kemudian Mentari meminta Luke untuk masuk ke ruangannya terlebih dahulu bersama dengan babysitter-nya. Sedangkan dia berjalan bersama dengan pelayan tersebut untuk menuju meja, di mana dua orang yang tengah menunggu dirinya.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Mentari kaget saat melihat Tina. Namun wanita yang satunya dia tidak tahu, sebab membelakangi dirinya. Dia sejenak menghela nafasnya saat melihat kehadiran Tina.


Sebenarnya, apa yang di mau mba Tina? Kenapa aku merasa, seperti di hantui dalam rumah tangganya bersama kak Ardi? batin Mentari.


Mentari berjalan ke arah Tina, dan berdiri di samping wanita itu. Namun saat dia menengok ke arah samping, matanya seketika membulat saat melihat Bunga. Tentu saja Mentari masih ingat siapa Bunga, karena dia juga mengenal baik wanita itu.


''Mbak Bunga!'' kaget Mentari.


Bunga sejenak terdiam melihat penampilan Mentari yang begitu berubah 180 derajat. Dia tidak menyangka, jika Mentari yang dulunya cewek biasa dari kalangan bawah, bisa berpenampilan se-elegan itu. Bahkan sekarang wajahnya terlihat begitu sangat cantik.


Pantas Ardi tak bisa berpaling darinya! batin Bunga.


''Halo Mentari, apa kabar? Wah ... sudah lama sekali ya kita tidak bertemu,'' ucap Bunga sambil mengulurkan tangannya kepada Mentari, dan wanita itu tentu saja menyambutnya.


''Alhamdulillah kabar baik, Mbak. Mbak Mentari sendiri, bagaimana kabarnya?''


''Alhamdulillah, saya baik. Kamu semakin cantik saja,'' puji Bunga sambil menatap ke arah Mentari.


Wanita itu hanya menjawab pujian Bunga dengan senyuman saja. ''Oh iya, tadi kata karyawan saya, Mbak Tina dan juga Mbak Bunga ingin bertemu dengan saya, ya? Memangnya ada apa?'' tanya Mentari langsung to the point.


Tina dan Bunga pun saling melirik satu sama lain, kemudian Tina meminta Mentari untuk duduk di kursi, sebab ada yang ingin dibicarakan olehnya. Sementara itu Bunga hanya menyimak terlebih dahulu, dia tidak ingin mencampuri urusan kedua wanita yang saat ini tengah duduk di hadapannya. Karena di sana tugasnya hanya mensupport sahabatnya.


''Ada apa ya, Mbak?'' tanya Mentari dengan tatapan bingung ke arah Tina dan juga Bunga bergantian.

__ADS_1


''Begini Mentari, ada yang mau aku bicarakan hal yang penting sama kamu,'' jelas Tina.


BERSAMBUNG....


__ADS_2