Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Terpaku


__ADS_3

Happy reading....


Pagi hari Tina bangun dengan kepala yang terasa begitu pusing. Dia menatap ke arah jam yang sudah menunjukan pukul 08.00 pagi. Seketika mata wanita itu membulat kaget.


''Astaga! Aku kesiangan!'' seru Tina sambil menepuk jidatnya, setelah itu dia turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, Tina masuk ke ruang ganti dan memakai baju santainya. Dia melihat di kamar sudah tidak ada Ardi. Mungkin saja pria itu sudah berangkat ke kantor.


Tina sama sekali tidak ingat dengan ucapannya semalam kepada Ardi. Wanita itu seperti tidak mengingat apapun. ''Huuuf, mas Ardi sudah pergi ke kantor kayaknya? Dia sudah sarapan belum ya?''


Dia keluar dari kamar menuju lantai bawah, kemudian bertanya pada pelayan apakah Ardi sudah makan atau belum. Akan tetapi, ternyata pria itu belum sarapan.


''Mama sama papa kemana, Bi?'' tanya Tina pada pelayan di sana.


''Nyonya dan tuan besar pergi tadi pagi, Nona.'' Pelayan itu lalu memberikan sebuah surat kepada Tina, dan wanita itu langsung menerimanya.


Sayang, Mama. Maaf jika Mama tidak memberitahu kamu dulu sebelum pergi. Kami mendadak harus ke Bali, sebab tadi subuh Bunga menelpon jika anaknya masuk RS. Jadi kami harus kesana, Mama mau bangunin kamu tapi tidak enak.


Dia menghembuskan nafasnya dengan pelan saat membaca surat dari mertuanya itu. Tina bingung, kenapa mama Ranti tidak mengurim ewat pesan saja? Kenapa harus memakai surat.


.


.


Ardi duduk di kursi kebesarannya sambil menandatangani berkas berkas di atas meja. Akan tetapi, sejenak ia terdiam. Pria itu ingat dengan kata kata Tina semalam.

__ADS_1


Memang Tina berkata dengan keadaan tidak sadar, tapi perkataannya benar-benar menohok hati pria tampan tersebut. Dia merasa apa yang Tina ucapkan ada benarnya. Tidak mungkin dia hidup jika bukan ksrena Riko.


Seketika rasa bersalah yang begitu dalam hinggap di hatinya. Bagaimana tidak? Sebagai laki laki selama lima tahun tinggal bersama seorang perempuan dan sekamar. Tentu saja Ardi juga menginginkan hal manusiawi sebagai laki-laki.


Akan tetapi, setiap ia akan menjalani kewajibannya sebagai suami. Ardi merasa itu tidak pantas, sebab dia tidak ingin melakukannya tanpa adanya rasa cinta. Sebab jika Ardi melakukan itu, pasti dia akan teringat dengan Mentari.


Satu tangannya mengusap wajah dengan kasar. Dia mengambil foto yang ada di dalam laci, foto kebersamaanya bersama dengan Mentari. Kekasih dan ratu di dalam hatinya. Wanita yang selama ini menempati jiwanya, bahkan tidak tergantikan oleh siapapun.


''Kamu kemana, sayang? Selama lima tahun aku mencarimu, tapi kau hilang bagai di telan bumi,'' ucap Ardi dengan lirih sambil mengusap foto dia dengan Mentari.


''Maafkan aku, Riko. Aku mungkin tidak amanah untuk menjaga Tina. Jika saja waktu bisa di putar aku tidak akan mau menikahi Tina. Sebab aku hanya menyakitinya saja!'' Ardi berkata sambil menatap lurus ke arah depan.


.


.


''Luke, nanti di sana jangan nakal ya!'' titah Mentari pada putra tampannya itu.


''Iya Mah, Luke gak akan nakal kok,'' jawab Luke sambil menatap ke arah jalanan.


Anak kecil itu begitu senang melihat jejeran gedung-gedung tinggi yang menjulang dengan gagah. Matanya berbinar dengan wajah antusias. Bagaimana tidak? Itu adalah kali pertama dia melihat gedung-gedung berdinding kaca.


Selama dia tinggal di Pemalang, Luke tak pernah melihat gedung-gedung yang tinggi. Sebab di sana adalah kota kecil, dan hanya ada supermarket saja. Mall yang besar pun tidak ada.


Sesampainya di resto, Mentari langsung turun. Dia di sambut oleh Pak Arif, salah satu Manager sekaligus orang kepercayaan Bu Nur. Kemudian Pak Arif memperkenalkan Mentari sebagai Manager di resto tersebut pada semua karyawan.

__ADS_1


.


.


Siang ini Ardi sedang ada di perjalanan bersama dengan Deni, asisten pribadinya. Mereka akan menuju ke salah satu tempat untuk meeting.


''Kita mau meeting dimana sih, Den?'' tanya Ardi saat melihat mobil tak kunjung sampai.


''Di restoran xxxx Tuan. Kebetulan klien kita sudah menunggu disana,'' jawab Deni.


Ardi hanya menganggukan kepalanya saja, setelah itu tak ada lagi obrolan hingga mobil sampai di restoran. Deni pun langsung membuka pintu mobil samping Ardi, kemudian mereka masuk kedalam.


''Selamat siang, Tuan James,'' ucap Ardi menyapa klien nya.


''Siang Tuan Ardi,'' jawab pria berusia 40 tahun itu.


Kemudian Ardi duduk di sofa yang ada di sana, lalu mereka mulai meeting. Akan tetapi, saat mereka sedang meeting tiba-tiba saja ada sebuah bola yang menggelinding tepat mengenai kaki Ardi.


Pria itu mengerutkan dahinya saat melihat bola yang berada di kakinya. Pasalanya di sebuah resto mewah, kenapa ada sebuh bola? Saat Ardi mengambil bola itu, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang datang menghampirinya.


''Maaf Om, itu bola punya Luke,'' ucap anak kecil di hadapan Ardi.


Pria itu menengok lurus ke arah wajah anak kecil itu, akan tetapi seketika matanya membulat saat melihat wajahnya.


DEGH.

__ADS_1


Jantung Ardi seperti berhenti berdetak untuk sejenak saat melihat wajah anak itu. Dari alis, hidung dan juga bibirnya begitu mirip dengan dirinya. Dia sampai terpaku tak berkedip sama sekali.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2