
Happy reading.....
Tina tersenyum saat melihat seorang wanita yang tengah berlari ke arahnya dan juga Raka, wanita itu langsung memeluk tubuh Tina.
''Ya ampun, lo kok pindah nggak ngasih tau gue sih! Tau nggak, tadi itu gue ke rumahnya tante Imelda, tapi ternyata lo udah pindah ke apartemen,'' ujar Sherly sambil memukul lengan Tina dengan kesal.
''Iya maaf, soalnya aku udah nggak bisa tinggal di sana lagi,'' jawab Tina.
''Loh, kenapa?'' tanya Sherly dengan penasaran sambil menautkan kedua alisnya.
''Nanti aja gue jelasin di dalam, yuk masuk dulu! Raka, kamu mau masuk atau---''
''Aku pergi aja. Soalnya masih ada kerjaan di kantor,'' jawab Raka memotong ucapan Tina sambil tersenyum, kemudian dia berlalu meninggalkan Sherly dan Tina.
Pria itu mendesah dengan kasar saat berada di dalam lift. Dia benar-benar kesal, karena gagal untuk bertanya perihal pernikahan Tina. Sebenarnya Raka sangat penasaran, apakah Tina sudah menjanda tiga kali atau tidak.
Sementara Sherly hanya menggaruk belakang lehernya saja. Dia lupa jika di sana ada Raka, jadi tidak menyapa pria itu, karena hanya terfokus kepada sahabatnya saja.
Sherly pun masuk ke dalam apartemen milik Tina, kemudian dia duduk di sofa depan tv lalu menyalakan tv tersebut. Sedangkan Tina menaruh koper di kamar, lalu berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minum sahabatnya.
Sudah lama dia tidak pulang ke apartemen, sehingga bahan-bahan di sana pun tidak ada. Hanya ada teh dan gula saja, jadi Tina hanya membuatkan es teh manis untuk sahabatnya.
''Maaf ya, hanya ada es teh manis aja. Soalnya gue belum belanja sih,'' ujar Tina sambil menaruh dua gelas es teh manis di atas meja.
''No problem, sekarang lo jelasin sama gue, kenapa lo nggak tinggal di rumahnya tante Imelda lagi? Kalian 'kan udah seperti anak dan ibu? Mereka juga udah menganggap lo sebagai putrinya, bukan? Lalu ...'' tanya Sherly.
__ADS_1
Dia memang belum mengetahui tentang Raka, om Wira dan juga tante Imelda, jika mereka adalah keluarga dan Raka adalah putra dari om Wira.
Terlihat Tina menghembuskan napasnya. Dia menatap ke arah tv yang sedang menayangkan berita gosip, tetapi sama sekali tidak menarik minatnya. Karena saat ini pikiran Tina sedang tidak di sana.
''Yyee ... si tukiyem, malah diam. Ayo jelasin, kenapa?'' Sherly terus mendesak saat melihat Tina hanya diam saja.
Melihat sahabatnya yang sudah tidak sabar, Tina pun terkekeh. Kemudian dia menjelaskan kepada Sherly tentang alasannya tidak tinggal di sana lagi. Bahkan Tina juga menjelaskan tentang statusnya Raka yang ternyata adalah anak kandung dari om Wira dan tante Imelda, sekaligus kakaknya Riko.
Sherly yang mendengar itu, tentu saja sangat kaget. Bahkan dia seakan tidak percaya, karena yang Sherly tahu Raka berasal dari Thailand.
''Tunggu deh! Lo bilang tadi, Raka itu adalah kakaknya Riko? Lalu, bagaimana bisa mereka terpisah?'' tanya Sherly dengan heran.
Tina pun menjelaskan, jika Raka terpisah karena diculik oleh seseorang, hingga dihanyutkan di sungai dan akhirnya ditemukan oleh keluarga Boon-nam yang sedang liburan kala itu di Indonesia.
Sherly mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti. Kemudian dia melipat kedua tangannya di depan dada..Sedangkan satu kakinya diangkat menopang ke kaki yang lain.
Tina terkekeh mendengar ucapan sahabatnya. ''Biasanya, kata-kata bijak kayak gitu, nggak pernah tuh keluar dari mulut lo?'' ledek Tina sambil tertawa kecil.
''Asem lo. Gue kata bijak diledekin, giliran gue somplak lu ledekin juga?'' kesal Sherly sambil menekuk wajahnya.
Tina tersenyum melihat wajah kesal sahabatnya itu, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia membenarkan apa yang Sherly katakan. Mungkin saja memang sekarang takdir tidak berpihak kepadanya, karena terus saja memberikan rasa sakit. Namun, Tina percaya, kebahagiaan suatu saat akan datang kepada dirinya.
.
.
__ADS_1
''Bagaimana Dok, keadaan istri saya?'' tanya Ardi saat Dokter selesai memeriksa keadaan Mentari.
''Ibu Mentari tidak sakit, Pak. Hal ini sudah biasa dialami oleh wanita yang sedang hamil muda. Mereka pasti akan merasakan mual dan juga pusing, tetapi memang, jika sakit di kepalanya tidak tertahan, maka mereka akan pingsan,'' jelas Dokter kepada Ardi.
Pria itu sangat kaget saat mendengar jika istrinya tengah mengandung. Dia menatap Dokter yang saat ini berada di hadapannya dengan tatapan tidak percaya.
''Apa, Dokter serius? Istri saya sedang hamil? Usia kandungannya berapa, Dok?'' tanya Ardi dengan antusias.
''Perkiraan kandungan Ibu Mentari, baru empat Minggu. Nanti untuk memastikan, sebaiknya Bapak membawa Ibu Mentari ke Rumah Sakit untuk di USG,'' jelas Dokter sambil memberikan resep vitamin kepada Ardi.
Tentu saja kabar itu begitu membahagiakan bagi Ardi. Sudah lama dia menantikan adik untuk Luke, dan akhirnya tercapai juga.
''Mas,'' panggil Mentari dengan suara yang lirih saat membuka matanya.
Ardi menengok ke arah samping, kemudian dia langsung mengecup seluruh wajah Mentari. Pria itu sangat bahagia, sementara Mentari yang diperlakukan seperti itu merasa bingung.
''Mas, kamu kenapa?'' tanya Mentari.
''Sayang, kita sebentar lagi akan memberikan Luke adik. Aku benar-benar sangat bahagia. Terima kasih ya, ternyata usaha kita untuk beberapa bulan ini tidak sia-sia,'' ungkap Ardi sambil tersenyum bahagia.
''Maksud kamu apa sih, Mas?'' bingung Mentari.
''Kamu hamil sayang. Kamu hamil,'' ujar Ardi dengan antusias.
Mentari yang mendengar itu, tentu saja sangat kaget. Entah dia harus senang atau bersedih, karena mengetahui jika dirinya saat ini tengah mengandung anak kedua, dan lagi-lagi itu anaknya Ardi.
__ADS_1
Bodohnya aku! Kenapa tidak minum pil KB terlebih dulu? Tapi ya sudahlah, namanya juga rezeki. Aku harus menerima dengan lapang dada. batin Mentari sambil mengusap perutnya.
Bersambung.....