
Happy reading......
Semua mata seketika tertuju pada sumber suara. Terlihat Bagas datang dengan rahang yang sudah mengeras dan sorot mata tajam.
Kemarin dia dapat kabar dari anak buahnya, jika Ardi bertemu dengan Tina di RS. Itu kenapa dia pulang sementara ke Indonesia, sebab Bagas tahu, keputusan apa yg akan di ambil oleh adiknya.
''Bagas!'' kaget mama Ranti dan Papa Randi.
Pria itu seketika membuka jasnya, lalu melipat kemeja setengah lengan. Membuat otot-otot kekar yang menonjol sexy terlihat jelas. Namun, tatapannya tak lepas mengarah kepada Ardi.
''Katakan! Aku juga ingin mendengar, apa yang akan kau bicarakan kepada kami,'' ucap Bagas dengan suara yang terdengar berat.
Entah kenapa, Ardi melihat kakaknya sedang menahan sebuah amarah, tetapi dia menyingkirkan perasaan itu semua. Kemudian, Ardi menatap keluarganya satu persatu, hingga tatapannya terhenti pada Tina yang sedang menundukkan kepala.
''Sudah kubilang dari awal, jika aku tidak pernah mencintai Tina. Pernikahan kami hanyalah sebuah amanah dan juga wasiat dari Riko. Aku tidak minta diselamatkan olehnya. Bukan aku manusia tidak punya terima kasih, hanya saja, selama bertahun-tahun aku terus menyiksa diriku, menyiksa hatiku, bersama dengan seorang wanita yang tidak pernah aku cintai.'' Sejenak Ardi menghentikan ucapannya.
Dia coba memilah kata yang tepat, agar kedua orang tuanya tidak syok. Walaupun pada akhirnya di tahu, jika keputusan yang diambil pastilah akan menyakiti semua orang, termasuk mama dan papanya.
''Selama ini, semua beranggapan, jika aku telah menyelingkuhi sebuah perasaan, tapi siapa yang menyangka, jika Tinalah yang berselingkuh?'' tuduh Ardi sambil menatap nyalang ke arah istrinya.
Wanita yang sejak tadi menundukkan kepalanya, ketika mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Ardi dengan tatapan membulat. Dia tidak terima, jika terus-menerus dituduh selingkuh. Padahal nyatanya, dia tidak pernah bermain hati dengan pria lain.
''Cukup, Mas! Sampai kapan, kamu akan terus menuduhku berselingkuh? Bahkan, kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku. Aku tidak pernah menduakan kamu, Mas!'' jawab Tina dengan suara yang meninggi.
__ADS_1
''Kamu mengelak seperti apapun, tapi aku sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Seperti apapun kamu membela dirimu sendiri, tetap saja, tidak akan merubah keadaan, Tina. Jika kamu memang sudah bosan denganku, kamu ingin berpisah dariku, bilang saja! Tidak usah kamu bertele-tele mencari pria lain!'' cetus Ardi.
Tante Imelda akan berdiri, hendak menjawab ucapan pria itu. Namun, ditahan oleh Tina. Dia menggelengkan kepalanya, mencoba memberikan pengertian kepada tante Imelda, jika dia bisa menanganinya sendiri.
Namun, yang dikhawatirkan oleh tante Imelda adalah tentang keadaan Tina, sebab Dokter menyarankan wanita itu jangan terlalu tertekan dan banyak pikiran, karena Tina masih dalam masa penyembuhan.
''Aku tidak pernah selingkuh, Mas. Tarik kembali ucapanmu! Bukankah selama ini, kamu yang telah mendua? Kamu bahkan terang-terangan mencari Mentari. Kamu tidak pernah menganggapku. Lalu sekarang, di sini aku yang tertuduh? Dia adalah Raka, dia yang menemaniku di saat kamu tidak ada. Bukan berarti, kami adalah pasangan, tapi kami teman. Dia adalah sepupunya dari pacar Sherly, kamu paham!'' Tina berkata dengan sorot mata yang sudah mengembun.
Rahangnya mengeras, giginya gemelutuk, menahan amarah yang siap meledak yang selama lima tahun dia pendam. Bahkan suara Tina bergetar, tidak kuasa menahan sesuatu yang selama ini dia tahan.
''Kalau kamu memang lebih bahagia bersamanya, maka aku akan menceraikanmu,'' ujar Ardi pada akhirnya.
Semua orang kaget saat mendengar ucapan Ardi. Semua mata memandang ke arah pria itu, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulutnya.
Akan tetapi, Ardi menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ardi rasa, tidak ada lagi yang harus dipertahankan antara dirinya dengan Tina. Karena mereka tidak saling mencintai, bahkan sekarang sudah jelas, Tina telah mendua hati.
Tante Imelda yang sudah tidak kuat lagi menahan amarah, seketika berjalan ke arah Ardi, lalu menampar wajah pria itu bolak-balik dengan geram. Kemudian dia menunjuk wajahnya dengan sorot mata yang tajam, bagaikan sebuah elang yang sedang melihat mangsanya.
''Keterlaluan kamu! Dasar pria brengsek! Pria tidak punya perasaan! Kamu tahu nggak, hah, Tina di sana itu ngapain? TAHU NGGAK! Dia sedang sakit dan baru saja selesai operasi. Benar-benar tidak punya hati, kamu! Sebagai manusia, kamu itu tidak pantas disebut sebagai seorang suami, paham!'' bentak tante Imelda dengan nada yang tinggi.
Semua orang terkejut saat mendengar penuturan wanita paruh baya itu. Mama Ranti menutup mulutnya, sedangkan Papa Randy menatap dengan wajah yang begitu syok, begitupun dengan Mentari. Dia langsung menatap ke arah Tina, yang sedang menangis tersedu-sedu. Sementara Bunga, langsung beralih duduk di samping sahabatnya dan memeluk wanita itu.
Bunga tahu, apa yang dirasakan oleh sahabatnya saat ini. Dia juga sangat kecewa kepada Ardi, karena walau bagaimanapun, mereka bertiga sudah mengenal cukup lama, tetapi tidak dia sangka Ardi begitu sangat egois.
__ADS_1
Bagas yang benar-benar sudah sangat- amat kesal, seketika berjalan ke arah Ardi, lalu dia mencengkram baju adiknya tersebut. Dan papa Randy yang melihat itu, tentu saja tidak tinggal diam. Dia tahu, jika Bagas pasti akan menghajar adiknya.
''Cukup Bagas! Hentikan! Kita bicarakan ini baik-baik, jangan pakai kekerasan,'' pinta papa Randy.
''Gimana mau dibicarain baik-baik, Pah. Apa Papa tidak lihat, dia aja begitu sangat egois. Walaupun di sini mereka bertiga itu adalah korban, tapi seharusnya, dia sebagai seorang suami bisa adil. Bahkan dia tidak tahu apa-apa tentang Tina!'' sindir Bagas dengan tatapan tajam ke arah Ardi.
''CUKUP!'' bentak mama Ranti sambil menitikan air mata.
Wanita paruh baya itu kemudian menatap ke arah Ardi dan Tina bergantian, kemudian tatapannya terhenti pada tante Imelda. Dia ingin menanyakan perihal ucapan wanita itu tadi, yang mengatakan jika Tina habis melakukan operasi.
''Jeng, tolong jawab saya dengan jujur! Apa maksud Anda, dengan Tina habis melakukan operasi? Apakah dia sedang sakit? Tapi, bukankah kalian habis dari Bali, liburan?'' tanya mama Ranti.
Begitu banyak pertanyaan di benaknya, saat Ardi mengatakan jika Tina selingkuh, dan dia bertemu dengan menantunya di Rumah Sakit. Apalagi ditambah dengan penjelasan tante Imelda, tang mengatakan jika Tina habis melakukan operasi. Itu membuatnya benar-benar sangat bingung.
''Halah ... Mah jangan percaya! Itu pasti hanya alibi mereka aja. Jelas-jelas, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Tina bersama dengan pria lain. Bahkan wajahnya terlihat begitu bahagia. Mungkin, karena wajah pria itu mirip dengan Riko. Oh, atau mungkin, itu Riko yang hidup kembali?'' tuduh Ardi yang masih tidak ingin mengalah.
Tina benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi, dia berjalan ke arah Ardi lalu menampar wajah pria itu bolak-balik. Dadanya sudah naik turun menahan amarah yang siap meledak yang selama lima tahun dia pendam.
''Keterlaluan kamu, Mas! Wajah dia memang sangat mirip dengan mas Riko, tapi dia bukan orang yang sama. Jika kamu ingin bersama dengan Mentari, aku ikhlas. Aku Ridho lillahi ta'ala, tapi jangan pernah kamu menuduhku berselingkuh dengan pria lain. Kurang aku apa, Mas? APA! Selama ini, aku sudah sabar. Aku diam, kamu perlakukan seenak jidat. Kamu tidak pernah menganggapku, aku diam, Mas!'' bentak Tina.
Dia mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini dipendam oleh dirinya. Bahkan saat ini darah sudah mengalir kembali di hidung Tina, dan semua yang melihat itu menjadi panik, tetapi Tina tidak peduli. Rasa sakit di hatinya bahkan lebih terasa, dibandingkan rasa sakit yang berada di kepalanya saat ini.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
Astaga! Othor nulis bab ini sampe ikutan marah² sampe nangis, pas adegan si Tina dan Tante Imelda yg ngomong😭😭