
Happy reading........
Pagi telah menyapa, malam telah berganti dengan mentari, di mana hari yang baru akan dimulai. Tina mengucapkan do'a saat bangun tidur, kemudian wanita itu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Helai demi helai rambut rontok menghiasi lantai kamar mandi. Tina yang melihat itu tersenyum, kemudian dia mulai mengambilnya lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik yang berada di balik pintu kamar mandi. Wanita itu mengumpulkan mahkotanya di sana, sebagai kenang-kenangan jika dia pernah memiliki rambut yang indah.
Selesai membersihkan diri, Tina bercermin. Dia melihat rambutnya sudah mulai menipis. ''Apa aku memakai hijab saja ya, untuk menutupi rambutku, biar semua orang tidak curiga?'' gumam Tina sambil memegang rambutnya dan lagi-lagi rontok.
Kemudian dia berjalan ke arah ruang ganti untuk memakai baju. Namun matanya tertuju kepada jilbab yang berjejer menggantung di dalam lemari l. Tina pun mengambilnya beserta dengan ciput, setelah itu dia memakainya.
Saat dia keluar dari ruang ganti, dirinya berpapasan dengan Ardi yang baru saja bangun dari tidurnya. Pria itu tertegun sejenak melihat penampilan baru Tina. Istri pertamanya itu benar-benar sangat cantik, bahkan terlihat begitu anggun.
Ya ampun, apa itu Tina? Dia berbeda sekali, sangat cantik! Puji Ardi di dalam hati.
Kemudian Tina duduk di meja rias, bahkan dia tidak menghiraukan keberadaan Ardi yang masih saja terpaku di tempat melihat penampilannya. Wanita itu menatap ke arah Ardi dari pantulan cermin, dia heran suaminya terus saja memperhatikan dirinya tidak seperti biasa.
''Kamu kenapa menatapku seperti itu, Mas?'' tanya Tina sambil memoles skin-care di wajahnya.
''Kamu mau ke mana? Tumben pakai jilbab?'' tanya Ardi sambil mengangkat satu alisnya dengan tatapan menyipit.
Tina mengembangkan senyum tanpa melihat ke arah suaminya. ''Tidak kemana-mana. Aku hanya ingin berpenampilan beda saja. Mungkin, memang sudah saatnya aku hijrah sebagai seorang wanita,'' jawab Tina dengan tenang.
Ardi mengangkat bahunya dengan acuh, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Mungkin memang benar yang dikatakan oleh Tina, jika sebagai seorang wanita seharusnya memang menutup aurat.
Namun saat Ardi selesai membersihkan diri dan mengambil handuk di gantungan yang terpajang di dinding, tiba-tiba tatapannya mengarah kepada plastik yang tergantung di belakang pintu kamar mandi. Lalu tangannya terulur mengambil barang tersebut, kemudian membuka ikatannya.
__ADS_1
Seketika mata Ardi terbelalak kaget, saat melihat gulungan rambut yang begitu banyak. Lalu Ardi keluar dari kamar. Namun tidak menemukan Tina, karena sepertinya wanita itu sudah turun ke lantai bawah.
''Ini rambut siapa, ya? Apakah rambut Tina? Tapi kenapa sangat banyak?'' bingung Ardi. Kemudian dia segera mengganti bajunya lalu turun ke lantai bawah untuk sarapan.
Saat semua orang sudah berada di meja makan menyantap sarapan pagi, tiba-tiba saja seorang pelayan datang dan memberitahukan jika di ruang tamu ada tante Imelda yang datang ke sana. Mama Ranti pun tersenyum, kemudian meminta pelayan tersebut untuk mengantarkan tante Imelda ke meja makan.
''Selamat pagi Jeung Imelda,'' sapa mama Ranti sambil mencium pipi kanan dan kiri milik wanita tersebut.
''Pagi Jeung Ranti. Aduh maaf ya, saya bertamu pagi-pagi seperti ini,'' ucap tante Imelda dengan tak enak.
''Tidak apa-apa, mari ikut sarapan bareng!'' ajak mama Ranti sambil meminta tante Imelda untuk duduk di sampingnya, dan wanita itu pun mengangguk.
Setelah sarapan selesai, papa Randy menatap ke arah wanita yang baru saja datang bertamu ke rumahnya. Dia penasaran, apa gerangan yang membawa wanita itu datang pagi-pagi ke sana.
''Iya Pak, memang ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Sebenarnya, saya ke sini ingin meminta izin kepada Ardi, Pak Randy serta Jeung Ranti, untuk membawa Tina. Mungkin beberapa hari,'' jelas tante Imelda.
Semua orang mengerutkan dahinya dengan wajah kaget, saat mendengar ucapan tante Imelda. ''Memangnya, Tante akan membawa Tina ke mana?'' tanya Ardi.
''Begini, kebetulan suami saya memberikan tiket untuk liburan, tapi dia tidak bisa ikut. Jadi, bolehkah untuk seminggu ke depan saya membawa Tina liburan? Sebab saya tidak mempunyai teman sama sekali,'' jawab tante Imelda dengan tatapan memohon ke arah Ardi.
Bagas, Bunga dan juga Mentari mengerutkan keningnya saat mendengar permintaan tante Imelda, tapi melihat wanita itu sangat jujur. Bunga dan juga Mentari pun percaya, tetapi tidak dengan Bagas. Pria itu seperti melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh tante Imelda dari balik ucapannya.
Sementara Ardi melihat ke arah Tina. ''Kalau saya sih mengizinkan, terserah kepada Tinanya. Mungkin, memang dia butuh refreshing,'' jawab Ardi.
''Gimana Tina? Apakah kamu mau menemani Tante Imelda liburan?'' tanya mama Ranti.
__ADS_1
''Iya Mah, Tina mau. Mungkin, memang Tina butuh refreshing beberapa hari,'' jawab Tina sambil tersenyum.
''Lalu, rencananya kapan kalian akan berangkat?'' tanya papa Randy.
''Nanti siang jam 02.00, pesawatnya akan berangkat. Jadi saya ke sini mau membantu Tina untuk bersiap-siap,'' jawab tante Imelda.
Semua orang nampak kaget, tetapi mereka memaklumi. Apalagi dengan keadaan Tina yang baru saja dimadu, mereka pikir, mungkin Tina memang harus bepergian untuk beberapa waktu merefreshkan otaknya dan juga pikirannya yang saat ini tengah kusut.
Siapa yang menyangka, jika ternyata kepergian Tina bukanlah untuk liburan, tetapi masuk ke dalam hotel bernuansakan putih dengan berbagai alat medis dan obat-obatan. Dan selama itu pula, Tina akan berperang melawan penyakitnya dan melawan rasa sakitnya.
Saat mereka akan beranjak dari meja makan, tante Imelda mendekat ke arah Tina, kemudian dia mengusap pipi lembut wanita itu yang sudah dianggap sebagai putrinya.
''Kamu sangat cantik sayang, memakai jilbab. Bahkan tante merasa, kamu seperti bidadari yang baru saja turun dari khayangan!'' puji tante Imelda di hadapan Mentari.
Dia tahu, pernikahan Ardi dan juga Mentari bukanlah kesalahan wanita itu, tetapi tetap saja, bagi tante Imelda Mentari salah di matanya. Sebab mau saja menerima permintaan Tina untuk bersanding dengan suaminya.
Sementara Mentari yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, dia tidak merasa cemburu sama sekali karena memang Tina sangat cantik.
Setelah semua siap, mereka pun pergi dari kediaman Anjasmara untuk menuju rumah tante Imelda. Padahal Bagas menawarkan diri untuk mengantar, tetapi ditolak oleh tante Imelda dengan alasan sudah diantarkan sopir ke Bandara.
Di dalam mobil, Tina memeluk tante Imelda dan menangis tersedu-sedu. Dia sedih melihat wajah semua keluarga Anjasmara yang tersenyum ke arahnya, karena mereka berpikir Tina akan liburan dan menghabiskan waktu bersama dengan wanita yang saat ini tengah memeluk dirinya.
*B*iarkan luka ini ku tanggung sendiri. Aku akan berjuang, sampai Tuhan memang benar-benar tidak memberiku kesembuhan. batin Tina.
BERSAMBUNG......
__ADS_1