
Happy reading....
Setelah kejadian semalam, Ardi sama sekali tidak merasa bersalah dengan sikapnya kepada Tina. bahkan pria itu terang-terangan tidur di ruang kerjanya, karena dia masih kesal kepada Tina.
Jam 03.00 pagi Tina bangun, dan menunaikan shalat tahajud, karena dia tahu waktunya tidak banyak lagi. Dia ingin semakin mendekatkan diri kepada Allah, sebab Dialah pemilik raga dan jiwa miliknya.
Setelah shalat tahajud, Tina membaca beberapa baris ayat Al-qur'an sambil menitikan air mata. Dia begitu menghayati setiap huruf yang terlontar dari bibir indahnya, setelah selesai Tina mengangkat kedua tangannya ke atas.
''Ya Allah, jika memang nanti kau mengambil nyawaku. Hanya satu keinginanku, biarkan mas Ardi bahagia bersama dengan Mentari. Mudahkan jalanku untuk menyatukan mereka, ya Allah, karena semua tidak akan pernah bisa terjadi tanpa campur tanganmu. Berikan aku hati yang ikhlas jika nanti mereka bersama, berikan aku kedamaian saat mata ini tertutup nanti,'' ucap Tina sambil menangis tersedu-sedu.
Dadanya menjadi sesak saat mengingat jika waktu dia tak banyak lagi di dunia ini. Walaupun memang sejatinya setiap manusia akan kembali pada-Nya saat waktu ya di dunia sudah habis. Namun tetap saja, Tina merasakan sakit. Apalagi mengingat Ardi yang tak pernah mencintai dan menerimanya.
Dia tidak sadar, jika ada Ardi di belakangnya. Pria itu terbangun dan hendak ke kamar mandi, tapi dia tidak sengaja mendengar do'a Tina. Namun Ardi tidak perduli, dia masuk ke dalam kamar mandi dan menunaikan hajatnya.
Sebenarnya pria itu merasa bingung dengan ucapan Tina, tapi hati nuraninya telah tertutup oleh rasa kesal. Sebab dia masih berpikir, jika Tina mengadu kepada Bagas. Setelah selesai Ardi keluar dari kamar mandi, lalu dia melihat Tina sudah selesai dengan shalatnya, tapi ada yang aneh. Tina sedang mengelap sesuatu dari hidungnya, dan ardi pikir mungkin wanita itu mengelap ingus karena habis menangis.
.
.
__ADS_1
Pagi hari telah tiba, Tina sedang menyiapkan sarapan bersama dengan mama Ranti dan juga Bunga. Pipinya masih terasa begitu sakit karena tamparan Ardi semalam yang cukup keras dan sedikit bengkak, itu kenapa Tina menutupnya dengan make-up agar tidak terlihat.
Saat sarapan sudah siap, mama Ranti pergi ke kamar untuk memanggil suaminya, dan di sana hanya ada Bunga dan beberapa pelayan. Tina merasa dia harus berbicara kepada sahabatnya untuk menanyakan perihal ucapan Ardi semalam.
''Bunga, aku ingin berbicara sesuatu kepadamu,'' bisik Tina. Karena dia tidak ingin pelayan mendengarnya.
''Iya, mau bicara apa?'' jawab Bunga sambil melirik ke arah Tina.
''Apa kamu ada membicarakan soal ucapan kita kepada Bagas? Maksudku, tentang masalah rumah tanggaku bersama dengan Ardi?'' tanya Tina sambil menatap Bunga dengan tatapan yang begitu dalam.
Bunga mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan dari Tina, dia sama sekali tidak merasa berbicara apapun kepada Bagas..Sebab Bunga bukanlah wanita yang ingkar janji, dan dia tidak pernah membicarakan masalah rumah tangga mereka kepada suaminya.
''Semalam mas Ardi marah sama aku, katanya aku ada ngadu sama Bagas soal rumah tangga kita. Padahal 'kan aku hanya berbicara sama kamu saja, tidak ada yang lain. Bahkan mama dan papa pun tidak ada yang tahu. Aku pikir, kamu ada bicara sama Bagas?'' ujar Tina sambil menata makanan di atas meja.
Bunga segera menggelengkan kepalanya. ''Tidak! Aku tidak bicara apapun kepada mas Bagas. Aneh, apa mas Bagas mendengar ucapan kita ya?'' gumam Bunga sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
Tina mengangkat kedua bahunya dengan acuh, dia begitu pusing memikirkan semuanya. Tak lama semua orang datang ke meja makan termasuk juga Ardi, lalu mereka pun sarapan.
.
__ADS_1
.
''Sayang, ingat! Nanti Mama akan jemput kamu ya. Mbak, tolong jaga Luke ya!'' ujar Tina pada baby-sitter yang menjaga putranya.
''Iya Bu, saya akan menjaga Den Luke,'' jawa baby-sitter itu.
Setelah mengantarkan Luke ke sekolah, Mentari pun pergi ke restoran, tetapi sepanjang jalan dia masih kepikiran dengan ucapan Tina. Bagaimana mungkin bisa Ardi tidak mengetahui tentang penyakit wanita itu, padahal mereka sudah bersama selama lima tahun.
Sebagai seorang perempuan, tentu saja Mentari merasa kasihan kepada Tina. Dia bisa merasakan bagaimana berada di posisi Tina, sebagai seorang istri yang tidak pernah dianggap oleh suaminya, bahkan sekarang wanita itu mengidap penyakit yang berbahaya.
''Kak Ardi benar-benar keterlaluan! Seharusnya dia tidak memperlakukan mbak Tina seperti itu? Walau bagaimanapun, mbak Tina juga 'kan istri dia. Ya Allah kenapa kau menempatkan aku di hati kak Ardi begitu dalam?'' gumam Tina yang merasa bersalah.
Sebelum ke restoran, dia ke supermarket terlebih dahulu, karena ada yang ingin dibeli olehnya untuk persiapan di rumah. Namun saat Mentari akan membayar ke kasir, tiba-tiba saja bahunya ditepuk oleh seseorang. Dan saat wanita itu membalik badannya, kedua matanya membulat kaget saat melihat wanita yang saat ini tengah tersenyum dan berdiri di sampingnya.
''Mentari, kamu apa kabar?'' tanya wanita itu. ''Wah ... kamu benar-benar sangat cantik sekarang, tante sampai pangling,'' sambungnya lagi.
Mentari diam, dia tidak menyangka jika di sana bertemu dengan wanita yang berada di hadapannya saat ini. Dia benar-benar tidak tahu apa yang takdir sedang rencanakan untuknya. Padahal Mentari sudah berusaha untuk menghindar dari mereka, tapi kenapa seakan takdir mendekatkannya kepada mereka.
...Bersambung..........
__ADS_1
Kira kira siapa ya wanita itu?🤔