Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Bunga Pulang


__ADS_3

Happy Ready .....


Tina pulang dengan luka di hati yang begitu dalam. Sekuat apapun dia mencoba menerima kenyataan, tetapi tetap saja hatinya begitu rapuh. Dengan langkah gontai Tina masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, dia merasa aneh sebab di dalam sangat ramai.


Saat Tina memasuki ruang tamu, di sana sudah ada mama Ranti dan juga Bunga serta keluarga besar Anjasmara. Wanita itu tentu saja sangat kaget, dia pikir Bunga tidak akan pulang ke Jakarta.


Bunga!'' kaget Tina.


Bunga menengok ke arah samping dan dia langsung beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Tina dan memeluk tubuh sahabatnya dengan erat. ''Ya ampun Tin, lo apa kabar? Senang banget rasanya gue bisa ketemu lo, lagi?'' tanya Bunga saat pelukannya terlepas.


Melihat Bunga yang ada di hadapannya, ingin sekali Tina menumpahkan rasa sesak yang saat ini tengah mendera di hati. Akan tetapi tidak bisa, karena di sana ada mama Ranti papa Randy dan juga Bagas.


''Alhamdulillah aku baik. Kamu apa kabar?'' tanya Tina mencoba untuk tersenyum.


''Alhamdulillah, aku juga baik Bunga.'' Namun kedua netra indah milik wanita itu terus saja menatap lekat ke arah Tina, dan itu membuatnya tidak nyaman.


Setelah menyapa Bunga, Bagas dan juga mama Ranti. Tina pun pamit ke kamar untuk beristirahat, karena kepalanya terasa pusing. Dia tidak mau jika nantinya darah kembali mengalir di hidung, sehingga membuat mama Ranti dan juga Bunga mengetahui penyakitnya.


Bunga terus aja memperhatikan Tina, sampai wanita itu menaiki anak tangga. Entah kenapa, dia merasa sahabatnya itu tengah menyembunyikan sesuatu. Karena walau bagaimanapun, Bunga sudah mengenal Tina luar dalam, jadi dia sudah tahu sifat dan juga karakternya seperti apa.

__ADS_1


Kenapa Tina bersedih, ya? Seperti ada yang dia sembunyikan.


Bunga menitipkan putranya kepada Bagas dan juga mama Ranti, sedangkan Aurora sudah tidur di kamarnya. Dia berjalan menaiki tangga menuju kamar Tina.


Entah kenapa Bunga yakin, Tina seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang besar dan kesedihan yang begitu dalam. Karena jika dilihat secara seksama dan dengan naluri, maka itu sangat terlihat jelas di kedua netra milik Tina. Namun wanita itu selalu mengalihkan pandangan, karena tahu jika mata itu tidak bisa berbohong untuk mengungkapkan sebuah perasaan.


Seperti pepatah. Mata mewakilkan sebuah rasa di dalam diri. Sehingga siapapun itu, dan bagaimana perasaannya, maka tidak akan bisa berbohong lewat mata. Jika ingin melihat kejujuran dan kebohongan serta kesedihan, maka tataplah matanya.


Setelah mengetuk pintu, Bunga masuk ke dalam dan dia melihat Tina sedang menyandarkan tubuhnya di atas ranjang. Wanita itu pun mendekat ke arah sahabatnya lalu duduk di samping Tina.


''Bunga, ada apa?'' tanya Tina saat Bunga duduk di sampingnya.


Bunga diam tidak menjawab pertanyaan Tina, dia melihat wajah sahabatnya begitu pucat, dan Tina yang diperhatikan seperti itu pun menjadi salah tingkah. Dia tahu jika Bunga tengah mencium sesuatu dari dirinya, karena walau bagaimanapun Tina tidak akan bisa membohongi Bunga. Dia tahu sahabatnya itu sangat peka.


Mendengar pertanyaan Bunga, Tina tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia langsung menghambur memeluk tubuh sahabatnya dan menangis tersedu-sedu. Rasa sesak yang selama ini dihilangkan oleh Tina, nyatanya tidak bisa. Air matanya tumpah membasahi pipi, bahkan membasahi baju Bunga.


Melihat sahabatnya menangis, Bunga hanya bisa mengusap punggung Tina. Hingga beberapa saat, wanita itu mengendurkan pelukannya, lalu dengan cepat Bunga mengambil tisu di arah samping tempat tidur dan mengusap air mata Tina.


''Jika kamu ada masalah, kenapa tidak berbicara kepadaku? Aku ini sahabatmu, bukan? Kita ini sudah seperti saudara. Kita bagaikan pohon pinang yang dibelah dua. Aku dapat merasakan kesedihanmu, dan kamu pun begitu. Lalu, apa yang kamu sembunyikan dariku?'' Bunga berkata sambil menggenggam kedua tangan Tina.

__ADS_1


Mendengar ucapan Bunga, Tina hanya diam saja. Dia bingung harus memulai dari mana, sebab jika dia ungkapkan semuanya, tentu saja itu akan membuka luka yang semakin menganga lebar. Wanita itu hanya bisa menangis dan menitikan air mata, mewakili rasa sesak dan sakit di dalam dadanya.


''Apakah rumah tanggamu bersama dengan kak Ardi, tidak baik-baik saja? Iya 'kan?'' tebak Bunga. Entah kenapa dia merasa bahwa rumah tangga sahabatnya memang sedang dalam masalah.


Bunga memang mengetahui dari awal, jika Ardi mencintai wanita lain, begitupun dengan Tina yang sangat mencintai Riko. Namun takdir malah memisahkan mereka dengan cintanya, dan dipersatukan dalam sebuah pernikahan yang paksa karena sebuah wasiat.


Akan tetapi, sudah lama menunggu Tina masih saja terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan Bunga, dan itu semakin membuat Bunga yakin, jika memang ada masalah di dalam rumah tangga sahabatnya.


''Tina, kita ini sudah seperti saudara, bukan? Lalu, apa yang masih kamu sembunyikan dariku? Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu? Ayolah, bagi sedikit bebanmu kepadaku! Agar kita bisa sama-sama melewatinya.''


Bunga terus saja membujuk Tina, hingga wanita itu kembali menangis sambil menundukkan kepalanya. Kemudian dia menatap ke arah Bunga dengan air mata yang sudah berlinang membasahi pipi.


''Kamu benar, ada masalah antara aku dan juga mas Ardi. Aku bingung, harus memulainya dari mana? Aku harus bagaimana dan harus seperti apa? Kenapa Tuhan menakdirkan hidupku seperti ini? Kenapa tidak ada kebahagiaan yang datang, kepadaku? Kenapa?'' Tina berkata dengan ada yang frustasi.


Bunga yang melihat sahabatnya begitu tertekan, kemudian kembali membawa Tina dalam pelukan. Dia tahu wanita itu tengah menyimpan luka yang begitu dalam. Dapat Bunga lihat dari kedua mata yang dipenuhi oleh luka di dalamnya, bahkan dari air mata Tina saja sudah mewakilkan semuanya.


Dia tidak menyangka, gadis seceria Tina bisa menangis dan juga terluka. Biasanya wanita itu yang akan selalu menghibur dirinya di kala sedih, dikala dia sedang terluka. Namun ternyata, senyuman juga bisa hilang dari Tina. Bahkan wanita itu hanya bisa menampilkan sebuah senyum palsu di hadapan semua orang untuk menutupi sebuah luka.


''Ceritakan kepadaku, apa yang mengganjal di dalam hati dan juga pikiranmu! Aku akan dengan senang hati mendengarkannya. Bagilah bebanmu denganku, wahai sahabat dan saudaraku! Karena jika kamu memikulnya sendiri, akan terasa begitu berat, tetapi jika kamu membaginya kepadaku, maka beban itu terasa ringan. Karena kita bisa memikulnya berdua,'' ujar Bunga sambil menghapus air mata Tina.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


Jangan lupa donk kasih Vote sama bunga mawarnya😎Biar Tina semangat Up nih💪🏻💪🏻Tina udah usahakan loh, Up 3/4 bab sehari😁


__ADS_2