Suamimu, Ayah Dari Anaku

Suamimu, Ayah Dari Anaku
Jujur Pada Bunga


__ADS_3

Happy reading.......


Setelah kepergian Bagas dari kantornya, Ardi duduk kembali di kursi kebesarannya. Dadanya masih bergemuruh kesal terhadap Tina. Dia yakin, wanita itu telah mengadu yang tidak-tidak kepada kakaknya, sehingga pria itu marah dan menghajar dirinya.


Sementara Tina baru saja sampai di rumah, dia begitu lelah, kepalanya juga terasa pusing. Dengan langkah gontai, Tina masuk ke dalam kamar dan langsung bersender di ranjang, tapi kepalanya terasa semakin sakit. Kemudian dia mengambil obat yang ada di laci dan meminumnya.


Namun lagi-lagi darah kembali keluar dari hidung milik Tina, hingga wanita itu kembali mengusapnya dengan tisu. Dia tidak sadar jika ada seseorang yang tengah menatapnya dengan kaget.


''Tina, kenapa kamu berdarah?'' tanya Bunga.


Wanita itu kaget saat melihat sahabatnya berada di pintu kamar, dia tidak menyangka jika Bunga ada di sana. Tina baru sadar jika tadi dia tidak menutup pintu dengan rapat, apalagi saat ini Bunga sudah melihatnya sedang terluka.


Memang Bunga tadi melihat Tina masuk ke dalam kamar, dan dia ingin sekali menanyakan soal pertemuannya dengan Mentari. Sebab Arjuna juga sudah tidur, tapi saat Bunga masuk ke dalam dan membuka pintunya dia tidak sengaja melihat Tina sedang mengusap darah yang mengalir dari hidung.


Wanita itu berjalan mendekat ke arah Tina, lalu duduk di sampingnya. ''Jawab aku! Kamu kenapa, kok hidungnya berdarah? Kamu sakit?'' Bunga memberondong Tina dengan berbagai pertanyaan.


Dia sangat khawatir saat melihat sahabatnya terluka, tetapi Tina segera menggeleng. Dia tidak ingin mengatakan penyakitnya kepada Bunga, karena pasti wanita itu akan sangat cemas.


''Tidak! Mungkin hanya kelelahan saja,'' bohong Tina, tetapi Bunga tidak bisa untuk dibohongi, dia tidak bodoh.


''Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, Tina! Kau tentu tahu, aku ini tidak mudah dibohongi. Tatap mataku! Katakan dengan jujur, apa kau sedang sakit?'' Bunga mendesak Tina agar berbicara jujur kepadanya.


Namun Tina tidak berani menatap mata Bunga. Bukan dia takut, hanya saja, setiap kali bertatapan dengan sahabatnya, Tina pasti tidak akan pernah sanggup menahan air matanya. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan, tetapi Bunga semakin mendesak dirinya untuk jujur.


''Jika kau tidak mau jujur kepadaku, maka aku tidak akan pernah berbicara kepadamu lagi, Tina!'' ancam Bunga sambil beranjak dari duduknya dan hendak pergi keluar dari kamar.

__ADS_1


Namun tangannya ditahan oleh Tina. Wanita itu tersenyum tipis, karena dia sangat yakin Tina tidak akan pernah sanggup jika dirinya mendiamkannya. Sebab mereka sudah bagaikan saudara, adik dan kakak, tidak terpisahkan sama sekali. Kemudian Bunga duduk di samping Tina, lalu menggenggam tangan wanita itu dan menatap matanya.


''Tin, aku mohon, jujurlah kepadaku,'' ujar Bunga.


Tina menghela napasnya, kemudian dia menatap Bunga. Dan benar saja, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Wanita itu menangis, lebih tepatnya menangis sih hidupnya yang begitu pahit.


Kemudian Tina menceritakan tentang penyakitnya kepada Bunga. Walaupun dia tahu pasti wanita itu akan sangat khawatir dan kaget saat mendengar yang sebenarnya.


''Kamu benar, Bunga. Aku sedang sakit,'' jawab Tina dengan jujur.


''Sakit apa, Tin? Penyakitmu nggak parah, 'kan?'' tanya Bunga.


''Dua bulan yang lalu, Dokter memvonis diriku mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Aku tidak mempunyai banyak waktu lagi, Bunga,'' jelas Tina dengan kepala menunduk.


Bunga tentu saja sangat syok mendengarnya, bahkan genggaman tangan wanita itu terlepas, dan kedua tangan Bunga menutup mulut dengan tatapan tidak percaya. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, membantah kenyataan yang baru saja dia dengar dari sahabatnya.


Tina menggelengkan kepalanya. ''Tidak Bunga! Aku sedang tidak bercanda. Yang kukatakan adalah kejujuran yang sebenarnya. Itu kenapa, aku ingin mempersatukan Mentari dan juga mas Ardi. Sebab aku tahu, waktuku tidak banyak, dan hanya Mentarilah yang bisa menjaga mas Ardi dan membahagiakannya,'' jelas Tina.


Tanpa mengatakan apapun, Bunga langsung memeluk tubuh sahabatnya. Dia menangis tersedu-sedu sambil menggelengkan kepalanya. Rasanya begitu sesak di dada Bunga, saat mendengar kenyataan yang begitu pahit. Dia tidak menyangka, hidup Tina bisa semenderita itu, bahkan selama ini wanita itu tidak pernah berbicara kepadanya mengenai penyakitnya.


Bunga merasa bodoh, sebab sebagai seorang sahabat dia tidak mengetahui apapun tentang Tina. Wanita itu begitu pandai menyimpan perasaannya, begitu pandai menyimpan penyakitnya dari semua orang, dan tentu saja Bunga merasakan sakit yang teramat sangat.


''Lalu, Ardi tahu tidak masalah ini? Jangan bilang, kamu tidak memberitahu Ardi, mama dan juga Papa?'' tebak Bunga saat dia melepaskan pelukannya.


Tina mengangguk. ''Iya, aku tidak memberitahu mas Ardi, mamah dan juga papa. Untuk apa? Aku tidak ingin membuat mereka sedih dan terpukul. Biarlah aku menjalaninya seperti ini adanya, dan biar waktu bergulir seiring mata terpejam untuk terakhir kalinya,'' jawab Tina dengan suara yang tersendat-sendat.

__ADS_1


''Dasar bodoh! Seharusnya kau memberitahu aku tentang hal ini. Kau anggap aku apa, Tina? Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar ini, dariku? Kenapa kau juga tidak memberitahu Ardi? Setidaknya dia harus tahu, sebab dia suamimu.'' Bunga berkata dengan suara yang serak, bahkan hampir tidak terdengar.


Dia tidak habis pikir dengan Tina. Bagaimana mungkin bisa wanita itu tidak memberitahukan tentang penyakitnya kepada semua orang, apalagi kepada dirinyam. Terlebih Tina harus memendamnya sendiri dengan perasaan yang entah Bunga pun mungkin sulit untuk menjabarkannya.


.


.


Malam hari telah tiba, Ardi pulang dengan sorot mata yang begitu tajam. Dia masuk ke dalam rumah dan ingin segera bertemu dengan Tina. Pria itu menuju ke kamarnya, dan saat dia sampai di sana Ardi melihat jika istrinya sedang duduk di depan meja rias.


Dengan kasar Ardi menarik tangan Tina, lalu menamparnya dengan keras, hingga membuat Tina terhuyung ke samping. Untung saja ada meja, jadi dia berpegangan dan tidak jatuh ke lantai.


''Mas, kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu nampar aku?'' tanya Tina dengan kaget, saat Ardi tiba-tiba saja datang dan menampar dirinya.


''Kamu yang apa-apaan? Kenapa kamu ngadu sama kak Bagas, hah, soal hubungan kita? Masalah rumah tangga kita. Sudah kubilang beberapa kali, bukan? Jangan pernah membicarakan tentang masalah masalah antara kita kepada siapapun!'' bentak Ardi sambil menunjuk wajah Tina dengan tatapan geram.


Wanita itu menggeleng dengan cepat. ''Tidak Mas! Aku tidak pernah membicarakan apapun kepada kak Bagas. Bahkan, sepulangnya dia ke sini pun kami tidak ngobrol sama sekali.'' bantah Tina, karena memang dia tidak merasa mengadu apapun kepada Bagas.


''Mungkin saja, memang kamu tidak mengadu apapun kepada kak Bagas, tapi kamu berbicara 'kan kepada Bunga? Sudah pasti sahabatmu itu berbicara kepada suaminya.''


Setelah mengatakan itu, Ardi meninggalkan Tina dan masuk ke dalam kamar mandi, kemudian dia membanting pintu itu dengan keras, hingga membuat Tina terjingkat kaget. Tubuh wanita itu merosot ke lantai sambil memegangi pipinya yang terasa sakit, tetapi hatinya jauh lebih sakit.


Kenapa kamu begitu jahat kepadaku, Mas? Bahkan aku ingin menyatukan dirimu dengan Mentari, tapi kamu malah menamparku dan tidak mau mendengarkan penjelasanku? Ya Tuhan, **r**asanya aku sudah tidak sanggup lagi. Ambil saja nyawaku, Tuhan! Ambil! teriak Tina dalam hati.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


Tisue mana tisue?😭😭Othor beneran mewek ini, smpe selimut aja jadi korban buat lap inguus😭🤣


__ADS_2