
Happy reading......
''Kak, Yoga!" kaget Mentari.
Pria itu tersenyum ke arah Mentari, lalu mengulurkan tangannya. ''Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu,'' ucap Yoga.
Mentari menjawab uluran pria tampan itu
''Alhamdulillah Kak, kabar aku baik,'' jawab Mentari sambil tersenyum ke arah Yoga.
Tatapan Yoga beralih pada Mama Ranti, kemudian dia memberikan kartu namanya kepada Mentari dan meminta wanita itu untuk menghubunginya. Tentu saja Mentari menerimanya dengan senang hati, setelah itu Yoga pergi dari sana.
Sebenarnya pria itu masih ingin berbicara dengan Mentari, melepaskan rindu yang sudah lama dia pendam. Karena semenjak kepergiannya dari Pemalang, pria itu tidak lagi bertemu dengan Mentari. Bahkan ponselnya rusak, sebab jatuh ke laut saat dia menaiki kapal pesiar hingga menyebabkan lost contact.
Yoga memang mempunyai perasaan kepada Mentari, sejak pertemuannya pertama kali di Pemalang. Walaupun dia tahu jika wanita itu mempunyai anak, tetapi kedekatannya bersama dengan Mentari membuat Yoga benar-benar menyayangi Luke dan menganggapnya sebagai putranya sendiri.
''Tadi itu siapa, Mentari?'' tanya mama Ranti sambil menatap Mentari dengan tatapan menyipit.
''Itu kak Yoga. Dia yang selama ini membantu Mentari, Tante, saat Mentari kesusahan,'' jawab Mentari sambil tersenyum ke arah mama Ranti.
Akan tetapi, mama Ranti paham pria itu menyukai Mentari. Sebab dapat dilihat dari tatapan mata pria tersebut, karena walau bagaimanapun mama Ranti sudah sangat paham mana tatapan teman dan mana tatapan suka.
''Maaf Tante, tadi obrolan kita sampai mana, ya?'' tanya Mentari memastikan. Karena dia lupa sampai mana obrolan mereka berlangsung.
''Tadi kamu bilang, kamu sebenarnya tidak. Tidak apa?'' tanya mama Ranti.
__ADS_1
Mentari terdiam, mencoba mengingat terakhir kali dia berkata apa. Dan setelah beberapa saat, wanita itu mulai mengingat perkataannya, lalu dia menghembuskan napasnya dengan pelan. Entah kenapa, semenjak pertemuannya dengan Ardi, dia merasa beban hidupnya sangat berat.
Padahal selama ini Mentari sudah hidup tenang, nyaman dan juga bahagia bersama dengan Luke, tanpa memikirkan Ardi. Walaupun sesekali wanita itu teringat pada cinta pertamanya, tapi Tuhan ternyata berkata lain dengan jalan takdirnya.
''Sebenarnya, aku tidak ingin masuk ke dalam rumah tangga kak Ardi dan juga mbak Tina. Aku merasa seperti sebuah duri dalam kehidupan mereka. Sebab sebentar lagi, aku akan menjadi orang ketiga. Siapa yang mau Tante? Tidak pernah ada yang mau menjadi istri kedua, apalagi dengan kondisi mbak Tina, yang ...'' Mentari menghentikan ucapannya. Dia merutuki dirinya sendiri, karena hampir saja keceplosan.
Mama Ranti mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Mentari yang sempat terhenti. Wanita itu menatap dengan tatapan menyelidik ke arah wanita yang berada di hadapannya.
''Kondisi Tina, yang bagaimana, yang kamu maksud?'' tanya Mama Ranti dengan tatapan mengintimidasi.
Aduh Mentari, hampir saja keceplosan. Kamu 'kan sudah janji sama mbak Tina, kalau gak akan kasih tau soal penyakitnya. batin Mentari.
Sebenarnya Mentari sangat ingin membongkar penyakit Tina di hadapan mertuanya. Karena mungkin saja, itu bisa membantu dia lepas dari jeratan keluarga Anjasmara, tapi tetap saja, wanita itu sudah berjanji kepada Tina untuk tidak mengatakan apapun soal penyakitnya.
''Maksud aku, kondisi mbak Tina yang saat ini ...'' Lagi-lagi ucapan Mentari terhenti saat dering ponsel milik mama Ranti berbunyi.
Kemudian mama Ranti mulai mengangkat telepon tersebut, dan ternyata itu dari suaminya yang memintanya segera pulang. Mau tidak mau, mama Ranti pun harus mengakhiri pembicaraannya bersama dengan Mentari. Padahal masih banyak yang ingin dia tanyakan kepada wanita itu, apalagi soal ucapan Mentari tentang kondisi Tina.
''Sepertinya obrolan kita harus terhenti dulu, Mentari. Soalnya suami tante meminta agar cepat pulang, tapi satu hal, Mentari. Pernikahan kamu dan Ardi akan dipercepat! Mungkin saja bulan depan pernikahan kalian akan dilaksanakan. Namun hanya acara akad saja, sebab semua orang juga tahu Ardi sudah menikah,'' jelas mama Ranti.
Mentari mengangguk, kemudian dia mencium tangan wanita paruh baya tersebut. Setelah kepergian Mama Ranti dari sanax Mentari menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia menghela napas dengan dalam, mencoba membuang semua beban yang terasa begitu menyesakkan di dalam dada.
.
.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Tina saat ini sedang meminum obat dari Dokter, sebab akhir-akhir ini kepalanya terasa begitu sakit. Wanita itu ingat, jika besok dia harus melakukan kemoterapi ke Rumah Sakit.
Saat dia duduk di tepi ranjang, Tina mengambil foto yang selalu tersimpan di laci, yaitu foto dirinya bersama dengan Riko. Air matanya kembali lolos, dia begitu merindukan sosok lembut dan harmonis yang selalu membuatnya tertawa, seperti apa yang selalu Riko lakukan kepadanya.
Seketika ponselnya berdenting, dan sebuah pesan masuk dari Sherly yang memintanya untuk datang ke sebuah tempat, di mana saat ini dia dan juga pacarnya sedang makan siang.
Tina pun menyanggupi untuk datang ke sana, sebab dia rasa, tubuh dan juga otaknya perlu refreshing. Kemudian wanita itu mengambil tas dan bersiap-siap untuk pergi keluar. Sesampainya di pintu kamar, dia berpapasan dengan Bunga.
''Mau ke mana? Tumben lo udah rapi aja?'' tanya Bunga.
''Itu, gue mau ketemu sama Sherly. Dia ngajakin gue untuk makan-makan. Lo mau ikut, gak?'' jawab Tina.
''Nggak deh! Si Arjuna lagi rewel nih. Lagi pula, nanti sore gue mau nganterin mas Bagas ke Bandara 'kan,'' jelas bunga
Tina mengangguk paham, kemudian dia pergi meninggalkan kediaman Anjasmara mengendarai mobilnya. Walaupun kepalanya terasa sedikit sakit, tapi Tina rasa jika lama-lama di dalam rumah, akan membuatnya malah semakin memikirkan luka yang berada dalam hatinya.
Saat sampai di Cafe, wanita itu langsung masuk ke dalam di mana meja yang Sherly tempati berada. Dan saat sampai di sana, Tina melihat ada tiga orang yang sedang duduk. Sherlyx pacarnya dan satu orang pria lagi yang membelakanginya.
''Sorry ya, gue lama,'' ucap Tina.
''Ngggak papa lagi, santai aja. Oh ya kenalin, ini sepupu pacar gue yang baru datang dari Thailand,'' ujar Sherly sambil menunjuk pria yang ada di hadapannya.
Pria itu berdiri dan menghadap ke arah Tina. Namun seketika tubuh Tina mematung dengan mata membulat, saat melihat pria yang berada di hadapannya saat ini. Jantungnya berdetak dengan kencang, bahkan air matanya sudah mengembun di kedua pelupuk mata indahnya.
BERSAMBUNG......
__ADS_1
Maaf hari ini agak telat up ya. Soalnya othor lagi kerja bakti🙏🏻😁Tapi tetep up 3 bab Kok😘Supaya othor oleng up 4 bab. Kasih vote nya donk sama kopi, biar melek nih mata😎