
Happy reading....
Sudah tiga hari Tina berada di rumah sakit, dan Cahaya selalu datang bersama dengan tante Imelda, tetapi tidak ada perubahan apapun. Tina masih setia dalam tidur nyenyaknya.
Sementara itu, Raka masih setia menunggu Tina di sana. Dia tidak meninggalkan wanita itu, walau satu menit pun. Bahkan kerjaan Raka dibawa ke sana, karena dia tidak ingin meninggalkan calon istrinya.
Akan tetapi, di sisi lain Ardi baru saja sampai di rumah. Seharusnya dia masih pulang satu minggu lagi, tetapi Ardi sengaja pulang lebih cepat, karena dia tidak ingin berlama-lama dengan Sasa.
Mentari yang sedang menyiram tanaman sangat kaget saat melihat kedatangan suaminya. Dia pikir, Ardi masih lama berada di luar kota.
''Assalamualaikum,'' ucap Ardi.
''Waalaikumsalam. Mas Ardi, ku pikir kamu satu minggu lagi baru pulang? Memangnya, kerjanya sudah selesai?'' tanya Mentari sambil mencium tangan Ardi.
Tanpa menjawab pertanyaan Mentari, Andi langsung memeluk tubuh wanita itu. Dia benar-benar merasa bersalah telah menghianati Mentari untuk kedua kalinya, tetapi kali ini Ardi benar-benar tidak sadar apa yang telah dilakukannya malam itu kepada Sasa.
Mentari merasa heran saat melihat Ardi hanya diam saja, tetapi dia berpikir, mungkin saja Ardi sangat merindukannya.
''Mas, masuk dulu yuk! Aku buatin kamu minum!'' ajak Mentari.
Ardi mengangguk, kemudian dia mengikuti istrinya masuk ke dalam rumah. Setelah itu duduk di ruang tamu, sementara Mentari membuatkan minum untuk suaminya.
''Ini Mas minumnya,'' ujar Mentari sambil menaruh gelas di hadapan Ardi.
Namun, ada yang aneh dari pria itu. Dia terus saja melamun, dan itu membuat Mentari merasa heran. Kemudian dia menggenggam tangan Ardi, sehingga Ardi tersentak kaget dan langsung menatap ke arah Mentari.
''Mas, kamu kenapa?'' tanya Mentari.
''Nggak papa kok, sayang. Aku cuma merindukan kalian aja. Gimana kabar anak aku? Kamu baik-baik aja 'kan sayang di dalam perut Mama? Gak nakal 'kan saat Papa pergi?'' tanya Ardi sambil mengusap perut Mentari dan menempelkan telinganya di sana.
__ADS_1
Akan tetapi, insting seorang wanita itu sangatlah kuat. Apalagi seorang istri yang sudah menyatu batinnya bersama dengan suaminya. Dia yakin, jika ada sesuatu yang ditutupi oleh Ardi. Karena itu sangat terlihat jelas dari kedua mata tegas milik pria itu.
*A*pa yang disembunyikan Mas Ardi dariku? Sepertinya ada sesuatu hal yang besar, yang tengah dia tutupi? batin Mentari.
.
.
''Assalamualaikum,'' ucap tante Imelda sambil masuk ke dalam ruang rawat inap, di mana saat ini Tina tengah dirawat.
''Waalaikumsalam, eh Mama, Cahaya,'' jawab Raka dengan wajah yang senang. Kemudian dia beralih menggendong Cahaya.
''Halo anak Papa yang cantik. Udah mandi ya? Ya ampun, wangi banget. Papa malah belum mandi, bau ketek nih,'' ucap Raka sambil mencubit gemas pipi Cahaya.
''Pa-pa, Pa-pa,'' ucap Cahaya dengan nada yang cadel.
Satu-satunya yang membuat Raka tersenyum selain Tina adalah Cahaya. Di saat dia sedang bersedih melihat kekasihnya tengah terbaring lemah tak berdaya di ranjang pasien, Cahaya datang sebagai sinar yang terang, di saat hatinya sedang gundah gulana.
Raka pun menaruh Cahaya di samping tempat tidur Tina, kemudian bayi itu memegang tangan Tina dan memainkan jari-jarinya.
''Lihatlah sayang! Apa kamu tidak kangen kepada Cahaya? Katanya kamu ingin mempunyai anak? Lalu, sekarang Cahaya sudah ada di sini, dan dia membutuhkan kamu. Bagaimana mungkin seorang ibu tega meninggalkan putrinya? Apakah kamu tidak ingin bangun dari tidur?'' tanya Raka dengan nada yang sendu.
Sungguh suatu keajaiban, tangan Tina yang dipegang oleh Cahaya seketika bergerak. Dia seperti merespon apa yang dikatakan Raka kepadanya.
Sementara itu, di alam mimpi, Tina sedang berada di taman bersama dengan Riko. Mereka sedang duduk berdua menaiki ayunan dan di tengah-tengahnya ada seorang anak kecil yang sedang memegang tangannya dan juga tangan Riko.
Namun, seketika Riko bangkit dari duduk dan mulai menjauh dari Tina. ''Loh Mas, kamu mau ke mana?'' tanya Tina saat melihat Riko berjalan menjauhinya.
''Pulanglah sayang! Waktu kamu sudah habis di sini, dan mereka membutuhkanmu. Aku akan selalu ada di hatimu. Dan Raka mewakili aku untuk menjagamu,'' ucap Riko sambil tersenyum bahagia ke arah Tina dengan wajah yang berbinar.
__ADS_1
Tina menggelengkan kepalanya, kemudian dia menghampiri Riko. Namun, satu tangan Riko terulur ke depan, hingga membuat langkah Tina terhenti.
''Maafkan aku yang pernah membuat kamu masuk ke dalam jurang penderitaan, tapi itu adalah jalan takdir yang Allah tentukan. Aku mencintai kamu Tina, sangat mencintai kamu. Pulanglah, dan hidup bahagialah bersama dengan Raka! Karena aku ada di sana,'' ujar Riko.
Setelah itu, dia semakin mundur hingga sebuah cahaya yang begitu terang menyilaukan datang dari belakang tubuhnya, dan tiba-tiba saja Riko hilang dari pandangan.
''Mas Riko ... jangan tinggalin aku, Mas! Aku mau ikut sama kamu! Mas Riko!'' teriak Tina sambil menengok kanan dan kiri.
Tiba-tiba tangannya dipegang oleh seseorang.
''Mama, kita pulang yuk!'' ajak anak kecil yang berusia lima tahun.
Anak kecil itu pun menuntun Tina berjalan ke arah sebuah cahaya yang begitu menyilaukan, tetapi entah kenapa, Tina hanya menurut saja tidak bisa menolaknya.
Raka sangat bahagia saat melihat tubuh Tina merespon ucapannya. Dia kemudian memanggil mamanya dan memberitahu tentang apa yang terjadi, lalu Raka langsung memencet tombol untuk memanggil Dokter.
Tak lama Dokter dan Suster datang dan langsung memeriksa keadaan Tina. Sementara itu, Raka, Cahaya dan juga tante Imelda berdiri tak jauh dari mereka.
''Bagaimana keadaannya, Dok? Apa aku sudah ada perubahan? Tadi tangannya bergerak, Dok!'' tanya Raka dengan antusias dan harap-harap cemas
''Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya, dan saat ini keadaannya sudah stabil. Namun tetap saja, pasien masih koma. Kita masih harus bekerja keras untuk menyadarkannya,'' jawab Dokter tersebut.
Raka dan tante Imelda merasa sangat bahagia, saat mendengar kabar jika Tina sudah melewati masa kritisnya. Karena bagi mereka, itu adalah kebahagiaan yang tiada tara dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
''Alhamdulillah ya Allah, semoga engkau segera menyadarkan putriku dari tidur panjangnya,'' ucap tante Imelda sambil menangkupkan tangannya ke wajah.
''Lihat Sayang! Sebentar lagi Mama akan bangun. Kita harus terus berusaha dan berdoa, agar Mama tidak lama-lama bermimpi indahnya,'' ucap Raka sambil mencium pipi gemas Cahaya.
Raka berjanji di dalam hatinya, setelah Tina sadar, dia benar-benar akan membahagiakan wanita itu. Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan, walau hanya sedetik, sejengkal bahkan secuil pun. Raka akan memberikan seluruh hati dan jiwanya kepada Tina.
__ADS_1
'Bangunlah sayang! Agar kita bisa membangun istana kebahagiaan untuk keluarga kecil kita,' batin Raka.
Bersambung.....