
Happy reading.....
Luke melihat ke arah Amanda yang begitu frustasi, kemudian dia ingat jika kemarin gadis tersebut berhenti di sebuah penjual asongan, dan dia yakin jika wanita tua itu adalah ibunya.
"Ayo biar aku antar saja ke tempat ibumu jualan!" tawar Luke.
Amanda terbengong saat mendengar ucapan pemuda itu. "Kenapa malah bengong? Ayo!" ajak Luke.
"Tapi 'kan, di luar hujan." Amanda melihat hujan yang lumayan deras.
Luke yang melihat itu pun segera melepas jaketnya, kemudian dia memayungkannya kepada Amanda juga, sehingga jarak mereka benar-benar sangat dekat bahkan tanpa berjarak sedikitpun.
Melihat itu, Amanda semakin gugup. Jantungnya berdetak dengan kencang. Dia tidak menyangka, jika dirinya bisa sedekat Itu dengan Luke.
"Ayo kita ke mobil sekarang!" ajak Luke sambil memayungkan jaket itu ke tubuh mereka. Keduanya pun berlari ke arah mobil yang terparkir. Bahkan Amanda seperti menahan napasnya, karena berada di sisi pria yang selama ini ya kagum.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Amanda semakin deg-degan. Dia tidak menyangka, jika dirinya bisa sedekat Itu dengan Luke. Padahal selama ini pemuda tersebut terkesan sangat dingin, bahkan menjaga jarak dengan wanita. Tapi Amanda merasa jika Dewa keberuntungan tengah berpihak kepadanya.
'Ya ampun, aku mimpi apa sih bisa dekat kayak gini sama dia? Bener-bener nggak nyangka,' batin Amanda.
Mobil pun melaju meninggalkan sekolah, dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatapnya dengan amarah dan juga kekesalan.
Selama di dalam perjalanan, Amanda terus saja terdiam. Dia tidak tahu harus membuka topik pembicaraan dari mana, begitupun dengan Luke. Keduanya merasa sama-sama canggung, apalagi luke baru kali ini dekat dengan seorang perempuan.
Sesampainya di tempat di mana Ibu Amanda berjualan, gadis itu pun turun dari mobil Luke. Dan ternyata pemuda tersebut pun ikut turun. "Terima kasih ya, kamu sudah mengantarkan aku sampai sini. Maaf jika merepotkan," ucap Amanda sambil menundukkan kepalanya. Sebab dia tidak berani melihat ke arah Luke.
"Sama-sama. Emang Ibumu jualan apa?" tanya Luke.
"Oh, hanya jualan biasa aja kok. Batagor, somay sama es. Kebetulan di sini suka banyak anak-anak sekolah, karena lokasinya juga tidak jauh dari sekolahan SD," jelas Amanda.
"Amanda sayang, itu siapa Nak?" tanya ibu Tini pada putrinya.
__ADS_1
Amanda tersenyum, kemudian menghampiri sang Ibu, lalu mencium tangannya. "Ini Bu, dia temen kelasnya Amanda, namanya Luke," jawab gadis itu.
Luke pun mencium tangan ibu Tini, karena menghormati sebagai orang tua. "Saya Luke, tante. Tadi kebetulan hujan, jadi saya mengantar Amanda ke sini," jawab Luke.
"Terima kasih ya, Nak Luke. Mari duduk, biar Ibu buatkan minuman dulu! Atau Nak Luke mau mencoba batagor sama siomay nya Ibu?" tawar bu Tini.
"Boleh Bu, saya boleh mencicipi batagornya tidak?" tanya Luke, dan tentu saja bu Tini menganggukan kepalanya, lalu meminta Luke untuk duduk di sana bersama dengan Amanda.
.
.
Aurora saat ini sudah selesai mengerjakan kerja kelompoknya, dan dia berencana untuk pulang diantarkan oleh Kevin. Walaupun sebenarnya Aurora sudah menolak, dan dia ingin pulang bersama Anggi dan juga Rika, tapi kedua gadis itu beralasan bahwa mereka ada urusan yang penting. Padahal Anggi dan juga Rika hanya ingin melihat Aurora dekat dengan Kevin, mereka ingin sahabatnya itu memiliki kekasih.
"Sudah pulang saja sama aku. Lagian nggak akan diapa-apain kok, kamu akan tetap utuh tidak ada yang kurang satu pun," ledek Kevin.
Aurora yang mendengar itu pun merengut, kemudian dia mulai memakai helm dan naik ke atas motor. Tentu saja Kevin sangat bahagia, sebab dia bisa berjalan dengan Aurora.
"Lo bisa nggak sih, bawa motornya pelan-pelan, jangan ngebut!" teriak Aurora.
"Sorry, biar cepat sampai," jawab Kevin. Padahal dia sengaja melakukan itu, supaya Aurora memeluk dirinya.
Tapi bukannya membawa Aurora pulang, Kevin malah membelokkan motornya ke arah menuju sebuah taman, dan itu malah membuat Aurora bingung.
"Loh, kok kita berhenti di sini sih? Katanya mau nganterin aku pulang? Kenapa malah ke taman?" heran Aurora.
"Iya, soalnya ada yang mau bicarain sama kamu, yuk turun!" ajak Kevin.
Mau tidak mau Aurora pun turun, dan mengikuti Kevin berjalan masuk ke dalam taman dan duduk di salah satu kursi. Kevin melihat ada tukang es krim di sana, lalu pria itu pun membelikannya untuk Aurora.
"Kamu suka es krim apa?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Strawberry," jawab Aurora.
Kevin pun membelikan es krim rasa strawberry buat Aurora, setelah itu mereka pun memakannya. "Sebenarnya apa sih yang mau lo bicarain sama gue?" tanya Aurora.
"Apakah kamu ada acara nanti malam?" tanya Kevin.
"Ya ampun, pertanyaan ini lagi. Sebenarnya lo mau ngajak gue ke mana? Makan malam atau lo mau ngajak gue ke pesta?" tanya Aurora to the point tanpa mau berbasa-basi.
Sebab bukan apa, pertanyaan seperti itu sudah biasa didapatkan oleh Aurora dari berbagai pria yang mendekatinya.
"Gadis cerdas. Aku ingin mengajakmu untuk datang ke sebuah pesta keluargaku, kebetulan aku disuruh bawa temen, dan aku tidak tahu harus bawa siapa. Ya sudah, aku aja kamu aja deh. Mau 'kan?" tanya Kevin.
Aurora terdiam sambil menatap Kevin dengan heran. "Tunggu! Acara keluarga? Lah, kenapa lo ngajak gue?" bingung Aurora.
"Memangnya kenapa, kalau aku bawa temen? Karena itu adalah permintaan mamaku. Ayolah, sebenarnya aku males ke sana, sebab mama selalu saja menjodohkanku dengan anak teman-temannya. Aku malas akan hal itu," jelas Kevin.
"Jadi maksud lo, gue ini suruh jadi pacar bohongan gitu?" tebak Aurora.
"Maybe? Tapi nggak sih, sebenarnya gue cuma nggak mau aja cewek-cewek yang dijodohin sama nyokap gue itu ngedeketin terus. Soalnya risih," jawab Kevin, "Please, mau ya?" Lagi-lagi pria itu pun memohon.
Aurora terdiam, dia bingung harus memberikan keputusan apa. Tapi melihat wajah Kevin, Aurora sangat kasihan. Akhirnya dia pun menganggukan kepalanya.
"Baiklah, acaranya jam berapa?" tanya Aurora.
"Jam 19.00 malam nanti aku jemput ya. Ya sudah, kita pulang yuk! Hari juga sudah semakin sore. Nanti kamu dimarahin sama orang tuamu, aku yang kena," tutur Kevin.
Kemudian mereka pun keluar dari taman menuju motor yang terparkir, setelah itu pergi meninggalkan tempat tersebut untuk pulang ke kediaman Anjasmara.
Dan sdsampainya di sana, ternyata sudah ada Tina dan juga suaminya. Kebetulan mereka sedang silaturahmi ke kediaman Anjasmara, karena ada sesuatu hal yang ingin disampaikan oleh Tina.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1