
Happy reading.....
Mentari tersenyum, kemudian dia mencium tangan mama Ranti dan papa Randy bergantian. Setelah itu dia duduk di sofa, tak lupa Mentari juga meminta Luke untuk mencium tangan semua orang yang ada di sana.
Mama Ranti dan papa Randy serta Bagas melirik satu sama lain, saat melihat wajah Luke yang begitu mirip dengan Ardi. Entah kenapa, perasaan Bagas menjadi tidak enak, kemudian dia menatap ke arah Ardi dengan kode di matanya.
''Ya ampun, jadi tamu spesial yang kamu maksud itu adalah Mentari?'' tanya mama Ranti pada Ardi.
'' Iya Ma,'' jawab Ardi.
''Mentari, kamu apa kabar? Om senang kamu kesini, tapi ini siapa, Nak?'' tanya paoa Randy sambil melihat ke arah Luke.
''Alhamdulillah, Om, Mentari baik. Ini Luke, Om. Anak Mentari,'' jawabnya.
Papa Randy terdiam sejenak sambil melirik istrinya. Entah kenapa, mereka melihat Ardi dan Luke begitu mirip, atau hanya perasaan mereka saja. Kemudian mama Ranti mengajak semua orang untuk pergi makan malam.
Mama Ranti juga begitu perhatian pada Luke, sebab dia menginginkan seorang cucu, tapi belum kesampaian. Sebab Tina masih juga belum hamil selama lima tahun tersebut.
Hati Tina teriris sakit saat melihat perhatian mertuanya pada Luke, bagaimana tidak? Seharusnya yang sekarang di perhatikan dan di sayangi adalah putranya dan juga Ardi. Namum apa daya, bahkan dia dan Ardi belum melakukan apapun.
Tuhan, kenapa rasanya lihat Mama perhatian sama Luke begitu sakit? Bagaimana saat Mama dan Papa tahu kebenerannya, jika Luke memang cucu mereka? batin Tina.
''Mah, Pah, Kak Bagas, selesai makan nanti kita kumpul di ruang keluarga ya! Ada yang mau aku bicarakan sama kalian, penting!'' ajak Ardi
''Bicara apa, Di?'' tanya Bagas
''Nanti juga Kakak akan tahu kok,'' jawab Ardi.
Semua orang menatap heran ke arah Ardi, tapi Bagas malah menatap adiknya dengan tatapan menyelidik. Entah kenapa, dia berpikir ini ada hubungannya dengan Mentari dan Luke. Apalagi saat dia mengingat jika rumah tangga adiknya tidak mulus.
Makan malam pun selesai, kemudian mereka semua berjalan ke arah ruang keluarga. Namun saat sampai di sana, Bunga meminta Aurora mengajak main Luke di kamar bersama dengan Arjuna, di temani baby-sitternya Luke.
__ADS_1
Semua orang menatap ke arah Bunga dengan tatapan heran, apalagi Bagas. Entah kenapa, dia merasa jika istrinya mengetahui sesuatu tentang kedatangan Mentari. Sebab tidak mungkin Luke sampai harus tidak mendengar pembicaraan mereka.
''Ardi, sebenernya ada apa? Jangan bilang ini ada hubungannya dengan kedatangan Mentari?'' tanya papa Randy.
Ardi menatap ketiga orang yang ada di hadapannya. Sementara Tina memegang tangan Mentari. Dia tahu jika wanita itu sedang gugup, karena dia pun sama. Kemudian Mentari menatap ke arah Tina saat melihat senyuman wanita itu.
''Di, jawab! Ada apa?'' tanya Bagas yang sudah tidak sabar.
''Aku akan jelaskan dan jawab, tapi kalian harus mendengarkan terlebih dahulu. Setelah itu barulah kalian bisa memutuskan hak kalian,'' jawab Ardi.
Mama Ranti, papa Randi dan Bagas melirik satu sama lain. Mereka bingung dengan ucapan Ardi, kemudian mereka menganggukan kepalanya bersamaan.
Melihat itu, Ardi pun menarik napasnya dengan pelan, lalu membuangnya lewat mulut. Dia sebenarnya merasa deg-degan, sebab akan mengutarakan sebuah kebenaran yang pastinya akan membuat ketiga orang di hadapannya akan syok.
''Aku akan menikahi, Mentari,'' ucap Ardi.
''APA!'' kaget mama Ranti, papa Randy dan Bagas serempak.
''Ardi, kamu kalau ngerjain jangan begitu, Nak! Kasihan Tina,'' kekeh mama Ranti. Dia pikir Ardi sedang nge-prank mereka semua.
Akan tetapi, Bagas hanya diam saja. Dia menatap lekat ke arah sang adik. Sebeb dia melihat wajah Ardi tidak sedang bercanda.
''Kenapa kau ingin menikahinya? Kau 'kan sudah menikah dengan Tina? Apa kau tidak punya otak?'' tanya Bagas dengan tatapan tajam.
Mama Ranti memegang tangan putranya. ''Gas, Ardi cuma bercanda. Jangan di bawa serius, sayang,'' ujar mama Ranti.
Namun Bagas menggeleng. ''Tidak Ma, Pa! Ardi serius dengan ucapannya,'' jawab Bagas dengan suara dingin.
Papa Randy seketika menatap ke arah Ardi yang hanya diam saja. Entah kenapa, perasaannya menjadi tidak enak saat melihat pria itu hanya diam saja tanpa berkata apapun. Kemudian beliau menanyakan tentang ucapan Bagas.
Ardi tahu, mungkin mama dan papanya akan syok, tapi dia harus mengungapkan semuanya.
__ADS_1
''Iya Mah, Pah, yang di katakan Kak Bagas itu benar. Aku memang serius ingin menikahi Mentari,'' jelas Ardi.
''APA!'' kaget papa Randy.
Mama Ranti langsung memegang dadanya yang terasa sesak, dia begitu kaget mendengar jawaban Ardi. Sedangkan satu tangannnya menutup mulut dengan mata yang sudah berembun.
Semebtara itu, Tina menundukan kepalanya. Hatinya bagaikan di tusuk ribuan anak panah saat harus menghadapi sebuah kenyataan yang pahit. Mentari yang berada di sisi Tina mengusap tangan wanita itu, mencoba membuat Tina tegar.
Namun siapa sangka, di dalam hatinya Mentari juga amat merasa bersalah dan juga ketakutan. Dia takut, jika nanti mama Ranti, papa Randy dan juga Bagas akan membenci dirinya dan Luke.
Kemudian Ardi pun menceritakan kepada ketiga orang di hadapannya tentang masalah rumah tangganya bersama dengan Tina, bahkan tidak ada yang dia tutupi lagi. Dan tentu saja kedua orang tuanya begitu syok mendengar itu.
Mereka pikir rumah tangga Ardi dan Tina baik-baik saja selama ini. Namun ternyata mereka salah besar. Tina sangat menderita, bahkan air mata mama Ranti tak henti mengalir deras. Dia tidak bisa membayangkan ada di posisi Tina seperti apa. Lalu dia melihat ke arah menantunya, kemudian bangkit dan memeluk tubuh Tina.
''Maafkan Ardi, Nak,'' ucap mama Ranti sambil menangis.
Tina tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja. Mencoba untuk tegar.
''Lalu, kenapa kau ingin menikahinya?'' tanya Bagas.
''Aku ingin menikahi Mentari, karena Luke,'' jawab Ardi.
Dia dapat melihat sorot mata kemarahan dari Bagas dan papanya, tapi Ardi harus jujur.
''Apa hubungannya dengan Luke?'' tanya papa.
''Karena Luke ... dia ... karena Luke adalah putraku bersama dengan Mentari,'' jawab Ardi dengan lantang. Walau tadi ia sempat ragu.
''APA! Putramu!'' kaget mama Ranti, Bagas dan papa Randy.
Ardi menganggukan kepalanya, kemudian dia pun menjelaskan alasannya. Namun, saat pria itu akan membuka mulutnya untuk menjelaskan, tiba tiba saja terhenti saat satu bogeman mentah mendarat di pipinya.
__ADS_1
''Keterlaluan!'' geram Bagas.
BERSAMBUNG.......